Di zaman ini, manusia sering mengira ilmu pengetahuan adalah gudang jawaban. Kita diajari bahwa sains adalah angka-angka, rumus-rumus, laboratorium, grafik, serta kepastian yang dibangun di atas data. Kita memandang ilmuwan sebagai manusia yang bertugas mengusir kegelapan, membongkar rahasia, lalu menggantinya dengan terang pengetahuan. Seolah setelah semuanya dijelaskan, maka dunia akan kehilangan keajaibannya.
Padahal sesungguhnya, semakin jauh manusia berjalan menuju pengetahuan, semakin luas pula samudra misteri yang terbentang di hadapannya.
Manusia pertama mungkin menatap langit malam dengan ketakutan. Ia melihat titik-titik cahaya yang menggantung di ruang tanpa tiang, memandang bulan yang muncul dan tenggelam, menyaksikan petir yang menyambar gunung, lalu bertanya dengan tubuh yang gemetar: Apa semua ini?
Pertanyaan itu tampaknya sederhana. Namun dari pertanyaan-pertanyaan kecil itulah lahir peradaban. Dari rasa heran itulah muncul filsafat, agama, seni, dan sains.
Di sinilah letak keindahan yang dipahami Einstein. Bagi dirinya, misteri bukanlah musuh yang harus dibunuh. Misteri justru adalah rahim tempat pengetahuan dilahirkan.
Ia pernah berkata:
“The most beautiful thing we can experience is the mysterious. It is the source of all true art and all science.”
Yang berarti:
“Hal paling indah yang dapat kita alami adalah misteri. Ia adalah sumber dari seluruh seni sejati dan seluruh sains.”
Kalimat itu mengandung kedalaman yang jarang disadari. Einstein tidak mengatakan bahwa yang paling indah adalah jawaban. Ia juga tidak mengatakan bahwa yang paling indah adalah kepastian. Ia justru menunjuk sesuatu yang belum terpecahkan: misteri.
Karena sesungguhnya jawaban sering kali menutup pintu, sedangkan misteri membuka jendela-jendela baru.
Setiap jawaban dalam sains ternyata hanyalah anak tangga menuju pertanyaan berikutnya.
Ketika manusia mengetahui bahwa Bumi mengitari Matahari, ia mulai bertanya: mengapa planet bergerak?
Ketika manusia menemukan gravitasi, muncul pertanyaan: mengapa ruang dan waktu dapat melengkung?
Ketika manusia memahami atom, ia bertanya lagi: apa yang lebih kecil dari itu?
Dan setiap kali manusia merasa hampir tiba di ujung pengetahuan, semesta seperti tersenyum diam-diam, lalu memperlihatkan lorong baru yang belum pernah dipetakan.
Maka sesungguhnya ilmuwan bukanlah pemburu jawaban semata. Ia adalah pengembara misteri.
Einstein bahkan pernah mengatakan:
“He to whom this emotion is a stranger, who can no longer pause to wonder and stand rapt in awe, is as good as dead; his eyes are closed.”
Yang kira-kira berarti:
“Seseorang yang kehilangan rasa takjub, yang tidak lagi berhenti untuk terpesona, sesungguhnya seperti telah mati; matanya telah tertutup.”
Barangkali kematian yang paling sunyi bukanlah ketika jantung berhenti berdetak. Mungkin kematian yang lebih mengerikan adalah ketika manusia berhenti bertanya.
Sebab ketika rasa heran lenyap, hidup berubah menjadi sekadar rutinitas mekanis. Mata masih terbuka, tetapi tak lagi melihat keajaiban. Telinga masih mendengar, tetapi tak lagi menangkap keheningan yang berbicara.
Mungkin itulah sebabnya yang terindah dari sains bukanlah menemukan jawaban akhir, melainkan bergumul dengan yang misterius. Sebab di dalam pergumulan itu manusia sedang mengingat kembali dirinya: makhluk kecil yang berdiri di bawah langit tak berbatas, menatap bintang-bintang dengan mata yang penuh tanya.
Dan selama pertanyaan masih hidup, selama rasa takjub belum mati, barangkali manusia belum benar-benar kehilangan jiwanya.

























