Saya teringat kepada Helen Keller. Dalam esainya Three Days to See, ia pernah membayangkan seandainya Tuhan memberinya kesempatan untuk melihat selama tiga hari saja. Hal pertama yang ingin ia lihat bukanlah kemewahan atau hal-hal besar. Ia ingin memandangi wajah orang-orang yang dicintainya, melihat pepohonan, menyaksikan matahari terbit, memperhatikan hiruk-pikuk kehidupan manusia, dan menikmati hal-hal yang selama ini dianggap biasa oleh banyak orang. Dari sanalah lahir kalimatnya yang terkenal: “Orang yang paling menyedihkan di dunia bukanlah mereka yang tidak dapat melihat, melainkan mereka yang memiliki penglihatan tetapi tidak memiliki visi.”
Ada satu ironi besar yang diam-diam hidup di tengah masyarakat kita. Di negeri yang dipenuhi jutaan orang dengan penglihatan sempurna, keluhan tentang malas membaca justru terdengar di mana-mana. Buku dianggap membosankan, artikel panjang dilewati begitu saja, bahkan beberapa paragraf sering dipandang terlalu melelahkan untuk dituntaskan.
Padahal, di sisi lain, ada orang-orang yang harus memperjuangkan sesuatu yang bagi banyak orang dianggap biasa: akses untuk membaca.
Saya teringat sebuah pesan WhatsApp yang pernah masuk dari Firdaus. Pesannya singkat dan sederhana, tetapi membuat saya terdiam beberapa saat.
Ia mengatakan ingin menjadi penulis di Fusilatnews.
Tidak ada kalimat panjang. Tidak ada uraian yang rumit. Hanya sebuah keinginan yang tampak sederhana: ingin menulis.
Dan saya tidak bisa menolaknya.
Bukan karena rasa iba. Bukan pula karena dorongan belas kasihan. Saya menerimanya karena melihat sesuatu yang jauh lebih penting: hasrat. Ada keinginan yang tulus untuk belajar, tumbuh, dan menyampaikan gagasan melalui kata-kata.
Sampai hari ini Firdaus rajin mengirim artikel dan berita yang ditulisnya sendiri. Naskah demi naskah datang secara konsisten. Ia menulis, memperbaiki, belajar, lalu menulis lagi.
Saya kemudian berpikir, betapa anehnya kenyataan ini.
Di satu sisi, ada seseorang yang harus berjuang lebih keras untuk mengakses tulisan, tetapi memiliki semangat besar untuk menulis. Di sisi lain, ada begitu banyak orang yang matanya sehat, penglihatannya sempurna, akses internet berada dalam genggaman, ribuan buku dapat diunduh hanya dengan satu sentuhan jari, tetapi membaca terasa seperti beban.
Barangkali masalahnya memang bukan pada mata.
Saya teringat kisah Helen Keller saat mengunjungi Hiroshima. Setelah berkeliling di kawasan Peace Park, ia bertanya kepada asistennya:
“Kamu melihat apa?”
Asistennya menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa.”
Jawaban itu sederhana, tetapi Helen Keller memberikan pelajaran yang jauh lebih dalam. Seandainya ia dapat melihat seperti orang lain, katanya, ia akan memperhatikan banyak hal: wajah manusia, pepohonan, warna langit, jejak-jejak sejarah, dan berbagai keindahan yang sering terlewatkan.
Kalimat itu seperti tamparan.
Karena ternyata memiliki mata bukan berarti benar-benar melihat.
Ada orang yang kehilangan penglihatan, tetapi mampu melihat kehidupan dengan jauh lebih tajam. Ada orang yang tidak dapat membaca huruf dengan cara biasa, tetapi mampu membaca manusia, keadaan, dan makna hidup dengan begitu dalam.
Firdaus mungkin tidak melihat layar seperti banyak orang melihatnya. Namun ia memiliki sesuatu yang tampaknya mulai langka di zaman sekarang: rasa ingin tahu.
Dan rasa ingin tahu itulah yang mendorongnya untuk menulis.
Sesungguhnya menulis bukan sekadar menyusun kata-kata. Menulis adalah hasil dari membaca dunia. Menulis lahir dari kegelisahan, dari pertanyaan, dari keinginan memahami kehidupan.
Mungkin karena itu, persoalan terbesar manusia hari ini bukanlah buta mata.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah buta rasa ingin tahu.
Sebab seseorang yang tidak dapat melihat masih dapat menemukan jalan menuju pengetahuan. Tetapi seseorang yang kehilangan keinginan untuk belajar, meski memiliki mata yang sempurna, sering kali justru tersesat dalam hidupnya sendiri.
Dan di titik itu, saya merasa Firdaus diam-diam sedang memberi pelajaran kepada kita semua:
Bahwa yang paling berbahaya bukanlah kehilangan penglihatan.
Yang paling berbahaya adalah ketika mata terbuka, tetapi pikiran memilih untuk menutup diri.





















