Fusilatnews – Ada semacam kesamaan nasib antara kulit Jokowi yang gatal-gatal dan ijazahnya yang dulu sempat bikin orang garuk-garuk kepala. Keduanya menderita satu penyakit: tak ada keterangan resmi.
Ijazahnya dulu, kata orang-orang dari UGM, ya sah-sah saja, tapi rakyat tak pernah disuguhi langsung bukti yang menghapus keraguan. Sama seperti alergi kulitnya sekarang—yang katanya ringan, katanya tak menular, katanya tak ganggu aktivitas, katanya muncul usai dari Vatikan—juga hanya berdasarkan satu sumber: ajudan pribadi. Ya, ajudan. Bukan dokter. Bukan tim medis. Apalagi rilis dari rumah sakit resmi.
Kita tidak bisa menyalahkan rakyat bila kemudian opini berseliweran seperti jemuran di musim kemarau. Ada yang bilang Jokowi kena Stevens-Johnson Syndrome, ada yang bilang autoimun, ada pula yang curiga ini efek dari vaksin atau obat keras. Yang lain lebih sarkastis: mungkin ini karma politik. Semua bersuara, semua menduga, karena tidak ada yang menjelaskan dengan terang.
Ajudannya sih bilang, “Bapak sehat, alergi biasa saja, kok. Tidak panas, tidak gatal.” Tapi, wahai ajudan, yang kamu sebut bukan diagnosis, itu hanya semacam ghibah medis. Kita ini rakyat, bukan pasien; kita butuh kejelasan, bukan ketenangan yang diusahakan lewat retorika.
Yang bikin tambah runyam, Jokowi bukan Presiden lagi. Secara hukum, ia sudah bukan kepala negara, jadi rumah sakit kepresidenan tak lagi wajib menangani, tim dokter istana tak perlu membuat laporan, dan negara tak punya alasan untuk menyembunyikan fakta medisnya—kalau memang ada. Tapi ironisnya, justru setelah tak menjabat pun, misterinya masih seperti hantu negara: tak kasatmata, tapi terasa menekan.
Kalau benar hanya alergi, kenapa tidak diumumkan langsung oleh dokter independen? Kenapa tidak disampaikan dalam konferensi pers terbuka? Ini bukan sekadar jerawat remaja. Ini mantan kepala negara, tokoh yang masih mengatur bidak-bidak politik lewat putra-putranya. Wajar bila rakyat menuntut transparansi, bukan testimoni dari pengawal pribadi.
Sialnya, kondisi makin absurd. Mobilitas menurun. Tidak terlihat di acara-acara publik. Upacara 17 Agustus nanti katanya mau diwakili. Istana, yang dulu doyan sekali membela hal remeh-temeh, kini memilih diam seribu kata. Maka, dugaan publik berubah jadi gunung. Yang semula cuma ruam di leher, kini naik jadi tanda tanya nasional.
Ini Indonesia, Bung. Di sini, jika tak ada kejelasan, yang tumbuh bukan simpati tapi kecurigaan. Dan bila lingkaran kekuasaan terus bungkam, maka kelak kita mungkin akan menyamakan alergi kulit Jokowi dengan ijazahnya: tak jelas asal usulnya, tapi dampaknya luar biasa.
























