Fusilatnews – Dulu, PSI dengan lantang bikin “Kebohongan Award”. Prabowo dijadikan bahan tertawaan. Mereka seakan-akan berkata: “Lihatlah, kami ini partai muda, berani, dan idealis.” Kini, beberapa tahun lewat, justru Raja Juli Antoni sudah duduk di kursi menteri pemerintahan Prabowo. Tsamara Amany pun tak lagi bicara soal idealisme, melainkan sudah akrab dengan lingkar kekuasaan.
Lalu, masuklah Kaesang Pangarep. Si anak bontot Presiden Jokowi. Baru sehari menerima KTA PSI, langsung dinobatkan jadi Ketua Umum. Kalau ini acara TV, judulnya pasti “From Zero to Hero in One Day”. Tapi sayangnya ini politik, bukan sinetron.
Politik Ala Bapak-Kanak
PSI yang dulu disebut-sebut partai anak muda, sekarang tak lebih dari partai anak bapak. Dari luar tampak segar, tapi di dalam isinya aroma nepotisme. Bayang-bayang Jokowi membungkus PSI ketat-ketat, menjadikannya sekadar perpanjangan tangan keluarga.
Ironi makin kental: partai yang dulu menyerang dinasti politik, kini justru merayakan Kaesang sebagai mahkota dinasti. Kalau Mahbub Djunaidi masih hidup, barangkali ia akan menulis begini: “Anak bontot memang biasa dimanja, tapi ini sudah kelewatan—dimanja langsung jadi ketua.”
PSI: Dari Idealisme ke Dagelan
Lihatlah perjalanan singkat mereka:
- Dulu lantang menuding Prabowo pembohong, sekarang kadernya malah jadi pejabat di pemerintahannya.
- Dulu menolak dinasti, sekarang justru menjadikan anak bontot Jokowi sebagai Ketum instan.
- Dulu bilang bawa politik baru, sekarang malah jualan politik lama dengan kemasan meme Instagram.
PSI tak ubahnya dagelan yang lupa penonton. Mereka masih mengira tampil lucu, padahal yang tertawa sebenarnya rakyat—bukan karena terhibur, melainkan karena getir.
Penutup: Lawakan yang Menjadi Tamparan
Hari ini, PSI bukan lagi simbol anak muda, melainkan simbol bagaimana partai bisa berubah jadi properti keluarga. Dari “Kebohongan Award” yang penuh satire, kini mereka sendiri layak menerima penghargaan baru: “Kebohongan Politik Award”, karena apa yang mereka ucapkan tak pernah sejalan dengan apa yang mereka lakukan.
Rakyat boleh saja menonton, menertawakan, atau mencibir. Tapi sejarah akan mencatat: PSI bukanlah partai perubahan. Ia hanyalah partai pelipur lara Jokowi, dengan Kaesang si anak bontot sebagai maskot paling bontot dari politik yang sudah lama sakit.
























