Oleh: Aries Musnandar & Dr. Siti Muawantul Hasanah -Dosen Teknologi & Media Pembelajaran & Dekan FIK Universitas Islam Raden Rahmat
Jika artikel terdahulu telah mengupas urgensi PP Tunas Komdigi sebagai perisai regulatif dalam merebut kembali kedaulatan perhatian siswa, maka tulisan ini hadir sebagai kelanjutan taktisnya. Kebijakan pembatasan gawai tersebut tidak akan berdampak optimal pada kualitas pembelajaran jika ruang kelas yang sudah “tenang” justru kembali pasif akibat metode ceramah satu arah yang monoton. Momentum sterilisasi distraksi gawai ini harus segera dimanfaatkan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan madrasah untuk mereorientasi metodologi pengajaran menuju pengembangan soft skills yang nyata di semua jenjang pendidikan.
Selaras dengan kajian mendalam pada disertasi doktor saya di UIN Malang mengenai manajemen pembelajaran soft skills di sekolah, pendekatan andragogi dan pedagogi tidak boleh disamaratakan. Berdasarkan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, struktur berpikir anak berkembang dari konkret ke abstrak, sehingga guru PAI harus melakukan diferensiasi strategi taktis. Target pembelajaran di setiap jenjang madrasah harus disesuaikan dengan kesiapan psikologis siswa agar penumbuhan nilai integritas, tanggung jawab, dan empati dapat berjalan secara organik dan efektif.
Untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI/SD) yang berada pada fase concrete operational (usia 7–12 tahun), internalisasi soft skills paling efektif dilakukan melalui metode Experiential Learning berdasarkan siklus refleksi David A. Kolb serta pendekatan Gamifikasi. Anak seusia ini belum mampu mencerna dilema moral siber yang abstrak. Oleh karena itu, guru PAI dapat menggunakan metode bermain peran (role-playing), simulasi antrean, atau proyek berbagi nyata di lingkungan sekolah untuk mengasah empati, kejujuran (amanah), dan kerja sama kelompok lewat siklus pengalaman konkret langsung. Gawai digantikan oleh alat peraga fisik dan interaksi motorik yang menyenangkan.
Beranjak ke jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs/SMP) yang berada pada fase transisi (usia 12–15 tahun), siswa mulai menyukai tantangan kelompok dan pengakuan sosial. Strategi taktis yang tepat adalah menerapkan Project-Based Learning (pembelajaran berbasis proyek sosial). Guru PAI dapat menugaskan siswa membuat proyek nyata berskala kecil tanpa gawai, seperti mengelola mading kelas bertema akhlak digital atau merancang kampanye antiberita bohong (hoax) di sekolah. Melalui kerja kelompok ini, kemampuan komunikasi, manajemen konflik, dan kepemimpinan mereka mulai diasah secara terbimbing.
Sementara itu, untuk jenjang Madrasah Aliyah (MA/SMA) yang sudah matang pada fase formal operational (usia 15–18 tahun), metodologi taktisnya dinaikkan menjadi Case-Based Learning (pembelajaran berbasis kasus) dan dialektika kritis. Siswa MA ditantang menganalisis studi kasus nyata yang kompleks, seperti fenomena plagiarisme berbasis AI atau judi online. Mereka diajak berdiskusi kelompok tanpa gawai pribadi, lalu menguji secara kritis teks hasil mesin AI generatif di komputer kelas untuk mencari bias informasi berdasarkan dalil naqli dan aqli. Proses konfirmatif ini melatih cognitive patience (kesabaran kognitif) serta kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi.
Peningkatan kecakapan soft skills yang berjenjang dan terstruktur ini memegang peranan vital yang melampaui batas ruang kelas. Proyeksi global dalam laporan Future of Jobs Report 2023 dari World Economic Forum menegaskan bahwa di era automasi ini, keterampilan berpikir analitis, empati, dan kepemimpinan interpersonal kini berada di urutan teratas kompetensi yang paling dicari. Berbagai riset empiris sosiologi pendidikan juga menunjukkan kesuksesan jangka panjang individu di tengah masyarakat justru lebih banyak ditentukan oleh kematangan emosional tersebut. Melalui manajemen pembelajaran yang taktis, berkesinambungan, dan berbasis psikologi perkembangan yang tepat dari jenjang MI, MTs, hingga MA, guru PAI dan madrasah akan melahirkan generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga matang, bernalar jernih, dan sukses menjadi penggerak kebaikan di tengah kehidupan sosial.
DAFTAR PUSTAKA / BAHAN BACAAN
Kolb, D. A. (2014). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development (2nd Edition). Pearson FT Press.
Musnandar, A. (2016). Manajemen Pembelajaran Soft Skills di Sekolah. Disertasi Doktor. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Piaget, J. (2016). The Construction of Reality in the Child (Routledge Classics Edition). Routledge.
Thomas, J. W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. Autodesk Foundation.
World Economic Forum. (2023). The Future of Jobs Report 2023. World Economic Forum.
Tentang Penulis:
Dr. Aries Musnandar adalah dosen Teknologi & Media Pembelajaran FIK & Pascasarjana UNIRA Malang. Ia meraih gelar Doktor dari UIN Malang dengan fokus kepakaran pada manajemen pembelajaran soft skills di sekolah.
Dr. Siti Muawantul Hasanah, M.Pd adalah Dekan Fakultas Ilmu Keislaman (FIK) Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang yang menaruh perhatian besar pada tata kelola mutu, kepemimpinan pendidikan, dan inovasi kurikulum berbasis karakter Islam.
Oleh: Aries Musnandar & Dr. Siti Muawantul Hasanah -Dosen Teknologi & Media Pembelajaran & Dekan FIK Universitas Islam Raden Rahmat




















