Jakarta, FusilatNews – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa pihaknya yang akan menentukan akhir konflik di kawasan tersebut. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perang melawan Iran hampir selesai.
Dalam pernyataan resminya, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa masa depan konflik tidak berada di tangan Washington.
“Kamilah yang akan menentukan akhir perang,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip dari laporan kantor berita AFP, Selasa (10/3/2026).
IRGC juga menegaskan bahwa perkembangan situasi keamanan kawasan kini berada di tangan angkatan bersenjata Iran, bukan pasukan Amerika Serikat.
“Situasi dan status masa depan kawasan ini sekarang berada di tangan angkatan bersenjata kami; pasukan Amerika tidak akan mengakhiri perang,” lanjut pernyataan tersebut.
Trump Klaim Iran Hampir Kehilangan Kekuatan Militer
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran telah berjalan sangat efektif dan perang hampir mencapai akhir. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara telepon dengan CBS News pada Senin (9/3) waktu setempat dari klub golf miliknya di Doral, Florida.
Trump mengklaim kekuatan militer Iran telah mengalami kerusakan besar akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
“Saya pikir perang ini sudah sangat tuntas, hampir,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Ia menilai kemampuan militer Iran saat ini telah sangat melemah.
“Mereka tidak memiliki angkatan laut, tidak ada komunikasi, tidak memiliki angkatan udara. Rudal mereka tinggal sedikit, dan drone mereka dihancurkan di berbagai tempat, termasuk fasilitas produksi drone,” ujar Trump.
Operasi Militer “Epic Fury”
Konflik terbaru ini meningkat tajam sejak 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah target strategis di Iran. Operasi militer tersebut diberi nama “Operation Epic Fury.”
Menurut pernyataan militer AS, dalam pekan pertama operasi itu pasukan Amerika telah menyerang lebih dari 3.000 target militer di wilayah Iran, termasuk instalasi militer, fasilitas komunikasi, serta basis produksi drone.
Trump bahkan menyatakan bahwa operasi militer tersebut berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan awal.
“Kita sangat jauh lebih cepat dari jadwal,” ujarnya. Sebelumnya ia memperkirakan perang dapat berlangsung selama empat hingga lima pekan.
Namun ketika ditanya apakah perang akan segera berakhir, Trump memberikan jawaban yang lebih berhati-hati.
“Berakhirnya perang itu hanya ada di pikiran saya, bukan di pikiran orang lain,” kata Trump.
Eskalasi Ancaman di Timur Tengah
Pernyataan keras dari Garda Revolusi Iran menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari kata selesai. Sejumlah analis menilai respons Iran dapat memicu eskalasi lanjutan, terutama jika Teheran memutuskan melakukan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Ketegangan juga berpotensi melibatkan negara-negara lain di Timur Tengah, mengingat Iran memiliki jaringan milisi sekutu di berbagai wilayah seperti Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman.
Dengan saling mengklaim kemenangan dari kedua pihak, masa depan konflik ini masih sulit diprediksi dan berpotensi memicu instabilitas yang lebih luas di kawasan.
























