Fusilatnews – Indonesia hari ini terang benderang. Bukan karena sinar matahari tropis atau lampu jalan tenaga surya yang dipasang kementerian dengan tender penuh kasih sayang antar kerabat. Tapi karena saking benderangnya kenyataan hidup, rakyat tak perlu lagi diterangi — sudah silau sendiri melihat kelakuan para pejabat.
Begini nasib bangsa kalau sudah terlalu banyak cahaya, tapi tak satu pun yang menerangi akal sehat.
Katanya kita hidup di negara demokrasi. Tapi rakyat tak boleh protes. Sekali protes, dibilang melawan negara. Negara siapa dulu ini? Negara hukum? Ah, hukum kita ibarat pisau dapur — tumpul ke atas, tajam ke bawah. Koruptor kelas kakap bisa selfie sambil minum kopi di ruang tahanan VIP, sementara pencuri sandal jepit dipelototi jaksa seolah habis makan ayam tanpa bayar.
Kita punya pemimpin. Lengkap dengan senyum dan gaya kasual yang Instagramable. Ijazahnya? Jangan tanya. Tanya saja bisa dianggap hoaks. Tapi kabar burung—burungnya burung Garuda pula—berkicau bahwa ijazah sarjananya lebih langka dari unicorn. Katanya sih ada. Tapi sepi alumni yang ingat, sepi dosen yang mengaku menguji, sepi saksi sejarah. Mungkin memang dia belajar di alam gaib, bersama Nyi Roro Kidul jurusan ilmu tata negara.
Ekonomi? Wah, pertumbuhan ekonominya hampir menyentuh target. Hampir. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, angka-angka itu selalu “nyaris”. Sementara itu, rakyat dihajar harga cabai, harga beras, dan harga sembako yang ikut-ikutan naik seperti follower influencer. Katanya sih kemiskinan tinggal 9%. Tapi di lapangan, yang miskin itu bukan cuma rakyat — akal sehat juga sudah diambang sekarat.
Pengangguran tinggi, tapi pejabat banyak kerjaan. Kerjaan foto, kerjaan rapat, kerjaan cuti, kerjaan proyek, dan kerjaan bikin peraturan yang hanya menyusahkan yang miskin, bukan yang borju. Para pejabat hidup mewah, seolah negeri ini surga, hanya saja malaikatnya pakai jas, dasi, dan main golf tiap Jumat sore.
Dan soal korupsi? Jangan main-main. Indonesia ini rumahnya para koruptor. Lengkap dengan ruang tamu, ruang makan, dan garasi untuk mobil sitaan. Tapi entah kenapa, mereka tetap melenggang seperti bintang sinetron. Mungkin karena mereka tahu, kalau masuk penjara, paling sebentar — bisa nego. Negara ini kreatif: bisa diskon hukuman seperti diskon akhir tahun.
Kita sudah merdeka hampir satu abad, tapi yang merdeka betul-betul cuma para elite. Mereka yang punya proyek, punya jabatan, punya partai, dan punya saudara di istana. Rakyat? Disuruh sabar, disuruh shalat, disuruh syukur. Tapi tak ada yang menyuruh pejabat untuk jujur.
Indonesia terang benderang, Saudara-saudara. Tapi bukan terang karena cahaya kebenaran, melainkan karena nyala api kebohongan yang tak padam-padam. Kalau dulu Bung Karno berkata, “Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia,” maka zaman sekarang cukup satu buzzer — dunia bisa tenggelam dalam opini murahan.
Dan saya, kolumnis tua ini, hanya bisa duduk di sudut warung, menyeruput kopi sachet, menatap langit sambil berpikir: Apakah ini negeri dongeng yang disulap jadi kenyataan? Ataukah kenyataan pahit yang disulap jadi dongeng agar kita tetap tersenyum sambil menangis?
Wallahualam…
Tapi yang jelas, terang benderang ini sudah membuat mata rakyat sakit — dan kantongnya makin bolong.
























