Bila diibaratkan seorang perempuan, maka Golkar itu adalah wanita tambun (obesitas), tidak punya daya tarik, geraknya tidak lincah, memakai busana apa saja pun tetap tidak menarik. Inilah majas yang ingin saya bangun, berkaitan dengan keputusannya mengusung Gibrang sebagai bacawapres Prabowo Subianto.
Akhirnya sampai pada suatu kejadian, Partai Golkar mengusung, si Anak Ingusan (Panda Nababan), Gibran bin Jokowi, sebagai Cawapresnya Prabowo. Pantas kalau sebagian kader Golkar yang lain, marah dan mendemo atas kejadian ini. Mereka menyesalkan Partai yang paling banyak memiliki SDM yang berkualitas, pengalaman berkuasa paling lama dan paling terstruktur hingga ke underbouw ormas-ormasnya diberbagai daerah, tak punya kader yang layak jadi pemimpin nasional.
Tetapi kader-kader Golkar itu, tak ada yang bisa melebihi kapasitas dan kompetensi si Gibran Bin Jokowi itu. Ini sesungguhnya malapetaka bagi sebuah partai politik. Artinya Golkar tak mampu dapat memperjuangkan Program-program partainya (political endeavor). The term “political endeavor” essentially refers to any activity or effort that has a political dimension or is intended to have a political impact.
Keputusan ketum Airlangga Hartarto banyak dikecam kader internal dan mendaoat resistansi yang luas dimana-mana.
Wakil Sekretaris Bidang Organisasi Kelembagaan dan Kebijakan Strategis, Pengurus Pusat Badan Advokasi Hukum dan HAM DPP Partai Golkar, Arman Garuda Nusantara menolak keputusan partainya yang mengusulkan Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres Prabowo Subianto di 2024.
Arman mengaku sedih dan heran dengan keputusan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto tersebut. Ia pun mempertanyakan mekanisme kaderisasi Partai Golkar, sehingga mengusulkan orang di luar partai.
“Pertanyaan saya yang juga menjadi pertanyaan kader Partai Golkar seluruh tanah air, apakah sudah tidak ada lagi stok kader yang bisa diusung sebagai cawapres RI. Di mana mekanisme sistem kaderisasi Partai Golkar,” ucap dia dalam keterangan tertulisnya.
Arman mempertanyakan arah perjuangan partainya dengan mengusung Gibran yang notabene baru di dunia politik dan belum genap tiga tahun menjadi wali kota. Menurutnya, Gibran juga tak memiliki rekam jejak aktif di organisasi kepemudaan.
“Mau dibawa kemana arah perjuangan Partai Golkar ketika mengusung Gibran yang baru menjabat sebagai Wali Kota Solo selama dua tahun delapan bulan. Itu pun endorse dari yang mulia tuan Presiden Jokowi dan sebelumnya tidak ada rekam jejak aktif di organisasi kepemudaan manapun,” ujarnya.


























