• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Gabah Basah, Janji Kering: Ironi Ketika Petani Ditinggal Sendiri

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
June 17, 2025
in Economy, Feature
0
Gabah Apa Adanya: Untung di Atas Kertas, Risiko di Tangan Bulog
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat

Gabah kering panen (GKP) adalah gabah yang telah dipanen dan dikeringkan hingga kadar airnya mencapai sekitar 14% atau kurang. Pada tahap ini, gabah siap disimpan atau dijual, serta mampu menghasilkan beras berkualitas tinggi. GKP juga memiliki kelebihan: daya simpan lama, mudah ditransportasikan, dan tidak mudah rusak.

Sebaliknya, gabah basah—yang masih mengandung kadar air 20–30%—adalah tantangan abadi petani, terutama saat musim panen berbarengan dengan hujan. Tanpa sinar matahari, proses penjemuran menjadi mandek. Hasilnya, kualitas gabah menurun, dan otomatis harga jual pun anjlok.

Petani sangat memahami bahwa jika kadar air tidak mencapai 14%, harga gabah mereka tidak akan menyentuh standar Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Semakin tinggi kadar air, semakin turun pula harga. Petani bukan tak tahu, mereka hanya tak berdaya.

Masalahnya, petani selalu dihadapkan pada ironi kebijakan. Saat mereka butuh alat pengering, yang datang justru bantuan traktor. Padahal, traktor bukan solusi saat paska panen menghadang dengan tantangan kadar air tinggi. Aspirasi petani jelas: jangan lagi beri kami traktor jika bukan itu yang kami butuhkan. Datangkan mesin pengering!

Pemerintah seharusnya hadir, bukan hanya hadir di panggung pidato, tetapi juga dalam bentuk nyata: kebijakan yang solutif dan implementatif. Presiden Jokowi sudah menegaskan: lebih baik membeli beras petani lokal daripada impor. Tapi pertanyaannya, apakah komitmen itu akan dibarengi dengan tindakan nyata di lapangan?

Di sinilah publik patut mencermati: apakah pernyataan Jokowi sekadar basa-basi politik? Jangan sampai slogan “Cintai Produk Dalam Negeri, Benci Produk Luar Negeri” hanya menjadi retorika yang kosong makna.

Karena faktanya, Bulog sebagai operator pengadaan gabah tentu tak bisa membeli gabah basah sembarangan. Sebagai BUMN, Bulog dituntut untung. Sementara membeli gabah dengan kadar air tinggi berarti menanggung risiko kerugian. Ini berbeda dengan era Orde Baru, di mana Bulog lebih bersifat sebagai alat stabilisasi sosial-ekonomi.

Maka, inilah dilema klasik: antara komitmen politik untuk melindungi petani dan tuntutan korporasi BUMN untuk tetap untung. Situasi ini ibarat buah simalakama. Jika Bulog beli gabah basah, ia bisa rugi. Jika tak beli, petani menjerit.

Solusinya? Pemerintah harus mengubah fokus kebijakan. Tak cukup hanya menjanjikan pembelian gabah, tetapi harus menyediakan fasilitas pengering gabah secara masif di sentra-sentra produksi. Dengan alat ini, setidaknya kadar air bisa ditekan mendekati angka 14%. Barulah keadilan harga bisa diwujudkan.

BMKG sudah lama mengingatkan soal anomali cuaca. Tapi kesiapan negara masih lemah. Ketika panen raya bertabrakan dengan hujan, gabah basah menjadi masalah serius. Dan ini bukan lagi sekadar persoalan teknis—melainkan ketidakpekaan struktural terhadap nasib petani.

Kini, akar masalahnya sudah jelas. Yang dibutuhkan petani bukan janji, melainkan keberpihakan nyata. Apakah negara bersedia membeli gabah petani dalam kondisi basah dengan harga yang layak? Apakah pemerintah benar-benar cinta pada produk dalam negeri? Ataukah ini hanya narasi untuk merawat citra kekuasaan?

Petani tidak sedang menuntut muluk-muluk. Mereka hanya ingin didengar dan dibantu dengan alat yang tepat. Karena jika negara abai, maka “gabah basah” bukan hanya soal air dan cuaca—melainkan simbol dari janji-janji yang mengering di ladang-ladang yang tetap basah oleh keringat dan harapan petani.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tuntutan Kembali ke UU RIS: Ketika Daerah Ingin Menentukan Nasibnya Sendiri

Next Post

Setelah HoaX BuzzerRp didiamkan, Kini Ujian Kedua ada Statemen Ijazah dibuat di Pasar Pramuka ?

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet
Feature

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026
Feature

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah
Feature

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
Next Post

Setelah HoaX BuzzerRp didiamkan, Kini Ujian Kedua ada Statemen Ijazah dibuat di Pasar Pramuka ?

Paradox Dua Era: Kolonial Belanda Membangun dan Kepemimpinan Jokowi Menghancurkan

Jebakan Kultus Individu: dari Bung Karno Hingga Prabowo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
News

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

by Karyudi Sutajah Putra
June 9, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-Banyak pihak, baik di eksekutif maupun legislatif, kini sedang ketar-ketir menunggu kelanjutan proses hukum dugaan tindak pidana korupsi...

Read more
Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

June 7, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

June 8, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...