Bahkan Musa, yang dibesarkan di istana Fir’aun, tidak kemudian berteriak “Hidup Fir’aun! Hidup Fir’aun!” Ketika kesadaran muncul, Musa justru melawan penindasan Fir’aun, membela kaumnya, dan membawa mereka keluar dari sistem yang menindas. Sejarah mengajarkan kita bahwa kebenaran tak selalu lahir dari kenyamanan, dan kehormatan bukan sekadar soal kesetiaan buta.
Namun, sejarah tidak berlaku bagi semua orang. Ketika Prabowo, mantan rival Jokowi yang dulu lantang mengkritik pemerintahan, tiba-tiba berteriak “Hidup Jokowi! Hidup Jokowi!”, kita seakan-akan melihat sebuah drama absurd yang bahkan para sejarawan pun akan kesulitan menjelaskan tanpa tertawa getir. Bagaimana mungkin seorang yang mengklaim diri sebagai pembela kepentingan rakyat, yang dahulu mengkritik segala kebijakan Jokowi, kini justru menjadi pemandu sorak paling riuh bagi orang yang dulu ia anggap gagal?
Tapi, tentu saja, ini bukanlah absurditas bagi Prabowo. Ini adalah permainan yang sudah ia rancang dengan matang—atau lebih tepatnya, permainan yang sudah dirancang untuknya. Jokowi butuh penerus, seseorang yang tidak hanya bisa menjaga warisan politiknya tetapi juga siap menjadi perisai bagi segala keputusan yang telah diambilnya. Dan siapa yang lebih cocok daripada Prabowo, sosok yang selama satu dekade terakhir telah menjelma dari oposisi garis keras menjadi loyalis garis depan?
Prabowo paham bahwa dalam politik Indonesia, kebenaran bukanlah yang terpenting. Yang lebih penting adalah keberpihakan yang menguntungkan. Maka, ketika teriakan “Hidup Jokowi!” keluar dari mulutnya, itu bukan sekadar ungkapan dukungan. Itu adalah tiket menuju legitimasi, bukti kesetiaan kepada kekuasaan, dan tentu saja, langkah strategis menuju kursi yang selama ini ia dambakan.
Jokowi pun tidak kalah lihai. Ia tahu bahwa seorang Prabowo yang patuh adalah investasi politik yang berharga. Dengan Prabowo di sisinya, ia bisa memastikan bahwa semua kepentingannya tetap terjaga bahkan setelah masa jabatannya berakhir. Jokowi tidak butuh penerus yang benar-benar mandiri, ia butuh penerus yang “terikat” pada kebijakan dan jaringannya.
Jadi, ada apa di balik semua ini? Jawabannya sederhana: ini bukan lagi soal ideologi atau kepentingan rakyat, ini soal kelangsungan kekuasaan. Kalau Musa memilih melawan Fir’aun demi membela keadilan, Prabowo memilih menjadi megafon bagi kekuasaan demi mendapatkan posisinya. Dan inilah politik di negeri ini—di mana absurditas adalah logika, dan kesetiaan adalah mata uang paling berharga.























