Oleh: Damai hari Lubis
Ada yang lebih lucu dari badut sirkus, yaitu seseorang yang menjunjung tinggi pendidikan sambil menyimpan ijazah palsu di laci meja kerjanya. Ia berbicara tentang pentingnya sekolah, tentang urgensi literasi, tentang SDM unggul, sambil lupa bahwa huruf-huruf di ijazahnya disusun oleh tukang sablon, bukan oleh dosen pembimbing skripsi.
Kita hidup di zaman yang aneh. Di mana gelar akademik lebih penting dari isi kepala, dan seminar keilmuan bisa dikalahkan oleh tukang fotokopi. Ketika seseorang bisa jadi profesor instan hanya dengan dua lembar kertas—satu berupa ijazah tempelan, satu lagi berupa rekomendasi partai.
Ilmu pengetahuan, yang dulu disanjung seperti dewa di kuil Athena, sekarang nasibnya mirip pengemis tua yang ditendang keluar dari warung kopi karena tak bisa bayar teh manis. Dulu, orang berilmu itu dihormati karena dia mampu menjelaskan dunia. Sekarang, orang yang dihormati adalah mereka yang bisa menjelaskan bagaimana caranya membuat ijazah palsu terlihat seperti asli.
Apakah kita sedang menyaksikan zaman ketika otak kalah oleh stempel basah? Ketika menuntut ilmu diganti dengan menuntut jasa tukang ketik?
Oh, tentu tidak semua. Masih ada kampus yang sungguh-sungguh. Tapi mereka seperti biola di tengah konser dangdut: terdengar asing, kadang malah dianggap mengganggu.
Ironi terbesar adalah ketika ijazah palsu dipakai untuk duduk di kursi pengambil kebijakan. Bayangkan, orang yang tak pernah betulan membaca Karl Marx atau Adam Smith, kini bisa bicara panjang lebar tentang ekonomi rakyat. Orang yang mungkin belum pernah menginjak ruang sidang kuliah, kini memimpin sidang paripurna. Dan ketika ada yang protes, jawabannya sederhana: “Yang penting kerja nyata.”
Lantas apa kabar ilmu pengetahuan? Ah, ia sedang merintih di pojok kelas, ditemani tumpukan jurnal yang tak dibaca, disampuli oleh gelar-gelar akademik yang dibeli di pasar gelap. Ilmu yang dulu lahir dari rasa ingin tahu, kini dikebiri oleh rasa ingin terlihat keren. Ia bukan lagi jalan menuju pencerahan, tapi sekadar jalan pintas menuju jabatan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengagungkan gelar, dan mulai menengok isi kepala. Sebab dunia ini tak kekurangan orang yang bergelar tinggi, tapi kekurangan orang yang berpikir jernih. Dan kita tahu, berpikir itu tidak bisa dipalsukan. Berbeda dengan ijazah.

Oleh: Damai hari Lubis
























