Fusilatnews – Di tangan Dedi Mulyadi, sungai bukan lagi tempat buangan, tapi diangkat sebagai nadi peradaban. Di era kepemimpinannya sebagai Bupati Purwakarta dulu, dan kini sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi menjadikan sungai sebagai panggung utama peradaban Sunda yang bersih, estetis, dan filosofis. Ia tak hanya membenahi aliran air, tapi juga menghidupkan narasi kebudayaan: bahwa masyarakat yang besar adalah masyarakat yang menghormati alamnya.
Maka sungai-sungai dibersihkan. Bantaran ditata. Dinding-dinding beton dicat etnik. Patung-patung dan ornamen kearifan lokal ditegakkan. Kini, sungai-sungai itu mengalir tenang, bersih, dan indah. Instagram penuh dengan unggahan wisatawan lokal yang berswafoto di pinggir-pinggir sungai yang telah disulap menjadi taman kota. Media pun memuji: inilah kepemimpinan yang visioner, berani, dan penuh filosofi.
Tapi di balik air yang jernih dan lanskap yang rapi, ada suara-suara lirih yang teredam derasnya pujian. Suara dari mereka yang tak terwakili dalam estetika pembangunan: sopir angkot yang kehilangan penumpang karena jalan dipersempit; pedagang kaki lima yang dipindahkan atas nama kerapian; buruh harian yang kini harus berkeliling lebih jauh untuk mencari nafkah karena akses menuju lokasi kerja tertutup trotoar lebar dan pagar pembatas.
“Usaha saya nyaris bangkrut sejak taman ini dibangun,” keluh seorang pedagang makanan kecil yang dulu berjualan di pinggir sungai. Kini ia harus berpindah ke lorong belakang yang sepi. Tak ada lagi lalu lintas manusia seperti dulu. Trotoar memang lebar, tapi pembeli tak lagi singgah.
**
Inilah ironi kepemimpinan yang kerap terjadi: ketika estetika kota dibangun dari pengorbanan mereka yang paling lemah. Ketika kebijakan dibuat bukan berdasarkan partisipasi, melainkan persepsi tunggal tentang ‘kemajuan’. Dedi Mulyadi, meski banyak dipuji, kini menghadapi ujian sebagai Gubernur Jawa Barat: mampukah ia menjadikan penataan ruang sebagai ruang yang adil bagi semua?
Sungai yang bersih itu adalah simbol keberhasilan. Tapi apa arti keberhasilan jika hanya dinikmati segelintir kelas menengah yang punya waktu bersantai dan berswafoto, sementara mereka yang dulu menggantungkan hidup di sana terpinggirkan? Ketika pembangunan tak memberi ruang bagi ekonomi rakyat kecil untuk bertumbuh, maka pembangunan itu hanya membangun citra, bukan kesejahteraan.
Estetika tanpa etika hanya akan melahirkan ketimpangan. Kota yang cantik bisa menjadi kota yang kejam jika tak menyediakan ruang bagi mereka yang rentan.
**
Tentu, tak adil jika seluruh beban ditumpahkan kepada satu sosok. Tapi sebagai pemimpin dengan gaya yang sangat personal dan kuat dalam simbolik, Dedi tak bisa mengelak dari pertanyaan ini: apakah filosofi yang ia bangun hanya berlaku untuk alam dan budaya, atau juga untuk keadilan sosial?
Kini saatnya Dedi Mulyadi membuktikan bahwa ia bukan sekadar pemimpin yang memoles wajah kota, tapi juga yang menata isi perut warganya. Bahwa ia tak hanya membersihkan sungai dari sampah, tapi juga membersihkan sistem dari ketimpangan yang terstruktur. Bahwa ia tak hanya membangun ruang publik, tapi juga ruang hidup yang adil dan setara.
Karena sungai yang indah hanya akan menjadi monumen kesepian, jika suara rakyat kecil tak lagi mengalir bersamanya.
























