RSUD Al-Ihsan kini telah tiada—bukan gedungnya, bukan pelayanannya, tapi namanya. Diganti begitu saja oleh Gubernur Dedi Mulyadi, dengan nama baru: RSUD Welas Asih. Tampaknya, tak cukup menjadi pemimpin. Ia ingin menjadi penanda.
Namun, apa yang sebenarnya ingin ditandai?
Al-Ihsan adalah nama yang lahir dari konsensus diam-diam masyarakat Jawa Barat. Ia bukan nama yang tiba-tiba muncul dari spanduk kampanye atau pidato pencitraan. Ia tumbuh dari kerja sosial yang panjang. Dari kebersamaan banyak tokoh, dari jejak birokrasi yang pernah jujur, dari semangat melayani yang pelan tapi pasti menjelma rumah sakit rujukan.
Kini, nama itu dihapus. Dihilangkan. Diganti dengan kalimat manis yang terasa seperti slogan lomba cerpen moral. Welas Asih. Barangkali maksudnya agar terdengar lembut, lokal, dan “berbudaya”. Tapi kebaikan tidak tumbuh dari kata. Ia tumbuh dari kerja. Dan sayangnya, ini bukan kerja. Ini simbolisme murahan.
Gubernur Dedi Mulyadi bisa saja berdalih bahwa nama baru itu bermakna kasih sayang. Tapi kasih tidak datang dengan menghapus sejarah. Welas asih sejati justru membiarkan artefak publik tetap tegak, sebagai penanda bahwa kekuasaan tak selalu harus diikuti jejak tangan penguasa.
Ini bukan soal sentimentalitas nama. Ini soal ingatan publik. Mengganti nama Al-Ihsan bukan sekadar memindahkan huruf pada papan gedung—ini upaya membongkar simbol yang tak dibangun oleh tangan sang gubernur, tapi kini diklaim secara halus lewat plakat baru.
Dan di sinilah ironi itu bekerja. Pemimpin yang seharusnya melayani justru mengedepankan estetika kekuasaan. Bukan memperbaiki sistem rujukan, bukan menambah dokter, bukan meningkatkan kualitas layanan, melainkan mengganti nama.
Betapa rendahnya prioritas itu, bila dibandingkan dengan masalah kesehatan di Jawa Barat yang tak kunjung rampung: antrean pasien, keterbatasan ruang rawat, defisit tenaga medis. Semua itu nyata. Tapi yang diutak-atik justru yang tak berhubungan dengan itu semua: papan nama.
Dedi Mulyadi mungkin lupa, sejarah tak akan mengingat siapa yang mengganti nama rumah sakit. Tapi sejarah akan mencatat siapa yang mengkhianati memori publik.
Dan dalam demokrasi, menghapus nama tanpa alasan yang masuk akal, adalah bentuk arogansi. Arogansi yang menyamar sebagai perhatian.
Rakyat Jawa Barat tak pernah meminta nama Al-Ihsan diganti. Yang mereka minta hanya satu: rumah sakit yang manusiawi. Dan sayangnya, hingga hari ini, itu belum terwujud—walau papan nama telah diganti dengan segala welas asih-nya.

























