• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Indah di Mata, Perih di Perut: Ironi Kepemimpinan Estetika ala Dedi Mulyadi

Ali Syarief by Ali Syarief
July 23, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Indah di Mata, Perih di Perut: Ironi Kepemimpinan Estetika ala Dedi Mulyadi

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di tangan Dedi Mulyadi, sungai bukan lagi tempat buangan, tapi diangkat sebagai nadi peradaban. Di era kepemimpinannya sebagai Bupati Purwakarta dulu, dan kini sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi menjadikan sungai sebagai panggung utama peradaban Sunda yang bersih, estetis, dan filosofis. Ia tak hanya membenahi aliran air, tapi juga menghidupkan narasi kebudayaan: bahwa masyarakat yang besar adalah masyarakat yang menghormati alamnya.

Maka sungai-sungai dibersihkan. Bantaran ditata. Dinding-dinding beton dicat etnik. Patung-patung dan ornamen kearifan lokal ditegakkan. Kini, sungai-sungai itu mengalir tenang, bersih, dan indah. Instagram penuh dengan unggahan wisatawan lokal yang berswafoto di pinggir-pinggir sungai yang telah disulap menjadi taman kota. Media pun memuji: inilah kepemimpinan yang visioner, berani, dan penuh filosofi.

Tapi di balik air yang jernih dan lanskap yang rapi, ada suara-suara lirih yang teredam derasnya pujian. Suara dari mereka yang tak terwakili dalam estetika pembangunan: sopir angkot yang kehilangan penumpang karena jalan dipersempit; pedagang kaki lima yang dipindahkan atas nama kerapian; buruh harian yang kini harus berkeliling lebih jauh untuk mencari nafkah karena akses menuju lokasi kerja tertutup trotoar lebar dan pagar pembatas.

“Usaha saya nyaris bangkrut sejak taman ini dibangun,” keluh seorang pedagang makanan kecil yang dulu berjualan di pinggir sungai. Kini ia harus berpindah ke lorong belakang yang sepi. Tak ada lagi lalu lintas manusia seperti dulu. Trotoar memang lebar, tapi pembeli tak lagi singgah.

**

Inilah ironi kepemimpinan yang kerap terjadi: ketika estetika kota dibangun dari pengorbanan mereka yang paling lemah. Ketika kebijakan dibuat bukan berdasarkan partisipasi, melainkan persepsi tunggal tentang ‘kemajuan’. Dedi Mulyadi, meski banyak dipuji, kini menghadapi ujian sebagai Gubernur Jawa Barat: mampukah ia menjadikan penataan ruang sebagai ruang yang adil bagi semua?

Sungai yang bersih itu adalah simbol keberhasilan. Tapi apa arti keberhasilan jika hanya dinikmati segelintir kelas menengah yang punya waktu bersantai dan berswafoto, sementara mereka yang dulu menggantungkan hidup di sana terpinggirkan? Ketika pembangunan tak memberi ruang bagi ekonomi rakyat kecil untuk bertumbuh, maka pembangunan itu hanya membangun citra, bukan kesejahteraan.

Estetika tanpa etika hanya akan melahirkan ketimpangan. Kota yang cantik bisa menjadi kota yang kejam jika tak menyediakan ruang bagi mereka yang rentan.

**

Tentu, tak adil jika seluruh beban ditumpahkan kepada satu sosok. Tapi sebagai pemimpin dengan gaya yang sangat personal dan kuat dalam simbolik, Dedi tak bisa mengelak dari pertanyaan ini: apakah filosofi yang ia bangun hanya berlaku untuk alam dan budaya, atau juga untuk keadilan sosial?

Kini saatnya Dedi Mulyadi membuktikan bahwa ia bukan sekadar pemimpin yang memoles wajah kota, tapi juga yang menata isi perut warganya. Bahwa ia tak hanya membersihkan sungai dari sampah, tapi juga membersihkan sistem dari ketimpangan yang terstruktur. Bahwa ia tak hanya membangun ruang publik, tapi juga ruang hidup yang adil dan setara.

Karena sungai yang indah hanya akan menjadi monumen kesepian, jika suara rakyat kecil tak lagi mengalir bersamanya.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kiamat Kecil Bernama Krisis Sistemik: Ketika Ekonomi, Korupsi, dan Hukum Bersekongkol Menindas Rakyat

Next Post

Dari Chromebook ke Google Cloud: Nadiem Akan Jadi Tersangka KPK dan Kejagung

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Birokrasi

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Next Post
Skandal Laptop Bodong! Nadiem Makarim Diperiksa Jaksa, Proyek Digitalisasi Diduga Jadi Ajang Korupsi

Dari Chromebook ke Google Cloud: Nadiem Akan Jadi Tersangka KPK dan Kejagung

Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta

Roy Suryo Kritik Ketidakhadiran Jokowi dalam Pemeriksaan Ijazah Palsu: “Hukum Tak Lagi Setara”

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist