Fusilatnews – Youtuber Darso Arief baru-baru ini melaporkan penurunan signifikan jumlah santri di pesantren Darul Qur’an milik Yusuf Mansur. Dari sekitar 500 santri pada tahun 2020, kini hanya tersisa 114 pada tahun 2025. Angka ini bukan sekadar statistik; ia mencerminkan menurunnya kepercayaan publik terhadap sosok yang dulu dielu-elukan sebagai “ustaz pengusaha sukses” yang mampu menggabungkan spiritualitas dan bisnis dalam satu napas.
Fenomena ini juga tercermin dari hilangnya sosok Yusuf Mansur dari layar kaca. Jika dulu ia nyaris selalu hadir dalam program ceramah di televisi swasta, kini suaranya menghilang. Yang tersisa hanyalah akun Instagram dengan ribuan pengikut, tempat ia terus memasarkan “produk-produk spiritual” berupa doa, dzikir, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang diklaim mampu menyelesaikan berbagai persoalan hidup—dari rezeki seret hingga jodoh yang tak kunjung datang.
Namun, realitas berbicara lain. Di berbagai platform, terutama TikTok, cuplikan ceramah-ceramahnya justru menjadi bahan olok-olok. Banyak yang menilai isi ceramahnya terlalu duniawi—terlalu sering membahas cara cepat mendapat rezeki, keberuntungan, dan kekayaan, seolah agama hanyalah alat untuk mengejar kenyamanan materi. Puncaknya, ketika beredar informasi bahwa untuk dibacakan surat Al-Fatihah oleh 500 santrinya, seseorang harus membayar Rp10 juta. Praktik semacam ini menimbulkan pertanyaan mendasar: masihkah ini dakwah, atau sudah bergeser menjadi komoditas spiritual?
Ironinya, apa yang ia ajarkan justru tak terjadi pada dirinya. Tak ada doa, dzikir, atau ayat tertentu yang mendatangkan keajaiban sebagaimana yang ia janjikan kepada jamaahnya. Alih-alih memperoleh keberkahan, yang muncul justru rentetan kegagalan investasi, konflik dengan jamaah, dan tudingan penipuan yang tak kunjung reda. Wacana “mau membeli Manchester United” atau “pabrik Boeing” bahkan menjadi bahan tertawaan netizen—sebuah simbol dari betapa jauh antara klaim spiritual dan kenyataan yang dihadapi.
Dalam konteks ini, Yusuf Mansur bukan sekadar seorang pendakwah yang gagal, melainkan cermin dari krisis otentisitas dalam dunia dakwah modern. Ketika agama dijadikan alat jualan, maka yang dijual bukan lagi nilai-nilai ketulusan dan rahman~rahim, melainkan mimpi-mimpi kosong yang dibungkus dengan ayat suci.
Dan di tengah semua itu, publik kini semakin sadar: mukjizat sejati bukan datang dari mereka yang pandai menjual doa, melainkan dari mereka yang hidup dengan kejujuran dan keteladanan. Sebab, doa yang paling mustajab adalah perilaku yang selaras antara ucapan dan perbuatan. Di titik ini, Yusuf Mansur telah gagal—bukan karena doanya tidak didengar, tapi karena hidupnya sendiri telah kehilangan makna dari doa itu.


























