Mari kita mulai dengan membaca mengapa Jokowi tidak hadir pada HUT PDIP tanggal 10 Januari 20204. Walau Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku belum mendapat undangan perayaan HUT ke-51 PDIP. Tetapi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan “Jokowi akan melaksanakan tugas ke Filipina”.
“Juru bicara Bapak Presiden Jokowi sudah menyebutkan bahwa beliau akan menjalankan tugas kenegaraan ke Filipina, tugas kenegaraan kan untuk kepentingan bangsa dan negara, untuk kepentingan rakyat, partai juga berjuang untuk kepentingan rakyat, sehingga dua-duanya sama,” kata Hasto dalam konferensi pers di DPP PDIP, Jakarta Pusat, Senin (8/1/2024).
Hasto mengatakan pihaknya sangat memahami apabila Jokowi tak dapat hadir dalam perayaan HUT PDIP. Sebab, kata dia, tugas yang dilakukan Jokowi sangat penting untuk kepentingan bangsa dan Negara!.
Perlu dimaklumi, bagi Jokowi sudah keberapa kali mengikuti acara HUT PDIP. Artinya 10 januari itu sejatinya, bagi Jokowi, menjadi agenda tahunan, yang tidak boleh digangu oleh acara lain. Karena PDIP adalah Rahim ibu kandung Jokowi dan anak-menantunya.
Memang dalam situasi terkini, akan sulit dapat membayangkan, bila Jokowi hadir dalam HUT PDIP tersebut. bagaimana reaksi elit-elit kadernya, serta gegap gempitanya peserta militan yang akan hadir. Tidak mustahil kekesalan Mega akan ditumpahkan disitu, lalu Jokowi diterikaki si penghianat..penghianat..penghianat… Atau dicuek-bebekan oleh seluruh peserta yang hadir. Ini akan dirasakan sama pedihnya dengan teriakan-teriakan cemo’oh itu.
Pada November lalu, Ketua DPP PDIP Puan Maharani menyatakan Jokowi masih berstatus sebagai kader PDIP. Menurutnya, belum ada keputusan lain dari partai terkait pelanggan aturan internal yang dilakukan Jokowi.
Ganjar Pranowo pun pernah menyebutkan keanggotaan Jokowi sebagai kader dibuktikan dengan kehadirannya saat HUT PDIP ke-51 tersebut. Pernyataan ini ibarat dua belah sisi pisau. Bisa disebut sebagai undangan keharusan hadir. Bisa pula disebut sebagai pagar benteng supaya tidak perlu datang.
Mengapa?
Hubungan Jokowi dengan partainya, PDIP, merenggang jelang Pilpres 2024. Salah satu penyebabnya adalah dukung mendukung kandidat. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres usungan mereka. Namun Jokowi dilaporkan berupaya menduetkan Ganjar dengan capres usungan Gerindra, Parbowo Subianto.
Jokowi telah melanggar AD-ART PDIP secara brutal soal keluarga kader yang berpolitik tak boleh beda partai. Alih-alih bergabung dengan partai ayahnya, Kaesang justru gabung PSI dan jadi Ketua Umumnya. Demikian juga Gibran dan Bobby, keduanya lebih memilih pisah haluan dengan PDIP jelang Pemilu 2024.
Status Jokowi di PDIP kemudian dipertanyakan usai dua anak dan menantunya berada di posisi yang berbeda dengan PDIP.
Satu hal yang dapat dipastikan, sebagai kesimpulan dari berbagai pendapat sejumlah kader PDIP seniors, bahwa mereka tidak menduga “bagaimana Jokowi bisa berkhianat kepada partai seperti yang sekarang ia lakukan”


























