• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

DUSTA YANG INGIN DIMEDIASI

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
November 22, 2025
in Feature, Law
0
Yakup Hasibuan, Kuasa Hukum Jokowi Datangi Bareskrim Polri, Serahkan ijazah Asli
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Dalam percakapan whatsapp di suatu pagi yang tampak biasa, sebuah kabar beredar: kasus ijazah palsu itu akan dibawa ke ruang mediasi. Kata “mediasi” diulang, seperti mantra yang ingin menenangkan, seolah semua persoalan dapat diurai dengan keramahan, dengan senyum yang meredam silang sengketa. Tapi sesuatu terasa ganjil. Mediasi dilakukan ketika dua pihak punya versi kebenaran yang setara, atau ketika sebuah perselisihan murni teknis, murni administratif. Mediasi tidak diperuntukkan bagi kebenaran yang dicabut dari akarnya. Tidak untuk dusta yang merusak sendi moral sebuah republik. Karena pertanyaan pertama yang bangkit, sederhana saja: apa yang sebenarnya hendak dimediasi?

Sejak awal publik yang mendukung figur-figur seperti Roy, Rismon dan Tifa—orang-orang yang masih percaya integritas harus menjadi pondasi politik—tidak meminta banyak. Mereka tidak menuntut kesempurnaan. Mereka tidak memerlukan pemimpin yang suci tanpa cela. Yang mereka inginkan hanyalah pejabat yang tidak menganggap kebohongan sebagai teknik. Mereka ingin republik yang tidak dikendalikan oleh manipulasi kecil yang dibiarkan tumbuh menjadi tradisi besar. Mereka ingin pemerintahan yang tidak menyembunyikan sesuatu dari rakyatnya. Pertanyaannya: bisakah nilai-nilai itu ditawar? Apakah kejujuran bisa dinegosiasikan di meja perundingan layaknya sengketa perdata?

Kasus ijazah palsu bukan semata arsip yang hilang, bukan kesalahan ketik yang diperbaiki di esok hari. Ia mengandung sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah riwayat dusta yang merembes pelan, lalu menetap. Ia bukan persoalan administratif—ia persoalan moral. Dan moral, sejak awal sejarah filsafat, tidak pernah menjadi wilayah tawar-menawar. Kita mungkin dapat menawar harga beras, menawar biaya proyek, menawar masa kampanye. Tapi menawar dusta berarti menawar fondasi yang mendirikan republik ini.

Rocky Gerung pernah mengatakan bahwa kasus ijazah palsu itu, pada hakikatnya, menyentuh tekad bangsa untuk menegakkan etika anti-dusta. Ucapan itu, entah bagaimana, terdengar seperti gema lama dari tradisi yang lebih tua dari republik ini sendiri. Ia seperti pantulan dari ajaran para pujangga Jawa tentang kejujuran sebagai inti kepemimpinan. “Seorang pemimpin bukanlah ia yang serba tahu,” tulis Yasadipura, “melainkan ia yang tak membiarkan dirinya berdiri di atas dusta.” Ada nada getir dalam kata-kata itu ketika dibawa ke era kita sekarang—ketika dusta diperlakukan seperti kesalahan yang dapat diselesaikan dengan surat kuasa dan meja bundar.

Di negara modern, dusta bukan hanya persoalan karakter individu; ia adalah persoalan struktur. Kita terlalu sering membiarkan kebohongan tumbuh menjadi kebiasaan. Dari laporan keuangan yang dibengkokkan, dari angka statistik yang disulap, hingga ijazah yang tidak pernah ada tetapi dicatat seolah nyata. Dan setiap kali kita membiarkan satu dusta lewat tanpa konsekuensi, kita sedang menuliskan preseden: bahwa kebenaran dapat dimanipulasi, bahwa integritas dapat diatur besar kecilnya sesuai kebutuhan politik.

Apa yang disebut politik dusta itu tidak pernah sekadar tentang satu orang. Ia adalah proses menyeluruh yang melibatkan pembiaran. Ia memerlukan birokrasi yang enggan memeriksa. Ia membutuhkan partai politik yang menutup mata. Ia mengandalkan media yang letih, publik yang terlanjur pasrah, dan elit yang memutuskan bahwa stabilitas lebih penting daripada transparansi. Pada titik itu, dusta bukan lagi kejadian individual; ia menjadi ekosistem.

Banyak orang mungkin bertanya, mengapa urusan ijazah—sebuah hal yang tampak sederhana—harus membuat republik terguncang? Tetapi republik yang sehat menggantungkan masa depannya pada hal-hal sederhana semacam itu. Sebab dusta kecil yang dibiarkan tidak lagi kecil. Ia menjadi model. Ia menjadi template perilaku pejabat berikutnya. Republik kehilangan orientasinya ketika para pemimpinnya membiarkan kebohongan menjadi bagian dari prosedur. Ketika itu terjadi, mediasi tidak lagi menjadi proses mencari mufakat, melainkan cara halus untuk menyapu sesuatu ke bawah karpet.

Pada titik inilah publik bertanya: apakah mungkin sebuah negara berjalan tanpa integritas? Ada negara yang bertahan tanpa demokrasi, tanpa pasar bebas, bahkan tanpa oposisi. Tetapi tidak ada negara yang bertahan tanpa kepercayaan. Kepercayaan bukan institusi formal yang dapat dibentuk lewat UU. Ia lahir dari pengalaman publik bahwa pemimpinnya tidak akan menipu mereka. Ketika sebuah kasus dusta dibawa ke meja mediasi, publik bukan hanya melihat proses hukum; mereka melihat ukuran moral bangsa.

Kita ingat bagaimana filsafat sejak Plato membedakan berbagai jenis dusta. Ada noble lie, dusta yang konon disampaikan demi kebaikan bersama. Ada dusta manipulatif. Ada dusta destruktif. Tetapi kasus ijazah palsu tidak termasuk salah satu dari itu. Ia bukan dusta untuk menyelamatkan nyawa atau menyelamatkan negara dari perang. Ia adalah dusta untuk memoles citra, mempermudah jalan menuju jabatan, dan kemudian mempertahankan kekuasaan. Tidak ada kemuliaan di sana.

Dalam perspektif Hannah Arendt, kebohongan politik selalu berbahaya bukan hanya karena ia menipu, tetapi karena ia merusak realitas bersama. Masyarakat yang kehilangan realitas bersama akan mudah dibelokkan; mereka tidak lagi mampu membedakan mana sejarah yang benar dan mana yang dikarang. Ketika realitas bersama itu diganggu, yang muncul bukan sekadar kabut ketidakpastian, melainkan erosi kolektif terhadap kemampuan untuk berpikir. Suatu bangsa bisa bertahan tanpa banyak hal, tapi tidak tanpa kemampuan berpikir.

Di sinilah persoalan mediasi terasa janggal. Mediasi mengasumsikan bahwa ada jalan tengah antara “berbohong” dan “tidak berbohong”. Tetapi tidak ada jalan tengah untuk etika. Etika tidak mengenal warna abu-abu ketika yang dipersoalkan adalah kejujuran dasar. Publik yang menuntut penyelidikan bukan sedang menuntut kemenangan politik. Mereka hanya meminta republik kembali ke relnya: bahwa pejabat publik tidak boleh membangun karier di atas klaim palsu. Bahwa seorang pemimpin tidak boleh berdiri di atas ijazah yang tidak pernah ia genggam.

Di beberapa titik sejarah kita melihat bangsa-bangsa memilih integritas dengan harga yang mahal. Di Korea Selatan, seorang presiden mengundurkan diri karena plagiarisme di tesis doktoralnya. Di Jerman, seorang menteri pertahanan kehilangan jabatan karena kutipan yang tidak jujur. Di Jepang, seorang pejabat tinggi mundur hanya karena menerima hadiah kecil yang melanggar etika. Bagi mereka, kejujuran bukan aksesori; ia syarat.

Di Indonesia kita masih mencari bentuk. Kita masih belajar bahwa demokrasi bukan hanya tentang menang pemilu, tetapi tentang memelihara kejujuran dasar yang membuat republik layak dihuni. Kasus ijazah palsu bukan soal dendam politik atau serangan pribadi. Ia adalah cermin yang dipasang di depan kita: apakah kita bangsa yang menoleransi dusta? Apakah kita bangsa yang menganggap integritas sebagai opsi, bukan kewajiban?

Jika kasus ini benar-benar dibawa ke ruang mediasi, maka mediasi itu akan menyimpan risiko: bangsa ini bisa kehilangan kesempatan untuk mengatakan bahwa dusta tidak punya tempat. Bahwa republik ini ingin dibangun di atas kejujuran, bukan kelicikan. Bahwa generasi yang akan datang berhak atas pemerintahan yang tidak takut pada kebenaran.

Barangkali inilah saatnya kita mengingat kalimat lama yang pernah diulang para pemikir besar: bahwa kebenaran hanya memiliki satu musuh, yaitu kompromi. Bila dusta dinegosiasikan, maka ia sedang diberi hak hidup. Bila republik membiarkan kebenaran dinegosiasikan, maka republik sedang merelakan dirinya goyah.

Dan mungkin, pada akhirnya, mediasi bukan yang kita perlukan. Yang kita perlukan adalah keberanian sederhana: keberanian untuk mengatakan bahwa kebenaran tidak tunduk pada perundingan. Sebuah bangsa yang ingin berdiri tegak harus mulai dari sana.===

Cimahi, 22 November 2025

Penulis:
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Gus Yahya Digoyang: Ada Apa dengan PBNU?

Next Post

KUNCI KECIL UNTUK MEMBUKA PINTU PERADABAN — Sebuah Renungan tentang Solusi yang Sering Kita Abaikan

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai
Economy

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026
Economy

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil
Feature

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Next Post
KUNCI KECIL UNTUK MEMBUKA PINTU PERADABAN — Sebuah Renungan tentang Solusi yang Sering Kita Abaikan

KUNCI KECIL UNTUK MEMBUKA PINTU PERADABAN — Sebuah Renungan tentang Solusi yang Sering Kita Abaikan

Membaca yang Tak Diucapkan: Analisa Terbalik atas Pernyataan Jokowi di Bloomberg Forum

Membaca yang Tak Diucapkan: Analisa Terbalik atas Pernyataan Jokowi di Bloomberg Forum

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...