Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024
Jakarta – Asketisme, gaya hidup yang pantang terhadap kenikmatan duniawi demi mencapai tujuan spiritual, pencerahan, atau kesempurnaan diri, atau hidup zuhud, kini telah menghilang dari elite-elite Nahdatul Ulama (NU). Hilangnya asketisme itulah yang kini memantik konflik internal NU.
Bermula dari pemberian konsesi tambang batubara eks-PT Kaltim Prima Coal dari pemerintah kepada NU, elite-elite NU kemudian bertengkar, cakar-cakaran, dan mau sama-sama menguasai. Dua kubu pun terbentuk: kubu Rais Aam Miftachul Akhyar, dan kubu Ketua Umum Pengurus Besar NU Yahya Cholil Staquf.
Kiai Miftach memecat Gus Yahya. Dalihnya, pro-Israel. Pun laporan keuangan bermasalah.
Gus Yahya kemudian memecat Saifullah Yusuf, kubu Kiai Miftach dari jabatan Sekretaris Jenderal PBNU.
Gus Yahya dan Gus Ipul sama-sama main “tarik tambang”. Gus Ipul maunya konsesi tambang milik NU dikelola oleh calon investor lama: diduga Garibaldi Thohir, kakak kandung Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir.
Sebaliknya, Gus Yahya maunya konsesi tambang milik NU dikelola oleh calon investor baru: diduga Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Presiden Prabowo Subianto.
Mengapa mereka saling mau menguasai? Tak mungkin kalau tak ada apa-apa. Akhirnya, tambang itu pun menjadi semacam gula, dan elite-elite NU laksana semut-semut yang berebut gula.
Konsesi tambang itu akhirnya menjadi semacam kutukan bagi NU, bahkan menjadi alat adu domba yang memecah belah. Devide et impera. Pecah dan kuasailah. Dalam kondisi terpecah belah, praktis NU mudah dikuasai oleh pihak lain, termasuk pemerintah yang telah menghadiahi konsesi tambang.
Ah, seandainya elite-elite NU itu mau hidup zuhud atau asketis, tentu tak akan terjadi konflik internal gara-gara tambang.
Nafsu duniawi dan birahi kekuasaan yang membelit elite-elite NU justru menjerumuskan mereka ke tempat yang hina. Mereka pun kehilangan marwah.
Ulama, mestinya cukup menjadi guru bangsa. Mereka kasta Brahmana, bukan Ksatria, apalagi Waisya atau Sudra. Sayangnya, mereka kini terjerumus ke kasta Sudra yang berebut urusan perut, bukan urusan otak apalagi hati.
Jika pendiri NU, Kiai Hasyim Asyari masih hidup, tentu beliau akan menangis demi menyaksikan kondisi NU saat ini yang elite-elitenya berebut tambang.
Jika Kiai Abdurrahman Wahid, cucu Kiai Hasyim Asy’ari masih hidup, tentu mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu juga akan menangis tersedu-sedu demi menyaksikan elite-elite NU bertikai gegara tambang.
Mengapa Gus Yahya dan Gus Ipul tidak meneladani asketisme Gus Dur yang juga Presiden ke-4 RI? Selain hidup sederhana, Gus Dur juga tidak “nggondheli” jabatan. Karena jabatan itu memang amanah, bukan anugerah.
Ketika pada 21 Juli 2001 dilengserkan MPR, Gus Dur tidak melawan. Padahal ada ribuan santri dan ulama yang siap menumpahkan darah demi mempertahankan jabatan Gus Dur.
Sekali lagi, mengapa Gus Yahya dan Gus Ipul tidak meneladani asketisme Gus Dur? Padahal Gus Yahya adalah mantan juru bicara Gus Dur, dan Gus Ipul adalah keponakan Gus Dur. Keduanya justru berebut jabatan yang sesungguhnya “diharamkan” ajaran Islam. Ironis, bukan?
“Jangan berikan jabatan kepada mereka yang meminta, apalagi merebut.”
Lebih ironis lagi, bagaimana bisa Gus Yahya tinggal di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat, entah dengan menyewa atau membeli rumah?
Tambang memang menawan. PBNU akan mendapatkan dana bagi hasil triliunan rubiah jika pengelolaan tambang KPC di Kaltim diserahkan ke investor.
Emas hitam itu pun terlihat berkilau di mata elite-elite NU. Tak sadar, mereka telah terdegradasi dari kasta Brahmana ke kasta Sudra karena berebut urusan perut.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024
























