Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Dari pintu ke pintu. Kucoba tawarkan nama. Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya. Tetapi nampaknya semua mata. Memandangku curiga. Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku. (Kalian Dengarkah Keluhanku – Ebiet G Ade)
MAKSUD hati menjadi cawapres, apa daya menjadi gelandangan politik. Itulah nasib yang kemungkinan akan menimpa Sandiaga Salahuddin Uno.
Istilah gelandangan politik tersebut meminjam ungkapan mendiang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur usai dilengserkan MPR dari kursi Presiden, 23 Juli 2001. Ungkapan itu ditujukan kepada Amien Rais yang saat itu menjabat Ketua MPR.
Setelah pamit keluar dari Partai Gerindra dan posisinya sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina digantikan oleh Mochamad Iriawan, Sandiaga Uno berencana bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun belum sampai benar-benar bergabung dengan PPP, kini Sandi mengaku akan bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sambil mengklaim sering berjuang bersama partai yang kini dinahkodai Achmad Syaikhu ini.
PKS pun membuka tangan bagi Sandi, sebagaimana sebelumnya PPP.
Akankah Sandi benar-benar bergabung dengan PKS?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, di dunia politik Sandi sudah terlanjur dikenal sebagai seorang petualang. Dan pragmatis! Sebab politik memang pragmatis.
Menjelang Pilpres 2019, misalnya, Sandi bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Sandi kemudian menjadi calon wakil presiden (cawapres) bagi Prabowo Subianto yang kembali maju sebagai capres di Pilpres 2019. Namun, Prabowo-Sandi gagal menang melawan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Usai Pilpres 2019, Sandi bergabung dengan Gerindra.
Kini, menjelang Pilpres 2024, Sandi pun ditengarai membidik kursi cawapres. Karena peluangnya di Gerindra sudah tertutup lantaran Prabowo maju kembali sebagai capres, maka ia hengkang dari partai berlambang kepala burung Garuda ini dan akan bergabung dengan PPP dengan harapan bisa menjadi cawapres entah bagi siapa, Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan, dua kandidat selain Prabowo yang sudah dideklarasikan sebagai capres untuk Pilpres 2024.
PPP akhirnya mendukung Ganjar sebagai capres. Namun, partai berlambang Ka’bah ini tak kunjung mengajukan Sandi sebagai cawapres Ganjar. Mungkin karena itulah Sandi urung masuk PPP.
Ya, mungkin peluang menjadi cawapres bagi Ganjar yang sudah diusung PDI Perjuangan dan didukung PPP itu sudah tertutup baginya, sehingga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu kini hendak berlabuh ke PKS dengan harapan dapat menjadi cawapres bagi Anies Baswedan sebagaimana dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.
Anies diusung Partai Nasdem sebagai capres 2024 dan kemudian didukung Partai Demokrat dan PKS. Sejauh ini Anies belum memiliki cawapres, hanya disebutkan sudah ada lima nama yang sedang digodok Tim Delapan.
Bila pada akhirnya Sandi urung bergabung dengan PKS karena gagal menjadi cawapres Anies maka ia akan benar-benar menjadi gelandangan politik yang tidak punya partai dan menawarkan diri ke mana-mana tapi tidak diterima., sebagaimana syair lagu Ebiet G Ade di atas.
Modal Finansial
Bagi parpol dan capres, Sandi adalah sosok yang sangat menarik dari sisi modal finansial. Pasalnya, harta kekayaan Sandi mencapai Rp10 triliun.
Modal finansial adalah suatu keniscayaan dalam politik elektoral. Selain untuk “political cost” atau ongkos politik, juga untuk “money politics” atau politik uang.
Political cost antara lain untuk biaya pendaftaran, kampanye, cetak dan pasang alat peraga, membayar saksi di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS), dan sebagainya.
Sedangkan money politics antara lain untuk mahar ke parpol dan oknum pengurus parpol serta “serangan fajar”.
Sandi mengaku menggelontorkan dana hingga Rp1 triliun dalam Pilpres 2019. Dalam Pilkada DKI 2017, Sandi juga yang dominan menggelontorkan dana politik.
Pendek kata, Sandi merupakan sosok yang sangat menarik bagi parpol dan capres dari sisi finansial. Ia bak gula bagi semut. Apalagi ditambah elektabilitasnya sebagai cawapres relatif lebih tinggi di antara sosok lainnya seperti Ridwan Kamil, Erick Thohir atau Khofifah Indar Parawansa.
Akan tetapi, mengapa Prabowo enggan mengakomodasi Sandi sebagai cawapresnya? Karena berasal dari parpol yang sama, sehingga tidak akan memperluas ceruk suara. Apalagi sudah menjadi preseden buruk bahwa saat berduet dengan Sandi ternyata Prabowo mengalami kekalahan di Pilpres 2019.
Apakah Ganjar bisa berduet dengan Sandi di Pilpres 2024? Bukan Ganjar yang menentukan, melainkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang telah menetapkan Ganjar sebagai capres sesuai hak prerogratif yang ia peroleh dari Kongres V PDIP di Bali.
Namun, Megawati adalah orang yang tidak suka dengan orang yang tidak loyal atau inkonsisten seperti Sandi.
Lalu bagaimana dengan Anies Baswedan apakah mau berduet dengan Sandi seperti pada Pilkada DKI 2017?
Akan ada hambatan psikologis. Selain telah bergabung dengan pemerintahan Presiden Jokowi, Sandi juga pernah mengungkap utang-piutang dengan Anies sebesar Rp50 miliar dalam Pilkada DKI 2017 yang awalnya diungkap Erwin Aksa, sahabat Sandi.
Ada pameo, utang adalah pisau paling tajam dalam memutus tali silaturahmi. Dus, Anies memiliki hambatan psikologis dengan Sandi.
Selain itu, para pendukung Anies belum tentu mau menerima Sandi yang dianggap berkhianat karena manjadi menteri di kabinet Presiden Jokowi.
Alhasil, jika benar Sandi gagal menjadi cawapres bagi capres mana pun, meski elektabilitasnya relatif tinggi, dan tidak ada parpol yang mau menerima dan memberinya posisi, maka Menparekraf itu akan benar-benar menjadi gelandangan politik. Apalagi jika Sandi juga terpental dari Kabinet Indonesia Maju. Itulah.
Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI).





















