• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali

Guru Honorer dan Indonesia Emas: Mimpi Besar yang Berdiri di Atas Kesejahteraan yang Rapuh

Ali Syarief by Ali Syarief
May 25, 2026
in Feature, Pendidikan, Tokoh/Figur
0
Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Beberapa detik kadang cukup untuk menggambarkan sebuah kenyataan sosial yang selama bertahun-tahun tersimpan dalam kesunyian. Dalam sidang paripurna DPR pada Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto sempat menyebut bahwa pemerintah telah menaikkan gaji guru hingga hampir 300 persen, sebelum kemudian mengoreksi bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah hakim. Kesalahan singkat itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi reaksinya menjalar luas ke media sosial dan memunculkan gelombang komentar, candaan, sekaligus sindiran. Bagi sebagian orang itu sekadar kekeliruan ucapan, namun bagi banyak guru, terutama guru honorer, momen itu terasa seperti harapan yang muncul sesaat lalu menghilang begitu cepat.

Mengapa reaksi masyarakat begitu besar? Sebab persoalannya bukan terletak pada salah ucap semata. Kesalahan itu menyentuh luka lama yang masih terbuka. Di Indonesia, guru telah lama diposisikan sebagai sosok penting yang membangun masa depan bangsa, tetapi tidak semua guru memperoleh penghargaan yang sebanding dengan tanggung jawab yang mereka emban. Di balik slogan tentang pentingnya pendidikan, masih banyak guru honorer yang hidup dalam keterbatasan ekonomi yang jauh dari layak.

Kisah Maria Serliana Mau, seorang guru honorer dari Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu contoh nyata. Dengan penghasilan sekitar Rp600.000 per bulan yang bahkan tidak diterima secara rutin setiap bulan, ia harus mencari pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan hidup. Ketika mendengar ucapan Presiden, sempat muncul rasa bahagia karena ia berpikir bahwa pengorbanan para guru akhirnya mendapat perhatian. Namun harapan itu runtuh hanya beberapa detik kemudian saat kalimat tersebut dikoreksi. Perasaan kecewa yang muncul bukan semata-mata karena gaji tidak naik, melainkan karena ada perasaan bahwa mereka kembali tertinggal.

Persoalan guru honorer sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Sistem ini lahir dari kebutuhan mendesak ketika sekolah-sekolah, terutama di daerah, mengalami kekurangan tenaga pendidik. Negara tidak mampu menyediakan formasi pegawai yang cukup, sementara kegiatan belajar mengajar tidak mungkin dihentikan. Akibatnya, sekolah-sekolah merekrut guru secara mandiri dengan kemampuan anggaran yang terbatas. Solusi sementara itu kemudian berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya menjadi persoalan struktural. Guru honorer terus bertambah jumlahnya, tetapi kesejahteraan mereka tertinggal jauh di belakang.

Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan ini tidak hanya menyangkut nasib individu guru. Rendahnya kesejahteraan melahirkan lingkaran masalah yang lebih luas. Guru yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup terpaksa mencari pekerjaan sampingan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan materi, meningkatkan kemampuan mengajar, atau mengembangkan diri justru habis untuk mencari tambahan penghasilan. Kelelahan fisik dan mental menjadi bagian dari rutinitas mereka. Pada akhirnya, kualitas pembelajaran dapat terdampak, dan generasi yang seharusnya menerima pendidikan terbaik justru memperoleh sesuatu yang jauh dari ideal.

Di sisi lain, pemerintah memang tidak sepenuhnya diam. Program pengangkatan guru melalui skema PPPK telah membuka jalan bagi ratusan ribu guru honorer untuk memperoleh status yang lebih baik. Berbagai insentif juga mulai ditingkatkan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa ada kesadaran mengenai pentingnya menyelesaikan persoalan ini. Namun masalah mendasar masih belum sepenuhnya tersentuh. Banyak guru masih berada di luar sistem bantuan, pembayaran sering terlambat, dan kemampuan keuangan daerah yang berbeda-beda membuat kesejahteraan guru tidak merata.

Indonesia saat ini memiliki cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045. Visi tersebut menggambarkan harapan agar bangsa ini menjadi negara maju dengan sumber daya manusia yang unggul. Namun pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: bagaimana mungkin sebuah negara berharap memiliki generasi emas jika para pendidik yang membentuk generasi tersebut masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar mereka?

Membangun gedung sekolah memang penting, menghadirkan teknologi pendidikan juga diperlukan, tetapi fondasi utama pendidikan tetaplah manusia yang berdiri di depan kelas. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran. Mereka membentuk cara berpikir, karakter, dan masa depan anak-anak bangsa. Ketika profesi yang begitu penting masih hidup dalam ketidakpastian, maka sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan guru, melainkan masa depan negara itu sendiri.

Kesalahan ucapan Presiden mungkin hanya berlangsung tiga detik. Namun respons yang muncul sesudahnya memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: masih ada harapan yang diam-diam disimpan oleh para guru agar suatu hari pengabdian mereka memperoleh penghargaan yang layak. Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari besarnya anggaran atau tingginya pembangunan fisik, tetapi juga dari cara bangsa tersebut memperlakukan orang-orang yang mendidik generasi penerusnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mata yang Kehilangan Takjub Sesungguhnya Telah Tertutup

Next Post

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Menkomdigi Meutya Hafid Lantik  Pejabat di Lingkungan Kemenkom Digi
Feature

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

May 25, 2026
Mata yang Kehilangan Takjub Sesungguhnya Telah Tertutup
Feature

Mata yang Kehilangan Takjub Sesungguhnya Telah Tertutup

May 25, 2026
Siluet Pesta Babi : Masalah Papua dari Kacamata Internasional: Ketika Jakarta Dinilai Gagal Membaca Kedalaman Persoalan
Birokrasi

Siluet Pesta Babi : Masalah Papua dari Kacamata Internasional: Ketika Jakarta Dinilai Gagal Membaca Kedalaman Persoalan

May 25, 2026
Next Post
Menkomdigi Meutya Hafid Lantik  Pejabat di Lingkungan Kemenkom Digi

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Menkomdigi Meutya Hafid Lantik  Pejabat di Lingkungan Kemenkom Digi

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

May 25, 2026
Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali

Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali

May 25, 2026
Mata yang Kehilangan Takjub Sesungguhnya Telah Tertutup

Mata yang Kehilangan Takjub Sesungguhnya Telah Tertutup

May 25, 2026
Siluet Pesta Babi : Masalah Papua dari Kacamata Internasional: Ketika Jakarta Dinilai Gagal Membaca Kedalaman Persoalan

Siluet Pesta Babi : Masalah Papua dari Kacamata Internasional: Ketika Jakarta Dinilai Gagal Membaca Kedalaman Persoalan

May 25, 2026
Memahami Posisi Yuridis dan Realisme Geopolitik Atas Polemik Misi Gagal GFS

Memahami Posisi Yuridis dan Realisme Geopolitik Atas Polemik Misi Gagal GFS

May 25, 2026
Badan Ekspor Komoditas Strategis: Belajar dari Negara Lain, Menghindari Lubang yang Sama

Badan Ekspor Komoditas Strategis: Belajar dari Negara Lain, Menghindari Lubang yang Sama

May 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menkomdigi Meutya Hafid Lantik  Pejabat di Lingkungan Kemenkom Digi

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

May 25, 2026
Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali

Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali

May 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist