Drajat mengatakan greenflation adalah istilah zaman now yang makin sering dipakai ilmuwan, pegiat, pebisnis bahkan politikus yang terlibat dalam urusan kelestarian atau keberlanjutan (sustainability). “Dipakai mereka yang terlibat dalam urusan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” kata ekonom senior INDEF ini.
Jakarta – Fusilatnews – Menaggapi tudingan berbagai pihak terhadap calon presiden paslon nomur 2 Gibran Rakabuning Raka yang mengajukan pertanyaan pihak dan dikatain sebagai receh-receh oleh lawan debatnya dalam debat keempat yng diselenggarakan KPU di JCC Jakarta Pusat Ahad malam 21/12 2024)
Ekonom Dradjad Wibowo,Anggota Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran,
menegaskan, greenflation bukanlah sebuah istilah jebakan dalam debat, apalagi sebuah konsep receh-receh.
Menurut Dradjad, orang yang menganggap greenflation sebagai hal receh, menunjukkan ketidakpahaman mereka terhadap transisi ke ekonomi hijau, termasuk ke energi bersih dan penerapan praktik kelestarian.
“Tidak paham tantangan dan hambatan apa saja yang membuat transisi tersebut sangat lambat di dunia. Tidak paham risiko politik bahkan gejolak sosial yang bisa muncul akibat transisi tersebut,” kata Dradjad, Senin (22/1/2024).
Drajat mengatakan greenflation adalah istilah zaman now yang makin sering dipakai ilmuwan, pegiat, pebisnis bahkan politikus yang terlibat dalam urusan kelestarian atau keberlanjutan (sustainability). “Dipakai mereka yang terlibat dalam urusan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” kata ekonom senior INDEF ini.
Secara sederhana, lanjut Dradjad, greenflation atau inflasi hijau merujuk pada kenaikan harga sebagai akibat dari mahalnya biaya transisi di atas. Dengan kata lain, inflasi hijau merupakan salah satu bentuk cost-push inflation.
Sebagai contoh, Indonesia merupakan negara dengan sumber daya panas bumi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. “Potensi panas bumi kita setara 23.966 megawatt (MW). Saat ini kita baru memanfaatkan 2.343 MW, atau hanya sekitar 9,8 persen dari potensi tersebut,” papar Dradjad yang juga Ketua Umum IFCC (Indonesian Forestry Certification Cooperation) ini.
Menurut Dradjad, hambatan terbesarnya adalah biaya. Beban biaya PLTP (pembangkit listrik tenaga panas bumi) per kilowatt hour (kwh) itu sekitar 50 persen lebih mahal dari PLTU batu bara. Bahkan dalam berbagai estimasi lainnya, biayanya bisa dua kali lipat lebih.
Jika Indonesia melakukan pensiun dini terhadap penggunaan semua PLTU batu bara, dan menggantinya ke PLTP. Dalam kondisi biaya saat ini, biaya listrik nasional akan naik minimal 50 persen. Karena hampir semua aktifitas memerlukan listrik, bisa dibayangkan seberapa besar dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Harga-harga melonjak drastis.
“Hampir semua pelaku bisnis dipastikan menjerit. Bukan hanya itu, rakyat bisa marah. Itu semua akibat greenflation,” kata Ketua Dewan Pakar PAN ini.
Greenflation merupakan singkatan dari dua kata yakni green (hijau) dan inflation (inflasi).
Berdasarkan Blog Kamus Cambridge, greenflation diartikan sebagai “kenaikan harga akibat transisi dari ekonomi berbasis energi fosil ke ekonomi hijau”.
Berdasarkan pernyataan Direktur Executive European Central Bank Isabel Schnabel di The New York Times, greenflation merupakan fenomena kenaikan harga dan krisis tenaga kerja yang terjadi seiring dengan transisi dari aktiftas ekonomi berbasis energi fosil menuju energi yang ramah lingkungan dan dapat diperbarui
Kenaikan harga ini akibat kenaikan biaya yang disebabkan oleh adanya transisi energi mengingat biaya penggunaan energi hijau dianggap masih lebih mahal dibandingkan fosil.
Misalkan adanya transisi pembangkit listrik tenaga diesel dan batubara ke pembangkit listrik tenaga matahari, air dan angin.
Selanjutnya transisi energi BBM fosil menjadi energi listrik berbasis batera


























