Oleh : DR. Ateng Kusnandar Adisaputra
Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, dan Dosen Luar Biasa di Universitas Al-Ghifari Bandung.
Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan yang tinggi dan juga berwawasan ilmu pengetahuan yang luas. Akan tetapi, meskipun ia seorang yang cerdas dan berilmu yang mumpuni, pemimpin tersebut tetap membuka diri untuk terus belajar
PADA saat memberikan materi kuliah kepemimpinan, selalu ada mahasiswa yang bertanya tentang gaya kepemimpinan yang cocok dan sesuai diterapkan oleh seorang pemimpin dalam memimpin suatu organisasi atau perusahaan. Demikian juga, sewaktu penulis menjadi pejabat administrasi sering terlontar pertanyaan yang menanyakan berkaitan dengan gaya kepemimpinan seorang pemimpin di level pemerintahan.
Gaya kepemimpinan seorang pemimpin dalam memimpin suatu organisasi atau perusahaan telah banyak dilakukan penelitian oleh para ahli di bidang manajemen, dan akan terus berkembang seiring dengan semakin berat dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh seorang pemimpin dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian.
Hughes (2002), menganalisis tiga mitos kepemimpinan, dan Nanus (2006), menganalisis lima mitos kepemimpinan. Delapan mitos-mitos kepemimpinan tersebut, : kepemimpinan yang baik berdasarkan akal sehat, para pemimpin dilahirkan, bukan dibentuk, hanya sekolah yang mengajarkan kepemimpinan, kepemimpinan merupakan keterampilan yang langka, pemimpin adalah orang yang berkharisma, kepemimpinan hanya ada di puncak organisasi, pemimpin mengendalikan, mengarahkan melecut, dan memanipulasi, satu-satunya tugas pemimpin adalah meningkatkan nilai para pemegang saham.
Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. (Miftah Thoha, 2013:49). Gaya kepemimpinan seorang pemimpin telah menunjukan bagaimana ia telah bisa mempengaruhi perilaku bawahannya supaya mengikuti visi, misi, program, dan kegiatan yang telah ditetapkannya.
Gaya kepemimpinan seorang pemimpin tentunya akan berbeda tergantung situasi dan kondisi organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya. Suatu saat seorang pemimpin menerapkan gaya kepemimpinan otokratis, karena ia memerlukan pengambilan keputusan dalam waktu yang mendesak dan harus cepat diselesaikan permasalahan yang terjadi di organisasi atau perusahaannya.
Pada saat yang lainnya, gaya kepemimpinan seorang pemimpin mungkin mempraktekan gaya kepemimpinan demokratis yang memberikan ruang terbuka kepada bawahannya untuk berpikir kreatif dan inovatif, memberikan masukan, sumbang saran, pendapat, melaksanakan musyawarah terhadap permasalahan yang dihadapi organsiasi atau perusahaannya. Seorang pempimpin yang demokratis akan dihormati dan disegani oleh bawahannya dan bukan ditakuti karena perilakunya. Gaya kepemimpinan seorang pemimpin yang demokratis biasanya akan cepat memberikan penghargaan kepada bawahan atau pengikutnya yang berprestasi di organisasi atau perusahaannya.
Bisa juga seorang pemimpin menerapkan gaya kepemimpinan paternalistik karena di organisasi atau perusahaannya masih kuat ikatan pimordial, kehidupan di organisasi atau perusahaannya yang komunalistik, peranan adat istiadat yang sangat kuat dalam kehidupan organisasi atau perusahaannya. Ada kelemahan dari gaya kepemimpinan paternalistik ini yakni pimpinan dapat bersikap terlalu melindungi para bawahan yang pada gilirannya dapat berakibat bahwa para bawahan atau pengikut itu takut bertindak karena takut berbuat kesalahan.
Humble Leadership Gaya Kepemimpinan Masa Kini
Jika memperhatikan konteks jaman yang terus berubah dari waktu ke waktu, terjadinya revolusi industri dan disrupsi, lingkup permasalahan yang semakin berat dan kompleks, kondisi generasi yang berbeda pula, maka perlu disikapi oleh seorang pemimpin dalam memimpin organisasi atau perusahaannya, salah satunya dengan mempraktekan humble leadership.
Nitin Nohria, seorang akademisi Harvard Business School memberikan tiga jenis humility yang perlu dimiliki oleh pemimpin masa kini, sehingga bisa menjadi pemimpin yang efektif serta berdampak positif bagi kemajuan organisasi atau perusahaannya.
Pertama adalah intellectual humility. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan yang tinggi dan juga berwawasan ilmu pengetahuan yang luas. Akan tetapi, meskipun ia seorang yang cerdas dan berilmu yang mumpuni, pemimpin tersebut tetap membuka diri untuk terus belajar tentang hal-hal yang baru yang berguna bagi organisasi atau perusahaannya. Pemimpin tersebut akan belajar dari siapapun juga, termasuk dari bawahannya sendiri, setiap saat, dan setiap waktu, dan tak mengenal kata lelah.
Kedua adalah moral humility. Melalui sikap moral humility, seorang pemimpin memiliki sikap terbuka terhadap pencapaian orang di organisasi atau perusahaannya. Melalui sikap ini juga, seorang pemimpin tidak merasa ekslusif dengan kelebihan dirinya, seperti merasa sok pintar. Seorang pemimpin yang memiliki sikap moral humility selalu memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap bawahannya yang berprestasi.
Ketiga adalah personal humility. Pemimpin yang personal humilitynya tinggi, akan berbagi peran bersama pengikutnya. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk berbicara menyampaikan ide, gagasan yang positif dan kontruktif. Pemimpin yang kerendahan personalnya tinggi tidak gila akan kekuasaan, ia tetap rendah hati kepada pengikutinya.
Mari berefleksi dan membuat perubahan melalui tiga jenis humility bagi kemajuan organisasi atau perusahaan. Aamiin. (*)


























