By, Optic Macca
STRIP — Apakah masih masuk akal di era modern ini, orang-orang tetap percaya pada dukun, kemenyan, dan air kembang tujuh rupa?
Sebab, rujukan setan memang jelas: apa pun yang diperintahkan “orang pinter”, ia ikuti begitu saja. Terbukti, hanya bermodal ijazah setingkat SMP—ditambah CV palsu dan diploma palsu—sosok itu bisa berkuasa hingga dua periode.
Padahal, bagi kaum beriman, Sang Mister Djoko (dengan embel-embel “Wie”) seharusnya menjadi ujian akal sehat. Ujian: apakah kita masih punya otak waras, terlebih sebagai pemilik dan pengguna sila-sila dasar negara. Apakah kita konsisten dengan rukun iman, atau malah terjebak pragmatisme politik? Sayangnya, kenyataan berkata lain.
Masyarakat akhirnya tertipu. Lebih parah lagi, mereka ditunggangi oleh para “bahaya laten lovers” lintas kalangan, kaum klenikisme yang hobi memuja. Lalu terbentuklah kristalisasi persekongkolan multi-kepentingan: antek asing, sekuleris, imperialis, orientalis, hingga hedonis. Modal agitasi mereka sederhana: memanfaatkan karakter mayoritas bangsa yang masih setia dengan mazhab teori jilatisme—produk budaya feodalisme, animisme-klenikisme, ditambah “kenikmatan duniawi” yang memabukkan.
Padahal cukup, seandainya masyarakat mau benar-benar memedomani dan mempraktikkan falsafah Pancasila, memegang teguh nilai agama masing-masing, serta berani menggunakan akal sehat. Dan yang tak kalah penting: berani bersuara lantang di ruang publik, bukan sekadar omon-omon di ruang sempit.
Lalu, mengapa cebong selalu tampak seperti “winner” (always champion)? Karena mereka tidak hanya bicara. Mereka konsisten menjilat dan mendukung Mister Djoko.
Ironisnya, bahkan di tengah gelombang kehancuran, kaum “oonisme-edunisme” itu masih setia mempraktikkan metode JILATISME.























