• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

fusilat by fusilat
May 25, 2026
in Feature, Pendidikan
0
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Firdaus – Makasar

Di sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Jalan Keramat, Jakarta, sekitar tiga dekade silam, beberapa orang tunanetra bersama para sahabatnya memulai sesuatu yang mungkin saat itu terdengar mustahil: menghadirkan akses pendidikan yang layak bagi tunanetra di Indonesia. Tidak ada gedung megah, tidak ada fasilitas modern, apalagi teknologi canggih. Yang tersedia hanyalah tape recorder, kaset-kaset bekas, dan keyakinan sederhana bahwa setiap manusia berhak membaca, belajar, dan mengenal dunia secara mandiri.

Dari ruangan kecil itulah lahir Yayasan Mitra Netra pada 14 Mei 1991. Kini, lembaga tersebut telah memasuki usia 35 tahun—usia yang cukup panjang bagi sebuah organisasi yang sejak awal memilih berjalan di jalur sunyi: memperjuangkan literasi dan pendidikan bagi penyandang disabilitas netra, sebuah wilayah yang selama bertahun-tahun sering luput dari perhatian publik maupun negara.

Nama “Mitra Netra” berarti sahabat tunanetra. Namun dalam perjalanan panjangnya, yayasan ini melampaui sekadar peran sebagai pendamping. Ia berkembang menjadi ruang belajar, pusat inovasi, sekaligus rumah sosial bagi ribuan tunanetra di Indonesia. Di tengah situasi ketika akses pendidikan sering kali harus diperjuangkan sendiri oleh penyandang disabilitas, Mitra Netra hadir sebagai jembatan yang menghubungkan keterbatasan dengan kesempatan.

Sejak awal, para pendiri Mitra Netra memahami bahwa persoalan terbesar yang dihadapi tunanetra sesungguhnya bukan terletak pada hilangnya penglihatan. Hambatan yang lebih besar justru muncul dari sistem yang belum siap menerima dan melayani kebutuhan mereka. Buku sulit diakses, guru tidak memahami huruf Braille, kampus tidak memiliki layanan adaptif, dan lingkungan pendidikan sering kali belum dirancang untuk semua orang.

Akibatnya, pendidikan menjadi perjalanan yang jauh lebih berat bagi penyandang tunanetra.

Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan langkah pertama Mitra Netra: membuka akses membaca. Buku-buku mulai direkam secara manual ke dalam kaset audio. Relawan membacakan isi buku menggunakan tape recorder sederhana. Prosesnya jauh dari sempurna. Terkadang suara kendaraan yang melintas, hujan yang turun, bahkan suara pedagang bakso ikut terekam dalam kaset-kaset tersebut.

Namun justru dari cara sederhana itulah lahir sesuatu yang besar: akses terhadap pengetahuan.

Bagi banyak tunanetra pada masa itu, rekaman-rekaman tersebut mungkin menjadi jendela pertama yang membuka dunia lebih luas.

Perjalanan Mitra Netra tidak berhenti di sana. Pada 1992, lembaga ini mengembangkan kursus mengetik sepuluh jari bagi tunanetra yang kemudian menjadi cikal bakal pelatihan komputer bicara. Langkah tersebut menandai babak baru dalam pemanfaatan teknologi aksesibel di Indonesia. Sedikit demi sedikit, Mitra Netra tumbuh menjadi salah satu pelopor pengembangan teknologi bagi tunanetra.

Tiga puluh lima tahun kemudian, bentuk perjuangan itu memang telah berubah. Kaset-kaset audio berganti menjadi buku digital dan EPUB. Rak-rak perpustakaan bergeser menjadi server daring. Tape recorder perlahan digantikan aplikasi pembaca layar.

Namun semangat yang melandasinya tetap sama: membuat tunanetra dapat membaca dunia secara mandiri.

Melalui Pustaka Mitra Netra Online, akses literasi kini menjangkau lebih banyak orang. Tercatat terdapat 3.549 koleksi buku dengan 4.257 pengguna terdaftar. Jumlah unduhan mencapai 47.161 kali, sementara pengunjung telah melampaui 1,5 juta orang. Koleksinya terdiri atas 2.586 buku EPUB dan 963 buku audio.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat ribuan kisah tentang individu yang akhirnya dapat mengakses pengetahuan tanpa harus menunggu orang lain membacakan buku untuk mereka.

Salah satu kisah itu datang dari Vivi Intan Pangestuti. Ia mengenal Mitra Netra sejak 2011 melalui teman sesama tunanetra yang kerap meminjam CD audio book dari perpustakaan Mitra Netra. Bertahun-tahun kemudian, Vivi memutuskan mengikuti kursus komputer secara luring di Jakarta.

Keputusan itu bukan hanya tentang belajar teknologi.

Ia juga ingin belajar menjalani hidup secara lebih mandiri.

Dari kelas komputer tersebut, Vivi memperoleh lebih dari sekadar kemampuan menggunakan Microsoft Office. Ia menemukan ruang yang membantunya tumbuh sebagai pribadi.

Sebagai seseorang yang mengaku pendiam dan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, Mitra Netra memberinya pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Bahkan pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya bukanlah soal komputer atau teknologi.

Ia menyebutnya dengan sederhana: belajar nongkrong.

Ungkapan itu mungkin terdengar ringan, tetapi menyimpan makna yang mendalam. Sebab kemandirian ternyata tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik atau keterampilan kerja. Kemandirian juga menyangkut keberanian untuk membangun relasi, berinteraksi, dan menjadi bagian dari lingkungan sosial.

Di titik inilah Mitra Netra menunjukkan perannya yang lebih luas. Ia tidak hanya bekerja dalam ranah pendidikan formal, tetapi juga menciptakan ruang sosial yang inklusif bagi penyandang tunanetra—sesuatu yang sering kali jarang dibicarakan.

Pengalaman serupa dirasakan Fachrial Agamas. Baginya, Mitra Netra menjadi tempat untuk mempelajari berbagai keterampilan yang dibutuhkan tunanetra dalam menjalani pendidikan maupun dunia kerja. Selain itu, tempat tersebut juga menjadi ruang untuk membangun jejaring sosial dengan sesama penyandang disabilitas netra.

Harapan Fachrial sederhana: agar Mitra Netra terus konsisten dan berkembang.

Namun di balik kesederhanaannya, harapan itu sesungguhnya menyimpan makna yang besar.

Sebab selama tiga puluh lima tahun, Mitra Netra memang tidak sekadar bertahan hidup. Ia terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Ketika produksi Braille menghadapi keterbatasan, mereka mengembangkan perangkat lunak Mitra Netra Braille Converter (MBC). Ketika internet membuka kemungkinan baru, mereka merintis Komunitas E-Braille Indonesia (KEBI).

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, keberadaan perpustakaan daring Mitra Netra menjadi semakin penting. Karena bagi tunanetra, akses terhadap buku bukan sekadar persoalan membaca. Ia menyangkut kesempatan belajar, peluang bekerja, serta hak untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan sosial.

Tiga puluh lima tahun setelah berdiri, Mitra Netra tampaknya masih memegang mimpi yang sama seperti para pendirinya dahulu: menghadirkan tunanetra yang mandiri, cerdas, dan mampu memberi makna bagi masyarakat yang lebih inklusif.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin riuh oleh perkembangan teknologi, suara tape recorder tua yang dahulu merekam buku-buku dengan gangguan suara hujan, motor, dan hiruk-pikuk jalanan itu masih menyimpan pesan yang paling penting: bahwa akses terhadap pengetahuan tidak seharusnya menjadi kemewahan.

Ia adalah hak dasar.

Hak yang seharusnya dimiliki setiap manusia, termasuk seluruh tunanetra Indonesia, tanpa terkecuali.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menghidupkan Ruh PAI di Madrasah: Strategi Taktis Menanamkan Soft Skills Pasca-Pembatasan Gawai

Next Post

Mata Terbuka, Pikiran Tertutup: Ketika Tunanetra Ingin Menulis dan yang Awas Malas Membaca

fusilat

fusilat

Related Posts

Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra
Feature

Mata Terbuka, Pikiran Tertutup: Ketika Tunanetra Ingin Menulis dan yang Awas Malas Membaca

May 25, 2026
Feature

Menghidupkan Ruh PAI di Madrasah: Strategi Taktis Menanamkan Soft Skills Pasca-Pembatasan Gawai

May 25, 2026
Menkomdigi Meutya Hafid Lantik  Pejabat di Lingkungan Kemenkom Digi
Feature

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

May 25, 2026
Next Post
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

Mata Terbuka, Pikiran Tertutup: Ketika Tunanetra Ingin Menulis dan yang Awas Malas Membaca

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

Mata Terbuka, Pikiran Tertutup: Ketika Tunanetra Ingin Menulis dan yang Awas Malas Membaca

May 25, 2026
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

May 25, 2026

Menghidupkan Ruh PAI di Madrasah: Strategi Taktis Menanamkan Soft Skills Pasca-Pembatasan Gawai

May 25, 2026
Menkomdigi Meutya Hafid Lantik  Pejabat di Lingkungan Kemenkom Digi

Taruhan Prabowo Lengser Bikin Geger: Mengapa Komdigi Bergerak Secepat Kilat?

May 25, 2026
Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali

Ternyata Salah Ucap – Gaji Guru Naik 300 Kali

May 25, 2026
Mata yang Kehilangan Takjub Sesungguhnya Telah Tertutup

Mata yang Kehilangan Takjub Sesungguhnya Telah Tertutup

May 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

Mata Terbuka, Pikiran Tertutup: Ketika Tunanetra Ingin Menulis dan yang Awas Malas Membaca

May 25, 2026
Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

Dari Kaset Bekas ke Perpustakaan Digital: 35 Tahun Mitra Netra Membuka Jalan Literasi Tunanetra

May 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...