• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Health

ELIT POLITIK DAN BISNIS DARAH NEGARA

M.Yamin Nasution by M.Yamin Nasution
June 11, 2025
in Health, Politik
0
ELIT POLITIK DAN BISNIS DARAH NEGARA
Share on FacebookShare on Twitter
Muhammad Yamin Nasution

Oleh: Yamin Nasution-Pemerhati Hukum

Narasi tentang lemahnya negara negara rapuh “fragile states” bukan hanya istilah akademis atau jargon kebijakan. Di Indonesia, narasi ini telah menjadi alat negosiasi dan strategi bertahan hidup elite politik, dari pusat hingga daerah. Yang rapuh bukan semata negara, tapi kejujuran para pengelolanya.

Sejak kejatuhan Orde Baru, Indonesia memang menghadapi krisis sektoral, konflik di Aceh dan Papua, ketimpangan pembangunan, dan lemahnya institusi hukum. Tapi semua itu tidak menjadikan Indonesia negara gagal. Yang terjadi justru sebaliknya, elite politik memanfaatkan narasi kelemahan itu untuk mencari legitimasi, bantuan asing, dan kuasa lebih besar.

Felix Heiduk dalam The Political Invention of Fragile States (2014) menyebut Indonesia mengalami disintegrasi kekuasaan secara selektif. Negara tidak bubar, tapi kekuasaan dipecah, dinegosiasikan, dan didistribusikan ulang oleh para elite lokal dan militer. Konflik dijadikan panggung. Bencana dijadikan proyek. Negara “dilemahkan” secara strategis.

Fenomena ini mulai kentara pada 1999–2005. Di masa Presiden Abdurrahman Wahid, negara membuka ruang dialog internasional, termasuk dengan PBB, terkait Papua dan Maluku. Gus Dur memang tidak menyebut Indonesia sebagai negara rapuh, tapi ia membuka pintu bagi bantuan internasional dalam proses rekonsiliasi.

Narasi yang lebih terbuka datang dari Lukas Enembe, Gubernur Papua (2013–2023). Ia secara eksplisit mendukung laporan pelanggaran HAM ke Dewan HAM PBB pada 2019, meskipun tidak mewakili negara secara resmi. Dalam bahasa politik, itu adalah sinyal, elite lokal menggunakan narasi fragilitas sebagai alat tekanan terhadap pusat.

Hal serupa juga terjadi di sektor iklim dan kebencanaan. Beberapa kementerian di era SBY dan Jokowi menggunakan pendekatan “negara rentan” untuk mengakses pendanaan internasional, seperti Green Climate Fund. Dalihnya, kapasitas negara terbatas, butuh pendampingan global. Hasilnya? Dana cair, proyek jalan, tapi akar masalah tetap dibiarkan.

Jonathan Fisher menulis bahwa di Uganda, Presiden Museveni sengaja mempertahankan citra negara lemah agar bisa meraih simpati donor sambil membungkam oposisi. Indonesia belum sejauh itu, tapi pola pikirnya mulai serupa: tampil rapuh, agar proyek terus mengalir.

Inilah yang disebut fragilitas sebagai komoditas. Bukan lagi kelemahan institusional, tapi narasi kelemahan yang disengaja. Negara tampak perlu dibantu, padahal bantuan itu justru dikelola oleh aktor yang membuat negara lemah sejak awal.

Siapa yang diuntungkan? Jelas, para elite politik dan teknokrat yang duduk di kursi pengelola proyek. Mereka yang bicara soal “penguatan kapasitas negara” sambil menutup mata terhadap korupsi, kekerasan aparat, dan ketimpangan layanan publik. Masyarakat hanya jadi latar belakang data, bukan penerima keadilan.

Masalahnya, semakin sering negara digambarkan lemah, semakin leluasa elite mengambil peran penyelamat. Mereka membangun citra bahwa hanya mereka yang bisa memperbaiki kekacauan yang mereka ciptakan sendiri. Ini jebakan. Negara dibangun atas dasar kepercayaan publik, bukan rasa kasihan lembaga donor.

Narasi negara rapuh perlu kita waspadai. Bukan karena ia sepenuhnya salah, tapi karena ia bisa menjadi kedok kekuasaan. Kita perlu melawan proyek-proyek yang lebih sibuk mencitrakan kelemahan daripada memperkuat demokrasi, hukum, dan kesejahteraan nyata.

Kalau elite terus memainkan fragilitas sebagai strategi politik, maka yang akan hancur bukan institusi, tapi harapan rakyat atas negara yang adil.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Selamatkan NKRI dari Api yang Menjalar dari Timur dan Barat: Presiden Harus Batalkan SK Mendagri dan Izin ESDM di Raja Ampat

Next Post

Bangsa yang Takut Bercermin – Otokritik atas Watak Kolektif Manusia Indonesia

M.Yamin Nasution

M.Yamin Nasution

Related Posts

Feature

SUMPAH JABATAN 2004–2029: ANTARA KONSTITUSI DAN VISI-MISI POLITIK

May 10, 2026
Rahasia Umur Panjang – Jepang dan Generasi Hikikomori: Ketika Orang Tua 90 Tahun Masih Mengurus Anak Usia 60 Tahun
Atarashi Watch On

Rahasia Umur Panjang – Jepang dan Generasi Hikikomori: Ketika Orang Tua 90 Tahun Masih Mengurus Anak Usia 60 Tahun

May 10, 2026
Negara Membiayai Peracun Rakyat: Ironi di Balik Piring Makan Bergizi
Feature

Negara Membiayai Peracun Rakyat: Ironi di Balik Piring Makan Bergizi

May 9, 2026
Next Post
Bangsa yang Takut Bercermin – Otokritik atas Watak Kolektif Manusia Indonesia

Bangsa yang Takut Bercermin - Otokritik atas Watak Kolektif Manusia Indonesia

Kekalahan Timnas Indonesia Jadi Bahan Evaluasi Menjelang Ronde Keempat Kualifikasi Piala Dunia

Kekalahan Timnas Indonesia Jadi Bahan Evaluasi Menjelang Ronde Keempat Kualifikasi Piala Dunia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Teddy is The Real President!

by Karyudi Sutajah Putra
May 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Kegelisahan Amien Rais adalah kegelisahan kita semua....

Read more
Berkat Perseretuan PDIP vs Jokowi, PDIP Cabut Laporan Terhadap RG Terkait Sangkaan Pencemaran Nama Baik Jokowi

Rocky Gerung yang Tak Lagi Menggerung

May 10, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Mendadak Ayam Sayur

May 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
MMS Dorong Menteri LH Jumhur Hidayat Berani dan Tegas Pulihkan Lingkungan Hidup Indonesia

MMS Dorong Menteri LH Jumhur Hidayat Berani dan Tegas Pulihkan Lingkungan Hidup Indonesia

May 11, 2026

Usia Panjang: Barokah atau Sebaliknya? (Ketika Panjang Umur Tidak Selalu Berarti Panjang Manfaat)

May 11, 2026
Militerisme dan Candu Korupsi Bea Cukai

Militerisme dan Candu Korupsi Bea Cukai

May 11, 2026
Halalbihalal Alumni SMP Pertiwi 1973-1976: Wajah Boleh Menua, Persahabatan Tetap Menyala

Halalbihalal Alumni SMP Pertiwi 1973-1976: Wajah Boleh Menua, Persahabatan Tetap Menyala

May 11, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Teddy is The Real President!

May 11, 2026

Cinta atau Takut kepada Allah? – (Ketika Iman Tidak Lagi Diukur dari Seberapa Banyak Kita Tahu, Tetapi Seberapa Dalam Kita Menjaga Diri)

May 11, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

MMS Dorong Menteri LH Jumhur Hidayat Berani dan Tegas Pulihkan Lingkungan Hidup Indonesia

MMS Dorong Menteri LH Jumhur Hidayat Berani dan Tegas Pulihkan Lingkungan Hidup Indonesia

May 11, 2026

Usia Panjang: Barokah atau Sebaliknya? (Ketika Panjang Umur Tidak Selalu Berarti Panjang Manfaat)

May 11, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...