• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
June 2, 2026
in Feature, Politik
0
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prihandoyo Kuswanto
Ketua Pusat Studi dan Kajian Rumah Pancasila

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila dengan berbagai upacara, pidato, dan seremoni kenegaraan. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya sedang diperingati ketika praktik penyelenggaraan negara justru semakin menjauh dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri?

Ibarat seseorang yang setiap tahun merayakan ulang tahun KTP, padahal foto, identitas, dan nomor induknya sudah diganti. Yang dirayakan hanyalah lembaran kertasnya, sementara substansinya telah berubah. Demikian pula dengan peringatan Hari Lahir Pancasila ketika dasar-dasar kehidupan bernegara yang dahulu dirancang berdasarkan Pancasila telah mengalami perubahan yang sangat mendasar.

Lebih jauh lagi, secara logis muncul persoalan filosofis yang jarang dibahas. Jika Pancasila dinyatakan “lahir” pada 1 Juni 1945, maka bagaimana dengan sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”? Apakah nilai Ketuhanan itu baru ada sejak 1 Juni 1945? Tentu tidak. Tuhan tidak lahir pada tanggal tersebut. Ketuhanan telah hidup dalam keyakinan bangsa Indonesia jauh sebelum negara ini berdiri.

Karena itu, persoalan tanggal bukan semata persoalan administratif, melainkan menyentuh dimensi filosofis dan teologis yang mendasar.

Paradoks Pertama: Merayakan Kelahiran, Tetapi Mengubur Substansinya

Pancasila ditempatkan sebagai dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum. Namun dalam praktik ketatanegaraan, banyak prinsip yang dahulu menjadi ciri utama sistem Pancasila telah ditinggalkan.

Presiden tidak lagi dipilih melalui mekanisme permusyawaratan dan perwakilan sebagaimana semangat yang tercermin dalam sila keempat, melainkan melalui sistem pemilihan langsung yang bertumpu pada prinsip “one man one vote”.

Akibatnya, demokrasi musyawarah bergeser menjadi demokrasi elektoral yang sangat mahal dan sarat kompetisi politik.

Paradoks Kedua: Mengagungkan Pancasila, Tetapi Mengubah Bangunan Konstitusinya

Setelah empat kali amandemen UUD 1945, berbagai elemen penting yang dahulu menjadi penopang sistem kenegaraan mengalami perubahan besar.

Penjelasan UUD 1945 dihapus. Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) ditiadakan. Pasal 33 yang menjadi landasan ekonomi kerakyatan mengalami perubahan substansial. Kedudukan MPR sebagai lembaga tertinggi negara juga tidak lagi seperti semula.

Ironisnya, pada saat yang sama negara terus menyerukan pentingnya menjaga Pancasila.

Bagaimana mungkin dasar negara dipuja, sementara perangkat konstitusional yang dahulu menjadi instrumen pelaksanaannya justru diubah secara mendasar?

Paradoks Ketiga: Mengaku Pancasila, Tetapi Menjalankan Ekonomi Liberal

Pancasila mengamanatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun dalam praktiknya, arah pembangunan ekonomi sering kali dituding lebih dekat kepada paradigma liberal-kapitalistik. Penguasaan sumber daya alam oleh korporasi besar, ketergantungan impor pangan, dan semakin lebarnya kesenjangan ekonomi menjadi kritik yang terus muncul.

Akibatnya, sila kelima sering kali hanya terdengar dalam pidato dan slogan, tetapi belum sepenuhnya dirasakan dalam kehidupan rakyat.

Paradoks Keempat: Berbicara Gotong Royong, Tetapi Mempraktikkan Politik Transaksional

Gotong royong adalah salah satu inti pemikiran Bung Karno mengenai Pancasila.

Namun realitas politik memperlihatkan biaya pemilu yang sangat mahal, praktik mahar politik, politik uang, buzzer politik, serta polarisasi yang tajam di media sosial.

Persatuan yang menjadi ruh sila ketiga sering kali terkalahkan oleh kepentingan kelompok dan perebutan kekuasaan.

Ketika politik berubah menjadi arena saling menjatuhkan dan saling mencurigai, maka semangat gotong royong kehilangan maknanya.

Bung Karno Bukan Pencipta Pancasila

Bung Karno sendiri berkali-kali menegaskan bahwa dirinya bukan pencipta Pancasila, melainkan penggali Pancasila dari nilai-nilai yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia.

Karena itu, menempatkan 1 Juni sebagai “hari kelahiran” Pancasila sesungguhnya memerlukan kajian yang lebih mendalam agar tidak menimbulkan kesalahpahaman historis maupun filosofis.

Pancasila bukanlah hasil pemikiran satu orang dalam satu hari, melainkan hasil pergumulan panjang para pendiri bangsa yang kemudian memperoleh bentuk finalnya dalam Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945.

Mengapa 18 Agustus Lebih Tepat?

Jika yang dimaksud adalah Pancasila sebagai dasar negara yang sah dan mengikat secara konstitusional, maka momentum yang paling relevan adalah tanggal 18 Agustus 1945.

Pada tanggal itulah Pembukaan UUD 1945 ditetapkan, dan lima sila Pancasila memperoleh kedudukan resmi sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Proklamasi 17 Agustus dan pengesahan UUD 1945 pada 18 Agustus merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bung Karno menyebutnya sebagai loro-loroning atunggal — dua hal yang berbeda tetapi menyatu.

Saatnya Melakukan Kajian Ulang

Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah melakukan kajian akademik, historis, filosofis, dan konstitusional secara terbuka mengenai penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016.

Kajian tersebut penting bukan untuk memecah belah bangsa, melainkan untuk memastikan bahwa peringatan terhadap Pancasila benar-benar selaras dengan sejarah, filosofi, dan tujuan para pendiri negara.

Jika bangsa ini sungguh-sungguh ingin memuliakan Pancasila, maka yang harus dihidupkan bukan sekadar upacaranya, melainkan nilai-nilai musyawarah, keadilan sosial, kedaulatan rakyat, gotong royong, dan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam praktik penyelenggaraan negara.

Sebab sebuah bangsa tidak dapat terus-menerus merayakan fondasi rumahnya apabila fondasi itu sendiri telah dibiarkan retak dan keropos.

Pancasila tidak cukup diperingati. Pancasila harus dijalankan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pancasila: Lahir untuk Mati!

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026
Cross Cultural

PARAMETER BARU UNTUK PARADIGMA BARU

June 2, 2026
Feature

Produk Dosa Syirik yang Selalu Update, Kekinian, Beracun & Berbahaya

June 1, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

June 2, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026

PARAMETER BARU UNTUK PARADIGMA BARU

June 2, 2026

Produk Dosa Syirik yang Selalu Update, Kekinian, Beracun & Berbahaya

June 1, 2026
SI Merah: Ketika Islam, Nasionalisme, dan Komunisme Pernah Berbagi Rahim Sejarah

Indonesia Merdeka, Tetapi Belum Berdaulat: Mengapa Cita-Cita Syarikat Islam Masih Menjadi Pekerjaan Rumah Bangsa?

June 1, 2026
Dari Tuntutan Zelfbestuur hingga Kursus Kader: Syarikat Islam Tegaskan Perjuangan Kemerdekaan Belum Usai

Dari Tuntutan Zelfbestuur hingga Kursus Kader: Syarikat Islam Tegaskan Perjuangan Kemerdekaan Belum Usai

June 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA: PARADOKS KETIKA NEGARA BERJALAN DI JALUR LIBERAL-KAPITALISTIK

June 2, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...