• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Bisnis

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

Ali Syarief by Ali Syarief
June 2, 2026
in Bisnis, Economy, Feature
0
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo
Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali seorang presiden pulang dari kunjungan luar negeri, publik hampir selalu disuguhi angka-angka fantastis. Nilai investasi sekian triliun rupiah, nota kesepahaman bernilai miliaran dolar, hingga klaim terbukanya peluang kerja bagi jutaan rakyat. Seolah-olah keberhasilan sebuah lawatan kenegaraan dapat diukur semata-mata dari deretan angka yang diumumkan dalam konferensi pers.

Padahal, cara semacam ini sering kali lebih menyerupai strategi pencitraan daripada ukuran keberhasilan yang sesungguhnya. Angka-angka investasi dijadikan alat untuk mengecoh rakyat, menghilangkan kesan bahwa sebagian kunjungan tersebut mungkin tidak menghasilkan manfaat konkret yang sebanding dengan biaya, energi, dan waktu yang telah dikeluarkan. Publik diarahkan untuk terpukau oleh besarnya nominal, sementara melupakan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah investasi itu benar-benar akan datang?

Di sinilah letak persoalannya. Dunia bisnis memiliki hukum yang berbeda dengan dunia politik. Investasi bukanlah hadiah yang bisa diberikan karena hubungan diplomatik yang hangat, bukan pula bentuk penghargaan atas keramahan seorang kepala negara. Investasi adalah keputusan ekonomi yang tunduk pada kalkulasi keuntungan dan risiko.

Seorang pengusaha tidak menanamkan modal karena terkesan oleh pidato seorang presiden. Ia tidak memindahkan miliaran dolar hanya karena adanya tekanan politik atau karena merasa berutang budi kepada sebuah negara. Yang menjadi orientasi utamanya hanyalah satu kata: untung. Sebaliknya, kerugian adalah sesuatu yang akan dihindari sejauh mungkin.

Karena itu, tidak ada jaminan bahwa angka investasi yang diumumkan saat kunjungan luar negeri akan benar-benar terealisasi. Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak nota kesepahaman hanya berakhir sebagai dokumen seremonial. Banyak komitmen investasi yang diumumkan dengan gegap gempita akhirnya menguap tanpa jejak karena investor menemukan hambatan regulasi, ketidakpastian hukum, korupsi, biaya ekonomi tinggi, atau prospek keuntungan yang tidak sesuai harapan.

Ironisnya, pemerintah sering kali lebih sibuk mengumumkan angka komitmen investasi daripada menjelaskan realisasi investasi tersebut beberapa tahun kemudian. Yang dipublikasikan adalah janji, bukan hasil. Yang dipertontonkan adalah prospek, bukan kenyataan.

Akibatnya, rakyat terjebak dalam ilusi keberhasilan. Mereka diajak menghitung triliunan rupiah yang konon akan masuk, tetapi tidak pernah diajak menghitung berapa yang benar-benar terealisasi. Mereka mendengar kabar tentang investasi raksasa, namun tidak selalu melihat dampaknya terhadap lapangan kerja, kesejahteraan, atau pertumbuhan ekonomi di daerah mereka.

Keberhasilan diplomasi sesungguhnya tidak dapat diukur dari seberapa besar angka yang diumumkan setelah kunjungan luar negeri. Keberhasilan diplomasi harus diukur dari hasil nyata yang dirasakan rakyat. Apakah perdagangan meningkat? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah transfer teknologi terjadi? Apakah daya saing nasional membaik? Dan yang paling penting, apakah investasi yang dijanjikan benar-benar terealisasi?

Tanpa ukuran-ukuran tersebut, klaim keberhasilan hanya menjadi pertunjukan statistik. Sebuah parade angka yang terdengar mengesankan di layar televisi, tetapi belum tentu memiliki pijakan di dunia nyata.

Karena pada akhirnya, bisnis tidak mengenal rasa kagum, loyalitas politik, ataupun ambisi pribadi seorang pemimpin. Bisnis hanya mengenal satu bahasa yang universal: keuntungan. Selama sebuah negara mampu memberikan kepastian hukum, iklim usaha yang sehat, birokrasi yang efisien, dan peluang keuntungan yang menarik, investasi akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, tanpa semua itu, sebanyak apa pun kunjungan luar negeri dilakukan, dan sebesar apa pun angka yang diumumkan, semuanya hanya akan menjadi hura-hura diplomatik yang dibungkus dengan kemasan statistik.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Simalakama Teddy Wijaya
Birokrasi

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

June 2, 2026
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK
Feature

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

June 2, 2026
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

June 2, 2026
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

June 2, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026

PARAMETER BARU UNTUK PARADIGMA BARU

June 2, 2026

Produk Dosa Syirik yang Selalu Update, Kekinian, Beracun & Berbahaya

June 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

Diplomasi Angka Bodong: Ketika Kunjungan Presiden Dijual dengan Janji Investasi

June 2, 2026
Simalakama Teddy Wijaya

Tinjauan Yuridis: Presiden Membayar Sendiri Kelebihan Biaya Perjalanan Dinas? Persoalannya Bukan pada Uangnya

June 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...