Lah wong itu kejujuran saya, kejujuran saya itu ya sudah, orang lain tidak suka, ya gapapa, itu hal yang biasa, Mas. Orang yang tidak suka dengan karya seni, itu biasa banget, bukan sebuah persoalan untuk saya,” ujar Butet
Butet Kartaredjasa bereaksi dan bela diri atas kecaman masyarakat dengan menyatakan monolog yang disampaikan pada perayaan Bulan Bung Karno di sampaikan sesuai fakta.
Butet juga tak membantah jika pantun yang persembahkan dalam monolognya itu menyindir calon presiden (capres) Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.
Dalam pantunnya, Butet sempat menyinggung tokoh berotak ‘pandir’ lantaran menyebut banjir sebagai ‘air yang parkir’. Butet juga dalam monolognya turut menyentil soal capres tukang culik.⁰
“Ya memang seperti itu kok, itu fakta. Semua itu sumbernya fakta. mengatakan banjir air parkir siapa? ya fakta. Terus menculik, kalau memang tidak merasa menculik ya kenapa heboh gitu,” ujar Butet
Menurut Butet pantun yang dibawakannya merupakan ekspresi kejujuran. merasa senang aGanjar ” karya seni ” tu mendapat kritik.
Butet tak menolak jika pantun yang disampaikannya tidak ikut menyindir capres dari PDIP Ganjar Pranowo.
“Lah wong itu kejujuran saya, kejujuran saya itu ya sudah, orang lain tidak suka, ya gapapa, itu hal yang biasa, Mas. Orang yang tidak suka dengan karya seni, itu biasa banget, bukan sebuah persoalan untuk saya,” ujar Butet.
“Karya seni itu, saya senang kalau dikritik itu, membuktikan saya mendapat perhatian gitu loh, terima kasih. Tapi saya tak mau menjelaskan-menjelaskan lagi karya seni saya, karya seni itulah yang kemudian bicara,” sambungnya.
Sambil menegaskan jika pantun itu bukan merupakan titipan dari PDIP sebagai pihak yang mengundangnya untuk mengkritik capres di luar PDIP.
“Tidak, tidak, saya hanya diberikan kesempatan untuk naik panggung menemani, mengawal Sri Krishna itu mengawal. Saya diberi kesempatan untuk berekspresi di panggung itu, maka saya bilang saya kan membaca pantun, ya sudah. Saya menulis pantun dan saya baca, tidak ada yang mengoreksi pantun, pantun apa adanya seperti itu, apa yang ada di pikiran saya,” tegasnya.
Dalam pantunnya, Butet menyinggung pelbagai hal. Mulai dari orang Pandir, capres pilihan Joko Widodo (Jokowi) hingga capres tukang culik.
Ia menyinggung soal banjir. Menurutnya, tokoh yang menyatakan banjir sebagai ‘air markir’ berarti orang yang pandir.
“Di sini nyebutnya banjir, di sana nyebutnya air yang markir. Ya, begitulah kalau otaknya pandir,” kata Butet.
Selanjutnya Butet berujar Indonesia akan bersedih jika presiden terpilih adalah tukang culik.
Hati seluruh rakyat Indonesia pasti akan sedih, jika kelak ada presiden hobinya kok menculik,” ucapnya.
Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Ahmad Riza Patria merespons santai pantun Butet. Ia mengatakan siapapun yang menyindir Prabowo Subianto akan dibalas dengan kebaikan.
“Jadi, apapun yang mereka sampaikan menjelek-jelekkan, menghina ,menghujat, memfitnah dan lain-lain Pak Prabowo dan kami semua jajaran kader simpatisan relawan akan membalas itu semua dengan kebaikan,” kata Riza di Gelanggang Remaja Jakarta Utara, Minggu (25/6).
Sementara itu, Ketua DPP Partai NasDem Effendy Choirie alias Gus Choi menyebut pernyataan Butet tak lebih dari seorang buzzer bayaran.
“Butet itu seniman enggak usah ditanggapi, mungkin juga buzzerRp, sehingga ucapannya bau alkohol politik,” kata Gus Choi ketika dikonfirmasi, Senin (26/6).
PDIP selaku yang mengundang Butet mengaku menyayangkan hal tersebut. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menilai puisi itu kurang elok disampaikan di acara puncak Bung Karno.
“(Menyayangkan) Kalau sudah seperti itu, ya sebetulnya disampaikan di acara partai kita itu seperti itu tidak bagus lah. Tidak bagus. Kurang elok lah, kurang elok,” ujar Djarot di Political Show, Senin (26/6).
Butet akhir- akhir ini jadi perhatian publik karena pantunnya dianggap menyindir capres di luar PDIP pada acara Bulan Bung Karno, Sabtu (24/6) lalu.

























