Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Sebanyak 113 ilmuwan di bawah pimpinan Susanto Zuhdi, guru besar Universitas Indonesia (UI), sedang menulis ulang sejarah nasional Indonesia yang akan menjadi buku “babon” (induk).
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah menerbitkan dua buku “babon” semacam itu. Pertama, “Buku Sejarah Nasional Indonesia”, terdiri dari enam jilid, terbit tahun 1975.
Kedua, buku “Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS)”, yang terdiri dari sembilan jilid dengan 4.500 halaman, terbit tahun 2010.
Karena penulisan ulang sejarah nasional Indonesia ini merupakan proyek Kementerian Kebudayaan, otomatis komandannya adalah Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Latar belakang Fadli Zon adalah aktivis 1998. Pria asal Minangkabau ini kemudian bermetamorfosis menjadi politikus, dan sempat menjadi Wakil Ketua DPR RI, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, dan kini Menteri Kebudayaan.
Ironisnya, Fadli justru memandang miring aktivis dan politikus terkait penulisan ulang sejarah Indonesia itu.
Ia meminta masyarakat tidak khawatir terhadap hasil penulisan ulang sejarah yang sedang digarap pemerintah. Sebab, katanya, penulisan ulang sejarah yang sedang ditulis institusinya itu melibatkan sejarawan profesional yang ahli di bidang masing-masing.
Justru, ia khawatir kalau sejarah tersebut ditulis oleh para aktivis yang punya perspektif masing-masing.
Serupa dengan aktivis, Fadli mengatakan, politikus juga tak bisa menulis sejarah.
Nah, lho. Bukankah dia sendiri bekas aktivis dan kini politikus?
Yang sedang menulis ulang sejarah Indonesia memang para ilmuwan yang ahli di bidang masing-masing. Tapi jangan lupa, “master key” atau kunci induknya adalah Fadli Zon. Apa pun kata Fadli Zon, mereka akan “sendika dhawuh” atau “sami’na wa ato’na” (mengikuti perintah). Mereka adalah ilmuwan-ilmuwan tukang yang berpikir dan bekerja atas dasar pesanan.
Ketika dalam buku “babon” ketiga yang akan terbit menjelang 17 Agustus 2025 sebagai kado ulang tahun Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia ini dalam “outline”-nya tidak ada kasus penculikan aktivis 1997-1998, mereka akan sendika dhawuh.
Presiden Prabowo Subianto diduga terlibat dalam kasus ini semasa menjabat Komandan Jenderal Kopassus tahun 1998.
Ketika Fadli Zon mengatakan kasus pemerkosaan massal yang menyertai kerusuhan 13-15 Mei 1998, mereka akan sami’na wa ato’na. Rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto bertanggung jawab dalam kasus ini.
Ketika hanya ada dua dari 17 pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang diakui Komnas HAM yang akan ditulis dalam buku tersebut, mereka juga akan sendika dhawuh.
Ketika beberapa peristiwa penting seperti Tragedi 1965 tidak masuk dalam “outline” buku yang sedang ditulis tersebut, mereka juga akan sami’na wa ato’na.
Demikianlah. Banyak kejanggalan dalam penulisan buku sejarah di era pemerintahan Prabowo ini. Termasuk secara akademik.
Sebab itu, salah seorang anggota tim penulis, yang boleh disebut bukan ilmuwan tukang, mengundurkan diri dari tim. Dan ilmuwan bukan tukang itu adalah arkeolog Harry Truman Simanjuntak.
Dikutip dari Tempo.co, 24 Mei 2025, Truman punya alasan pribadi dan akademis atas pengunduran dirinya baik sebagai editor maupun kontributor karena ada ketidaksesuaian akademis.
Truman menjelaskan, awalnya dia beserta sejumlah sejarawan berdiskusi hingga larut malam di sebuah hotel di Jakarta untuk membahas outline tulisan. Dalam diskusi perdana itu para hadirin sudah diberikan outline yang tinggal diisi konten-konten yang relevan.
Truman mengaku merasa janggal karena semestinya outline didiskusikan terlebih dulu oleh para ilmuwan yang terdiri dari sejarawan dan prasejarawan, atau diserahkan sepenuhnya kepada editor.
Kedua, katanya, dalam bab satu tidak menuliskan ‘prasejarah’, tetapi ‘sejarah awal’.
Penerima Sarwono Award 2015 ini tidak menyangkal bahwa sejarah secara terminologi diartikan ada setelah ada manusia. Tetapi, sebagai disiplin ilmu, katanya, sejarah memiliki pendekatan dari sumber-sumber tulisan dan memiliki keterbatasan pada meneliti masa setelah mengenal tulisan.
Sedangkan prasejarah diartikan saat belum mengenal tulisan. Studi prasejarah pun memiliki metode dan pendekatan sendiri berupa pendekatan peninggalan budaya.
Alhasil, epistemologinya berbeda dan pendekatannta pun berbeda, tapi dipaksakan. “Ini sebuah cerminan kesempitan pandangan sebagai ilmuwan, katanya.
Truman teguh pada pendiriannya supaya bagian prasejarah tetap tertulis dan kontennya dibahas lengkap. Bahkan dia juga membuat outline-nya sendiri dan mempresentasikan di hadapan sejarawan lain, pada bagian awal membahas konsep penulisan prasejarah Indonesia.
Bagian ini, kata dia, penting dijelaskan karena berisi metodologi dan pendekatan yang dipakai dalam penulisan. Sehingga, katanya, dari pendekatan dan metode itu orang bisa mengerti bahasan ini dihasilkan dari penelitian yang seperti apa.
Kini, buku sejarah semacam apa yang akan dihasilkan oleh ilmuwan-ilmuwan tukang?


























