Oleh: Entang Sastaatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Produksi beras Indonesia pada kuartal I tahun 2025 mencatatkan capaian yang patut diperhatikan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras mencapai 13,95 juta ton—angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Sebuah pencapaian yang sekilas tampak menjanjikan. Namun, di balik data yang impresif itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar sedang berada di jalur menuju swasembada pangan, atau hanya sedang memoles statistik untuk kepentingan sesaat?
Di Balik Angka: Antara Luas Panen dan Produktivitas
Peningkatan ini diduga kuat dipengaruhi oleh bertambahnya luas panen. Data BPS menunjukkan bahwa luas panen pada Maret 2025 mencapai 1,67 juta hektare, naik signifikan dari 1,11 juta hektare pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Hasilnya, produksi gabah kering giling (GKG) diperkirakan mencapai 8,93 juta ton.
Namun perlu dicatat: data ini masih bersifat parsial—hanya mencakup Januari hingga Maret. Kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam euforia angka sementara tanpa melihat tren tahunan secara utuh.
Selain itu, produktivitas juga menjadi kunci. Banyak faktor yang memengaruhi hasil panen per hektare: jenis varietas padi, teknik budidaya, sistem irigasi, ketersediaan pupuk, serta kondisi cuaca dan iklim. Tak kalah penting, tingkat adopsi teknologi pertanian modern—seperti alsintan, drone, atau smart farming—turut memainkan peran krusial.
Peran Pemerintah: Nyata atau Basa-Basi?
Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, telah menggencarkan program dukungan berupa distribusi benih unggul, pompa air, hingga alat dan mesin pertanian. Namun, efektivitas kebijakan ini masih menyisakan tanda tanya. Apakah benar-benar menyentuh kebutuhan petani di lapangan? Atau justru lebih banyak berhenti di seremoni dan laporan kinerja belaka?
Kita tak bisa menutup mata terhadap tantangan besar yang mengintai: konversi lahan sawah yang terus terjadi, kerusakan lingkungan, perubahan iklim ekstrem, serangan hama penyakit, hingga keterbatasan infrastruktur pertanian.
Dari Tantangan Menuju Transformasi
Jika kita benar-benar ingin menjadikan beras sebagai pilar ketahanan pangan nasional, maka langkah-langkah konkret berikut tak boleh ditawar:
- Adopsi teknologi modern: dari mekanisasi pertanian hingga digitalisasi sistem irigasi.
- Varietas unggul dan tahan hama: riset dan pengembangan harus diperkuat.
- Pelatihan petani: ubah petani menjadi pelaku utama inovasi, bukan hanya objek kebijakan.
- Kebijakan berpihak: subsidi, kredit, dan asuransi pertanian harus tepat sasaran.
- Pembangunan infrastruktur pertanian: tak ada swasembada tanpa jalan desa dan saluran irigasi yang memadai.
Jangan Berhenti di Angka
Capaian peningkatan produksi beras jangan hanya dijadikan selebrasi sesaat. Apalagi jika diiringi dengan lemahnya kontrol terhadap alih fungsi lahan, minimnya kedaulatan benih, dan ketergantungan pada impor pupuk.
Jika kita serius menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dalam pangan, maka produksi beras bukan sekadar target proyek tahunan, melainkan kewajiban esensial dalam cita-cita besar menuju swasembada yang sejati.
Berhenti membanggakan data tanpa makna jika di lapangan petani masih kesulitan mengakses air, pupuk, dan pasar. Stop euforia. Ini saatnya kita bekerja lebih dalam, lebih jujur, dan lebih menyeluruh untuk memastikan bahwa setiap butir beras yang dipanen adalah simbol keberdayaan, bukan sekadar angka dalam laporan tahunan.

Oleh: Entang Sastaatmadja – Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat






















