By Dimitrios A. Karras
Pada 1925, seorang perempuan muda berusia 25 tahun di Amerika Serikat menulis sebuah disertasi doktoral yang mengubah sains selamanya. Ia bukan siapa-siapa. Bukan tokoh besar. Namanya Cecilia Payne, kelak dikenal sebagai Payne-Gaposchkin. Hari ini, hampir tak ada yang menyebutnya dalam buku-buku pelajaran sekolah, meski dunia sains modern berdiri di atas gagasannya.
Lahir di Inggris pada 1900, Cecilia Elizabeth Payne adalah anak yang tumbuh dalam keajaiban ilmu pengetahuan. Di Cambridge, ia mendalami fisika dan astronomiābidang yang nyaris tak disentuh perempuan kala itu. Tapi meski menyelesaikan studinya dengan cemerlang, universitas itu menolak memberikan gelar sarjana. Alasannya sederhana: ia seorang perempuan.
Tak menyerah, Cecilia menyeberangi Atlantik dan mendarat di Harvard College Observatory, Massachusetts, tempat yang saat itu dipimpin Edward Pickering dan kemudian Harlow Shapley. Ia mendaftarkan diri di Radcliffe Collegeāsister school Harvard khusus perempuanākarena Harvard belum menerima perempuan sebagai mahasiswa penuh. Di sanalah, ia menyusun sebuah tesis yang membuat para ilmuwan laki-laki bergidik.
Judulnya Stellar Atmospheres. Isi tesis itu mencengangkan. Cecilia menyimpulkan bahwa bintang-bintangātermasuk Matahariātersusun sebagian besar oleh hidrogen dan helium. Sebuah kesimpulan yang, kala itu, dianggap “tidak masuk akal”. Sains abad ke-20 baru belajar mengurai cahaya bintang melalui spektroskopi, dan sebagian besar ilmuwan masih mengira bintang memiliki komposisi kimia seperti Bumi.
Penasihat akademiknya, astronom ternama Henry Norris Russell, menyarankan agar ia tidak terlalu percaya diri. Ia menekan Cecilia untuk memasukkan frasa-frasa hati-hati dalam kesimpulannya. Namun, empat tahun kemudian, Russell sendiri menerbitkan makalah dengan kesimpulan serupaādan mendapat pengakuan luas sebagai pelopor teori itu. Dunia bersorak menyambut Russell. Nama Cecilia tenggelam di balik bayang-bayang akademi yang masih dikuasai patriarki.
Namun Payne bukan hanya satu tesis. Ia terus bekerja. Ia mengkaji bintang-bintang variabel, memetakan jutaan data pengamatan, dan menjadi salah satu astronom paling produktif di abad ke-20. Dalam hidupnya, ia menulis lebih dari 150 makalah ilmiah dan delapan buku. Karyanya menjadi fondasi bagi studi evolusi bintang dan struktur galaksi.
Butuh waktu tiga dekade sebelum Harvard mengakui kapasitas ilmiahnya. Pada 1956, Cecilia Payne-Gaposchkin menjadi perempuan pertama yang diangkat sebagai profesor penuh di universitas ituādan sekaligus perempuan pertama yang memimpin Departemen Astronomi Harvard. Sebuah prestasi yang datang terlambat, tapi tetap bersejarah.
Namun sejarah tetap pelit menyebut namanya. Di sekolah-sekolah, kita mengenal Isaac Newton dan Albert Einstein, tetapi nyaris tak ada yang menyebut Cecilia Payne. Seolah penemuan tentang komposisi bintang, sesuatu yang menyentuh inti pengetahuan manusia tentang alam semesta, bukan sesuatu yang layak masuk kurikulum.
Dalam wawancaranya di masa tua, Cecilia pernah berkata, “Saya selalu merasa bahwa jika saya memiliki sesuatu untuk dikatakan, saya harus mengatakannya. Jika saya punya kontribusi untuk diberikan, saya harus memberikannya. Saya tak pernah mengharapkan pengakuan.”
Tapi justru karena itulah, dunia perlu menyebut namanya lagi. Bukan untuk sekadar mengenang, tapi untuk menyeimbangkan sejarah. Untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukan monopoli jenis kelamin tertentu. Dan bahwa langit malam, dengan segala bintang yang berpendar, pernah ditulis ulang oleh seorang perempuan yang gigih, bernama Cecilia Payne-Gaposchkin.
























