• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

Gunung Fuji, Dilihat dengan Cara yang Berbeda: Sebuah Refleksi Lintas Budaya

Ali Syarief by Ali Syarief
April 12, 2026
in Cross Cultural, Feature, Japanese Supesharu
0
Gunung Fuji, Dilihat dengan Cara yang Berbeda: Sebuah Refleksi Lintas Budaya
Share on FacebookShare on Twitter

Pagi itu, Kenshi Suzuki—sahabat saya sekaligus, dalam banyak hal, guru saya—mengajak saya melihat Gunung Fuji dari sudut yang tidak lazim. Bukan sekadar dari titik pandang fisik yang berbeda, melainkan dari cara melihat yang sepenuhnya berbeda.

Ia tidak mengarahkan langkah saya, melainkan mengarahkan perhatian saya. Di hadapannya, aktivitas “melihat” berubah menjadi sesuatu yang lebih sadar, hampir kontemplatif—seolah gunung yang berdiri di depan kami bukanlah objek untuk ditangkap, melainkan kehadiran untuk dijumpai. Apa yang ia tawarkan, tanpa banyak kata, adalah ajakan untuk keluar dari refleks budaya saya sendiri: dorongan untuk membingkai, memiliki, dan menyimpulkan. Sebaliknya, ia memperkenalkan cara melihat yang tidak tergesa—cara melihat yang membiarkan makna datang perlahan.

Langit pagi itu begitu cerah, bahkan terasa terlalu lapang dalam keterbukaannya. Fuji berdiri dalam bentuknya yang paling dikenali: simetris, tenang, seakan abadi. Itulah gambaran yang dijanjikan kartu pos dan dikejar para pelancong. Saya mulai memahami, setidaknya di permukaan, mengapa generasi demi generasi orang Jepang memuliakan gunung ini—bukan sekadar sebagai lanskap, tetapi sebagai sebuah kehadiran.

“Hanya ada dua jam,” kata Kenshi pelan.

Awalnya saya kira ia berbicara tentang waktu kami. Namun seiring waktu berjalan, saya menyadari bahwa yang ia maksud jauh lebih dalam—tentang kefanaan, sesuatu yang, dibentuk oleh naluri budaya yang berbeda, tidak serta-merta saya tangkap.

Dalam dua jam itu, kejernihan mulai larut. Awan datang perlahan, lalu dengan pasti. Garis sempurna Fuji mulai kabur, lalu menghilang di balik selimut yang bergerak. Tak lama kemudian, hujan turun, seakan menghapus kepastian yang barusan hadir.

Namun saya sudah sempat mengabadikannya—Gunung Fuji dalam bentuk yang oleh banyak orang disebut paling indah.

Dan anehnya, foto itu terasa tidak lengkap.

Dalam perspektif lintas budaya, momen itu menjadi semacam perjumpaan halus antara dua cara memahami keindahan. Datang dari latar yang sering menilai nilai berdasarkan ketahanan—di mana kita ingin menyimpan, menahan, dan mendokumentasikan—saya semula mengira bahwa menangkap Fuji dalam kejernihannya adalah pencapaian.

Namun pelajaran dari Kenshi berkata sebaliknya.

Dalam sensibilitas Jepang, yang dipengaruhi oleh tradisi seperti Shinto dan Buddhism, keindahan tidak berkurang karena sifatnya yang sementara; justru di situlah intensitasnya. Kejernihan Fuji yang singkat itu bernilai bukan meski hanya sesaat, melainkan karena ia sesaat. Apa yang saya saksikan bukan sekadar gunung yang menampakkan diri, melainkan sebuah momen yang “diberikan.”

Setelah perjumpaan yang singkat namun mendalam itu, saya mulai memahami bahwa melihat Gunung Fuji semata sebagai lanskap, dalam pengertian Jepang, berarti kehilangan esensinya. Bagi orang Jepang, Fuji bukan sekadar “dilihat”; ia dirasakan, dihayati, dan dalam banyak hal, diyakini.

Pertama-tama, Fuji adalah kehadiran yang sakral. Berakar dalam tradisi spiritual Shinto dan Buddhism, gunung ini dipandang sebagai tempat bersemayamnya kami—roh-roh ilahi yang menghuni unsur-unsur alam. Tidak mengherankan jika selama berabad-abad, orang mendaki Fuji bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai pencari. Pendakian menjadi laku pengabdian, bentuk penyucian, sekaligus perjalanan simbolik dari yang fana menuju yang transenden.

Namun di luar bobot spiritualnya, Fuji juga menempati ruang yang unik dalam imajinasi estetika Jepang. Bentuknya yang hampir sempurna dan kesendiriannya yang agung selaras dengan kecenderungan budaya Jepang yang menghargai harmoni, keseimbangan, dan kesederhanaan. Dalam arti ini, Fuji bukan sekadar objek tontonan, melainkan perwujudan bentuk ideal—standar diam yang menjadi tolok ukur keindahan itu sendiri.

Penghormatan estetika ini menemukan ekspresinya dalam seni lintas zaman. Dari cetak kayu karya Katsushika Hokusai hingga puisi dan refleksi musiman, Fuji hadir bukan hanya sebagai subjek, tetapi sebagai konstanta—penyangga yang menautkan emosi manusia dengan siklus alam. Menariknya, bahkan ketika tertutup kabut, hujan, atau jarak, Fuji tetap hadir dalam benak orang Jepang. Terlihat atau tidak, bukanlah syarat bagi maknanya.

Ada pula keintiman yang halus dalam cara orang Jepang berelasi dengan Fuji. Ia sering disebut Fuji-san, sebuah penyebutan yang memadukan rasa hormat dan kedekatan. Tidak seperti monumen jauh yang hanya mengundang takjub dari kejauhan, Fuji hidup dalam geografi emosional keseharian. Ia hadir di buku pelajaran, dalam ungkapan rakyat, dalam percakapan biasa. Ia sekaligus luar biasa dan biasa.

Mungkin yang paling penting, Fuji mencerminkan relasi khas Jepang dengan kefanaan. Ia tidak selalu bisa dilihat. Ada banyak hari—sangat banyak—ketika ia sepenuhnya tersembunyi. Namun ketidakhadiran ini tidak mengurangi maknanya; justru memperdalamnya. Melihat Fuji dengan jelas, walau sesaat, adalah semacam keberuntungan sunyi—sebuah perjumpaan yang tidak bisa dipaksa, hanya bisa diterima.

Dengan cara itu, Fuji mengajarkan disiplin halus dalam memandang: menghargai yang hadir, menerima yang menghilang, dan menemukan makna bukan dalam keabadian, melainkan dalam kehadiran.

Kenshi tidak mengeluarkan kameranya.

Mungkin ia memahami bahwa cara paling setia untuk menghormati pagi itu bukan dengan menyimpannya, melainkan dengan menghayatinya.

Ketika hujan turun dan Fuji sepenuhnya menghilang dari pandangan, saya tidak lagi merasa perlu menggenggam apa yang telah lewat. Justru ada kelengkapan yang sunyi dalam menyaksikan sekaligus kemunculan dan kepergiannya—bentuk dan ketiadaannya.

Pada akhirnya, Gunung Fuji tidak pernah sekadar ada untuk dilihat.

Ia ada untuk mengajar.

Dan yang ia tawarkan, dalam waktu yang begitu singkat, bukan hanya keindahan—melainkan sebuah pergeseran halus namun mendalam tentang bagaimana keindahan itu sendiri seharusnya dipahami.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Iran, Indonesia, dan Dilema Politik Prabowo: Antara Diplomasi Global dan Erosi Simpati Domestik

Next Post

Gaya Hidup Mewah dengan Sapi Perah

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Gaya Hidup Mewah dengan Sapi Perah

Gaya Hidup Mewah dengan Sapi Perah

DEKONSTRUKSI SEKURITISASI DEMOKRASI

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...