• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Science & Cultural

Duhai, Jakarta (Final)

fusilat by fusilat
June 11, 2022
in Science & Cultural
0
Duhai, Jakarta

Dok.Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Cerita Sebelumnya….

Masa-masa diopname untuk pertama kalinya itu, bagiku serasa bagaikan hidup di dalam kerangkeng. Kalau sudah pernah, barangkali seperti itulah rasanya dipenjara. Aku takkan melupakan bagaimana raut wajah ayahku saat menyampaikan kondisi kesehatanku.

“Dirawat… bagaimana, Pak?” tanyaku belum paham.

“Teteh,” demikian aku sekarang dipanggil oleh orang tua dan adik-adikku, panggilan kesayangan karena aku anak sulung. “Diopname di sini, artinya tidak boleh pulang untuk sementara. Karena para dokter akan mengobati penyakitmu. Teteh mau sehat lagi, bukan?” ujar Bapak, entah mengapa di kupingku suaranya terdengar agak bergetar.

“Iya, Neng, mendingan juga dirawat, ya… Di rumah mah kita gak bisa apa-apa kalau melihatmu kesakitan,” sambung Emak.

“Kalau Teteh tinggal di sini… apa ada yang nungguin?” tanyaku mulai diterpa rasa cemas dan takut.

“Bapak akan menunggumu kalau malam…”

“Dan tidak sedang dinas,” ibuku menukas kalimat ayahku.

Takaran darahku hanya 4 % gram. Tak boleh tidak, aku harus segera ditransfusi. Meskipun menangis sejadi-jadinya dan mencoba untuk berontak, tapi tenagaku memang tak seberapa. Entah dengan pertimbangan apa, mungkin juga tak ada tempat di bangsal anak, aku ditempatkan di bangsal 14 untuk pasien dewasa.

“Sekarang kamu harus mengikuti kata-kata dokter dan aturan rumah sakit, makan obat yang teratur. Biar cepat pulang, sehat dan sekolah lagi,” ujar ibuku sebelum pulang, tangannya yang lembut megusap-usap kepalaku sepenuh sayang.

“Bapak juga harus balik lagi ke kantor. Nanti malam Bapak ke sini,” janji ayahku. Maklum, seorang tentara punya kewajiban mutlak sesuai sumpah prajurit; lebih mengutamakan tugas dari apapun jua.

Aku hanya mengangguk pelan. Kasihan Bapak, pikirku, jadi bertambah beban di pundaknya. Bukan diriku saja yang dikhawatirkannya, kondisi ibuku pun sungguh memrihatinkan. Keadaan ekonomi kami morat-marit. Sementara kedudukan Bapak di kantornya yang baru pun tentu belum ajeg benar. Bapak baru dimutasikan dari Kodam Siliwangi ke Kodam Jaya. Acapkali aku merasa, orang tuaku sudah tak mampu memberiku makanan yang sehat, karena itu lebih baik menitipkanku di rumah sakit.

Lepas dari teror gerombolan kutu busuk itu, sebagai pengalih rasa sakit dan kesedihan, aku mulai “mencari-cari urusan” dengan memperhatikan suasana sekitarku. Ruangan luas itu dihuni oleh lima belas pasien. Kecuali aku, semuanya perempuan dewasa dengan penyakit macam-macam. Ranjangku nomer dua di sebelah kiri pintu.

Di seberangku ada seorang pasien yang senang betul mengawasiku. Para pasien memanggilnya Ani, sebelah kakinya buntung, berpenyakit paru-paru. Belakangan kutahu Ani adalah tapol Gerwani, titipan polisi militer. Melihat sorot matanya yang menyipit terkesan licik, perasaanku jadi tak nyaman setiap kali dia menghampiri.

Dalam beberapa jam saja dia bolak-balik menghampiriku. Mulutnya meruapkan bau busuk, ditambah sering mengeluarkan kalimat-kalimat tajam, meneror.

“Hei… anak kecil, bapak kamu itu komandan, ya?”

“Di mana tugas bapak kamu… pernah ke Madiun gak?”

“Madiun itu kampungku, tahu gak kamu!”

“Niiih… kakiku dibuntungi tentara-tentara keparat!”

“Ya, tentara-tentara itu bangsaaat!”

“Di sini kamu jangan manja, ya! Ada suster Pati, orang Ambon. Guaaalaaak!”

“Nanti kamu disuntik-suntik, dibius, dipotong-potong… sama dia!”

“Terus diangkut ke kamar mayat… mau kamu dibegitukan?”

Anda bisa bayangkan bagaimana takutnya diriku. Jantungku yang telah dibuat bekerja lebih keras akibat kurang darah, kurasakan semakin berdegupan kencang. Perutku pun mulai terasa mulas dan perih.

Mujurlah, ada seorang nenek di seberang ranjangku. Dia  menunggui putrinya, kelihatannya ada perhatian pula terhadapku. Kadang aku sengaja mengerang kalau diomongin macam-macam oleh Ani. Nenek itu curiga agaknya. Maka, jika dilihatnya si Gerwani itu bergerak ke arahku, ibu tua itu pun perlahan tapi pasti ikut bergerak meningkahi gerakannya.

“Ani, jangan macam-macam!” katanya mengingatkan. “Anak ini lagi sakit, kamu jangan tambah penderitaannya, ya… Awas, kulaporkan kamu sama PM di depan sana!” Maksudnya polisi militer yang memang selalu ada di pos depan.

“Dasar nenek-nenek cerewet! Otaknya ngeres saja, nenek sihiiir!”

Ani sambil bersungut-sungut membawa kakinya yang pincang menjauhi ranjangku. Takut juga rupanya tapol itu kepada ibunya seorang letnan.

“Terima kasih, Nek,” kataku dengan air mata berlinang.

“Kalau ada apa-apa jangan diam saja, ya Neng. Teriak saja panggil Nenek,” ujarnya terdengar tulus, kemudian ia kembali ke sisi ranjang anaknya yang telah berbulan-bulan dirawat karena kanker rahim.

Selama aku dirawat ibuku jarang menjenguk. Hanya ayahku yang setiap pagi dan sore mampir. Biasanya ayahku akan membawakanku kue-kue dan cemilan yang belakangan kutahu, semuanya itu hasil ibuku berhutang ke warung Abah. Adik-adik pun hanya seminggu sekali, secara bergantian dibawa oleh Bapak menjengukku.

Malam itu Bapak harus giliran piket di kantor. Bapak bilang nanti ibuku akan datang menemani. Namun, sampai menjelang sore, bahkan setelah orang-orang yang besuk pulang, ibuku tidak muncul juga.

Sesungguhnya aku mengkhawatirkan pasien di sebelah kananku, usianya 19-an, siswa SMA. Dia in-coma setelah dioperasi kepalanya. Kata Bibi yang biasa menungguinya, dokter yang akan mengoperasi lanjutan sedang mengikuti konferensi di Jerman. Jadi operasi lanjutannya menunggu dokternya pulang.

Sudah dua hari itu Bibi pulang dulu ke Cianjur. Tak ada yang menemaninya lagi, dibiarkan tergeletak tak berdaya dengan berbagai peralatan medis mengerumuni sekujur tubuhnya.

Aku tak pernah melihat orang tuanya, menurut cerita Bibi, ayahnya seorang bupati. Kadang aku merangkai cerita sendiri (bakat sejak kecil!) bahwa pasien ini memang sudah dibuang oleh orang tuanya, karena penyakit tak tersembuhkan, kanker otak. Bagaimana dia menanggung derita nestapanya hanya ditemani pembantu? Kalau dilanjutkan bisa satu cerpen tuh. Aha!

Kalau aku seperti dia, wuaduuuh, rasanya lebih baik mati saja!

Ya Yuhan, aku masih beruntung, demikian aku berpikir. Sesibuk apapun, Bapak selalu perhatian dan punya waktu untukku. Dan semiskin apapun, Emak akan selalu berusaha menyenangkan hatiku, walau itu berarti harus menggadaikan nyawanya sekalipun.

Ya Allah, terima kasih, Bapak dan Emak tidak membuangku yang penyakitan begini, gumamku membatin dengan dada penuh rasa syukur.

“Jangan takut, ya Neng… Nenek akan menjagamu dari sana,” ujar Nenek menghiburku, dan ia melaksanakan janjinya, wara-wiri dari samping anaknya ke sisiku.

“Terima kasih, Nek… boleh minta tolong?”

“Mau minum? Mau makan… Nenek suapi, ya?”

“Bukan itu, Nek, aku gak lapar,” perutku serasa gembung, sekujur badanku meriang silih berganti akibat transfusi. Darah orang tentu sedang beradaptasi dengan tubuhku.

“Mau kue, ya?” ujarnya pula menawariku dengan nada tulus.

Aku menggeleng. “Nenek coba lihat, kenapa Kakak di sebelah itu bunyi ngoroknya begitu, ya?”

“Keras ya ngoroknya?” gumam Nenek tertegun, kemudian menyibak gordeng, melongok ke ranjang pasien sebelahku.

Groookkk… grooook…. Begitulah bunyinya.

“Gak apa-apa, mungkin lagi enak tidurnya setelah dikasih obat baru,” komentar Nenek menenangkanku. “Mau apalagi sekarang?”

“Hmm… terima kasih, Nek,” aku menggeleng lemah.

Benakku bercabang-cabang liar, melayang ke mana-mana. Emak, aduuuh, ke mana sih Emak? Jangan-jangan di jalan Emak, aduh, sungguh kacau!

“Ya, sudahlah… Kamu harus berusaha tenang dan tidur, ya Neng. Baca-baca aja, banyak doa, ya?” pesannya pula sebelum kembali ke samping putrinya.

Aku mencoba memejamkan mata, menutup kepalaku dengan selendang batik milik Emak yang sengaja kuminta. Kuciumi aroma khas milik ibuku. Aroma kasih sayang yang hanya ibuku pemiliknya. Demikianlah kelakuanku kalau sedang demam rindu kepada ibuku yang sangat kusayang, dan dia pun sangat mengasihiku.

Teng… teng… pukul delapan malam!

Mendadak terjadi kehebohan, pasien baru masuk, dan diletakkan tepat di sebelah kiriku. Memang hanya itulah ranjang yang masih kosong di bangsal campursari, dihuni pasien dengan penyakit samakbrek alias 1001 macam penyakit.

Waktu itu, 1969, aku kurang tahu, apakah sudah ada ruangan yang disebut ICCU atau sejenisnya. Jadi, kalau bukan dilakukan di ruang perawatan tentu di tempat operasi. Sebetulnya di zal 14 itu ada ruangan isolasi, khusus untuk pasien gawat. Tapi agaknya malam itu ruang isolasi penuh, jadi terpaksa ditaruh di bangsal.

Yang menghebohkan itu adalah suara-suara pengantarnya. Serombongan, ya, semuanya saja, mencoba ikut masuk ke bangsal. Suara-suara keras khas orang seberang, berseliweran di sekitarku. Sungguh mengganggu dan menambah rasa sakit yang harus kutanggung.

Suster sampai memanggil provost untuk mengusir orang-orang yang tak tahu situasi dan kondisi itu. Provost atau para petugas jaga malam akhirnya berhasil menggiring mereka keluar bangsal, disertai pertengkaran, caci-maki, sumpah serapah. Halaaah!

“Dasar Batak, begitulah kelakuannya!” samar-samar kudengar suara Ani.

Otakku masih bisa berpikir dan mengukir-ukir sebab-akibat, terutama tentang kelakuan Ani. Kenapa dengan si Ani itu, ya? Judes, iri, dengki, hobi neror dan rasis. Kalau ada orang tuaku, dia akan bersikap baik, ramah, sungguh munafik. Pantaslah orang itu direkrut sebagai Gerwani!

Beberapa saat kembali tenang, maksudku tanpa kehadiran orang-orang yang tak berkepentingan dengan bangsal perawatan ini. Sementara pasien baru, ternyata seorang lansia, masih ditangani oleh para dokter. Mereka sibuk melakukan berbagai macam tindakan. Lamat-lamat kudengar suara yang saling bersahutan.

“Ini chirosis hepatitis… sudah parah…”

“Tensi 40 per…”

“Denyut tak teraba…”

“Dokter Qom sudah dikabari?”

“Tidak bisa… lagi di Singapore…”

Kurasa kemudian mereka melakukan kejut listrik… satu, dua, yaaaak, satu dua tiga, yaaaak!

“Awaaasss… syeeet!”

“Aduh, apaan tuh?”

“Pecah… dokter Irwan… bagaimana ini?”

“Kita… sialan  banget nih…”

“… hilang ya…”

Beberapa jenak tak ada suara-suara lagi.

Keheningan yang sangat merejam dada, mencekam jiwa dan raga. Namun, beberapa jenak kemudian kulihat para koas itu beriringan. Sungguh, mereka meninggalkan pasien baru itu. Tinggal seorang perawat lelaki dan dua orang suster. Mereka melakukan sesuatu, kurasa, membersihkan darah yang muncrat ke mana-mana… Menimbulkan bau busuk tak terkira!

Menghabiskan sisa malam itu, aku tetap seorang diri, sambil merasa-rasai kesakitan dan demam yang datang silih berganti. Aku tahu, aku sadar bahwa di sebelah kananku, pasien baru itu telah menjadi mayat.

Tengah malam terjadi kehebohan lagi, kali ini si Kakak pun telah memilih jalannya… Menghadap sang Pencipta!

Pagi sekali, Bapak muncul dan mengabari; Mak tak bisa datang bukan karena hujan besar, melainkan karena kaki-kakinya mendadak bengkak. Akibat tersandung batu cobek di kamar mandi. Sekarang Mak ada di klinik, mungkin harus diopname, kata Bapak dengan wajah muram.

“Bagaimana perasaanmu setelah ditransfusi, Nak?”

“Teteh gak apa-apa kok, Pak, sudah ditransfusi… segar,” hiburku sekuat daya menahan rasa pedih yang menggejolak dalam dada.

“Alhamdulillah, semoga Allah Swt memanjangkan umurmu, Nak,” ujarnya sambil mengecup keningku, mulutnya komat-kamit, tentu mendoakanku.

Kulihat air bening mengembang di sudut-sudut mata prajurit kami yang perkasa. Aduuuh,  hancur rasanya hatiku!

“Bapak urus Mak saja, ya Pak, kasihan Mak. Sungguh, Teteh sudah sehat,” lanjutku pula berusaha meyakinkannya.

Kurasa, sejak itulah aku tak pernah merasa takut lagi dengan mayat. Sepanjang malam di sebelah-menyebelahku ditemani mayat, ternyata tidak apa-apa. Aku malah lebih mencemaskan kelakuan si Ani Gerwani. Semakin sering menghampiriku, semakin sering dia meneror dengan kata-kata jahimnya.

Memasuki hari kelima, mereka memindahkanku ke kamar bernomer tiga. Ruang perawatan untuk keluarga perwira menengah, sesuai dengan pangkat ayahku. Di sana aku melanjutkan perawatan sampai sebulan kemudian. Aku banyak belajar tentang kemandirian, semangat, pantang menyerah…

Kurasa pula, sejak saat itulah air mata mulai jarang kutumpahkan. Maksudku, apabila itu berkaitan dengan penyakit dan segala dampak yang menyertainya. Menangis, oh, tidaaak!

Beberapa hari sebelum ujian akhir SD aku diperbolehkan pulang. Aku malah jadi juara umum di SD POMG lulusan tahun 1969. Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Umum, dan Berhitung mendapat nilai sembilan.

Terima kasih, Gusti Allah!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pemerintah Bertahap Hapus Minyak Goreng Curah Ganti Minyak Kemasan Sederhana

Next Post

Peserta Hipmi Teriak ‘Lanjutkan’, Jokowi: Nanti Saya Didemo

fusilat

fusilat

Related Posts

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi
Feature

Media Sosial: Dari Hiburan Menjadi Candu yang Diproduksi

April 24, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026
daerah

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!
News

Rabat Jadi Ibu Kota Buku Dunia UNESCO 2026, Wilson Lalengke Ucapkan Selamat!

April 15, 2026
Next Post
Peserta Hipmi Teriak ‘Lanjutkan’, Jokowi: Nanti Saya Didemo

Peserta Hipmi Teriak 'Lanjutkan', Jokowi: Nanti Saya Didemo

Beban Subsidi di APBN Rp 502 Triliun, Jokowi : Sangat Berat, Gede Sekali

Beban Subsidi di APBN Rp 502 Triliun, Jokowi : Sangat Berat, Gede Sekali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan
Crime

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

by fusilat
April 27, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Suharyono alias Dobrak (42), yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas, kini menyandang status tersangka berdasarkan Surat Ketetapan Tersangka...

Read more
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

April 27, 2026
Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...