Oleh Firdaus – Makasar
Di sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Jalan Keramat, Jakarta, sekitar tiga dekade silam, beberapa orang tunanetra bersama para sahabatnya memulai sesuatu yang mungkin saat itu terdengar mustahil: menghadirkan akses pendidikan yang layak bagi tunanetra di Indonesia. Tidak ada gedung megah, tidak ada fasilitas modern, apalagi teknologi canggih. Yang tersedia hanyalah tape recorder, kaset-kaset bekas, dan keyakinan sederhana bahwa setiap manusia berhak membaca, belajar, dan mengenal dunia secara mandiri.
Dari ruangan kecil itulah lahir Yayasan Mitra Netra pada 14 Mei 1991. Kini, lembaga tersebut telah memasuki usia 35 tahun—usia yang cukup panjang bagi sebuah organisasi yang sejak awal memilih berjalan di jalur sunyi: memperjuangkan literasi dan pendidikan bagi penyandang disabilitas netra, sebuah wilayah yang selama bertahun-tahun sering luput dari perhatian publik maupun negara.
Nama “Mitra Netra” berarti sahabat tunanetra. Namun dalam perjalanan panjangnya, yayasan ini melampaui sekadar peran sebagai pendamping. Ia berkembang menjadi ruang belajar, pusat inovasi, sekaligus rumah sosial bagi ribuan tunanetra di Indonesia. Di tengah situasi ketika akses pendidikan sering kali harus diperjuangkan sendiri oleh penyandang disabilitas, Mitra Netra hadir sebagai jembatan yang menghubungkan keterbatasan dengan kesempatan. 
Sejak awal, para pendiri Mitra Netra memahami bahwa persoalan terbesar yang dihadapi tunanetra sesungguhnya bukan terletak pada hilangnya penglihatan. Hambatan yang lebih besar justru muncul dari sistem yang belum siap menerima dan melayani kebutuhan mereka. Buku sulit diakses, guru tidak memahami huruf Braille, kampus tidak memiliki layanan adaptif, dan lingkungan pendidikan sering kali belum dirancang untuk semua orang.
Akibatnya, pendidikan menjadi perjalanan yang jauh lebih berat bagi penyandang tunanetra.
Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan langkah pertama Mitra Netra: membuka akses membaca. Buku-buku mulai direkam secara manual ke dalam kaset audio. Relawan membacakan isi buku menggunakan tape recorder sederhana. Prosesnya jauh dari sempurna. Terkadang suara kendaraan yang melintas, hujan yang turun, bahkan suara pedagang bakso ikut terekam dalam kaset-kaset tersebut.
Namun justru dari cara sederhana itulah lahir sesuatu yang besar: akses terhadap pengetahuan.
Bagi banyak tunanetra pada masa itu, rekaman-rekaman tersebut mungkin menjadi jendela pertama yang membuka dunia lebih luas.
Perjalanan Mitra Netra tidak berhenti di sana. Pada 1992, lembaga ini mengembangkan kursus mengetik sepuluh jari bagi tunanetra yang kemudian menjadi cikal bakal pelatihan komputer bicara. Langkah tersebut menandai babak baru dalam pemanfaatan teknologi aksesibel di Indonesia. Sedikit demi sedikit, Mitra Netra tumbuh menjadi salah satu pelopor pengembangan teknologi bagi tunanetra.
Tiga puluh lima tahun kemudian, bentuk perjuangan itu memang telah berubah. Kaset-kaset audio berganti menjadi buku digital dan EPUB. Rak-rak perpustakaan bergeser menjadi server daring. Tape recorder perlahan digantikan aplikasi pembaca layar.
Namun semangat yang melandasinya tetap sama: membuat tunanetra dapat membaca dunia secara mandiri.
Melalui Pustaka Mitra Netra Online, akses literasi kini menjangkau lebih banyak orang. Tercatat terdapat 3.549 koleksi buku dengan 4.257 pengguna terdaftar. Jumlah unduhan mencapai 47.161 kali, sementara pengunjung telah melampaui 1,5 juta orang. Koleksinya terdiri atas 2.586 buku EPUB dan 963 buku audio.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat ribuan kisah tentang individu yang akhirnya dapat mengakses pengetahuan tanpa harus menunggu orang lain membacakan buku untuk mereka.
Salah satu kisah itu datang dari Vivi Intan Pangestuti. Ia mengenal Mitra Netra sejak 2011 melalui teman sesama tunanetra yang kerap meminjam CD audio book dari perpustakaan Mitra Netra. Bertahun-tahun kemudian, Vivi memutuskan mengikuti kursus komputer secara luring di Jakarta.
Keputusan itu bukan hanya tentang belajar teknologi.
Ia juga ingin belajar menjalani hidup secara lebih mandiri.
Dari kelas komputer tersebut, Vivi memperoleh lebih dari sekadar kemampuan menggunakan Microsoft Office. Ia menemukan ruang yang membantunya tumbuh sebagai pribadi.
Sebagai seseorang yang mengaku pendiam dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, Mitra Netra memberinya pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bahkan pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya bukanlah soal komputer atau teknologi.
Ia menyebutnya dengan sederhana: belajar nongkrong.
Ungkapan itu mungkin terdengar ringan, tetapi menyimpan makna yang mendalam. Sebab kemandirian ternyata tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik atau keterampilan kerja. Kemandirian juga menyangkut keberanian untuk membangun relasi, berinteraksi, dan menjadi bagian dari lingkungan sosial.
Di titik inilah Mitra Netra menunjukkan perannya yang lebih luas. Ia tidak hanya bekerja dalam ranah pendidikan formal, tetapi juga menciptakan ruang sosial yang inklusif bagi penyandang tunanetra—sesuatu yang sering kali jarang dibicarakan.
Pengalaman serupa dirasakan Fachrial Agamas. Baginya, Mitra Netra menjadi tempat untuk mempelajari berbagai keterampilan yang dibutuhkan tunanetra dalam menjalani pendidikan maupun dunia kerja. Selain itu, tempat tersebut juga menjadi ruang untuk membangun jejaring sosial dengan sesama penyandang disabilitas netra.
Harapan Fachrial sederhana: agar Mitra Netra terus konsisten dan berkembang.
Namun di balik kesederhanaannya, harapan itu sesungguhnya menyimpan makna yang besar.
Sebab selama tiga puluh lima tahun, Mitra Netra memang tidak sekadar bertahan hidup. Ia terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Ketika produksi Braille menghadapi keterbatasan, mereka mengembangkan perangkat lunak Mitra Netra Braille Converter (MBC). Ketika internet membuka kemungkinan baru, mereka merintis Komunitas E-Braille Indonesia (KEBI).
Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, keberadaan perpustakaan daring Mitra Netra menjadi semakin penting. Karena bagi tunanetra, akses terhadap buku bukan sekadar persoalan membaca. Ia menyangkut kesempatan belajar, peluang bekerja, serta hak untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan sosial.
Tiga puluh lima tahun setelah berdiri, Mitra Netra tampaknya masih memegang mimpi yang sama seperti para pendirinya dahulu: menghadirkan tunanetra yang mandiri, cerdas, dan mampu memberi makna bagi masyarakat yang lebih inklusif.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin riuh oleh perkembangan teknologi, suara tape recorder tua yang dahulu merekam buku-buku dengan gangguan suara hujan, motor, dan hiruk-pikuk jalanan itu masih menyimpan pesan yang paling penting: bahwa akses terhadap pengetahuan tidak seharusnya menjadi kemewahan.
Ia adalah hak dasar.
Hak yang seharusnya dimiliki setiap manusia, termasuk seluruh tunanetra Indonesia, tanpa terkecuali.






















