Di awal setiap surah Al-Qur’an—kecuali satu—selalu ada basmalah, doa pendek yang dimulai dengan nama Tuhan: Bismillahirrahmanirrahim. Tuhan yang Rahman dan Rahim. Tuhan yang pengasih dan penyayang. Dua kata itu bukan sekadar pelengkap, bukan sapaan hampa. Ia adalah jantung Islam itu sendiri. Sebab Islam, sejak pertama ia diturunkan, adalah agama yang berjalan menuju ujung yang satu: welas asih.
Tetapi welas asih dalam Islam bukan sekadar sentimen lembut yang bisa dipinjam dari kebudayaan manapun, lalu diletakkan begitu saja di ruang publik. Ia bukan hasil dari simpati sesaat, bukan pula produk moralitas netral. Welas asih dalam Islam adalah buah dari akar yang paling dalam: tauhid. Dari keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan, Allah, yang mengatur segala sesuatu, dan bahwa dari Dialah segala cinta kasih memancar. Maka ketika Nabi Muhammad disebut sebagai rahmatan lil ‘alamin, itu bukan gelar sosial atau etika sipil, tapi konsekuensi langsung dari risalah yang bersumber pada keesaan Tuhan.
Dari kesadaran itulah kita bisa bertanya: apa arti welas asih jika ia dilepaskan dari sumbernya? Apa jadinya jika kasih itu tak lagi bernama Allah? Ketika Dedi Mulyadi mengganti nama “Rumah Sakit Al Islam” menjadi “Rumah Sakit Welas Asih”, ia tampaknya ingin memperhalus wajah institusi agar terdengar lebih universal, lebih inklusif, mungkin lebih “manusiawi”. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: pengaburan. Ia mengambil buah dan memotong akarnya. Ia menyimpan kelembutan kata tapi membuang kedalaman maknanya.
Islam bukan sebatas nama. Ia bukan sekadar label yang bisa dipertukarkan dengan frasa-frasa puitis. Nama “Al Islam” menyimpan seluruh sejarah, keyakinan, dan sistem nilai. Ia menunjuk pada arah—bahwa kasih yang sejati bukan hanya horizontal antar-manusia, tapi juga vertikal kepada Tuhan. Welas asih dalam Islam tidak netral, ia memiliki pusat gravitasi: akidah. Maka, ketika nama “Islam” dihapus dari sebuah rumah sakit, dan digantikan dengan “welas asih” tanpa jejak asal-usulnya, kita melihat upaya—disadari atau tidak—untuk mengendapkan iman ke dasar yang diam, tak terdengar.
Barangkali ini zaman yang bingung akan identitasnya. Kita ingin menjadi lembut, tapi takut menyebut nama Tuhan. Kita ingin penuh kasih, tapi risih dengan keyakinan. Kita ingin universal, tapi gamang menghadapi yang partikular. Padahal, Islam justru mempertemukan semua itu—iman dan welas asih, partikular dan universal, akidah dan akhlak. Maka, menyayangi tanpa menyebut dari siapa cinta itu datang, adalah seperti menulis puisi tentang cahaya tanpa menyebut matahari. Indah, tapi kosong.





















