Oleh : Shawn Corrigan
Ketika Presiden Prabowo berencana menemui Donald Trump secara langsung, pertaruhannya bukan sekadar diplomasi basa-basi. Setelah Amerika Serikat menjatuhkan tarif 32 persen atas produk Indonesia, arah angin perdagangan berubah tajam. Trump ingin Indonesia membeli lebih banyak barang Amerika dan membuka pasarnya selebar mungkin. Tapi apakah Indonesia harus menyerah begitu saja? Jawabannya jelas: tidak. Jika dimainkan dengan cerdas, Indonesia bukan hanya bisa merespons tekanan, tapi juga membalikkan permainan.
Trump menyukai pengumuman bombastis, angka besar, dan kemenangan yang bisa diklaim di media. Tapi kalau ditelisik lebih dalam, pola perjanjian dagang ala Trump punya celah. Negara-negara lain sudah lama tahu triknya: berjanji cukup banyak untuk tetap dalam permainan, lalu menunda, memperhalus, atau bahkan menghindari rincian. Anehnya, Amerika jarang menindak tegas. Ini adalah playbook yang bisa dan seharusnya dipelajari Indonesia.
India melakukannya pada 2007. Mereka menyambut Harley-Davidson, tapi tetap menjaga tarif tinggi. Saat Trump menjabat, tarif sempat diturunkan, tapi merek lokal tetap menang di pasar. Harley pun hengkang dari India pada 2020.
China? Lebih lihai lagi. Di masa Trump, mereka menandatangani Phase One Agreement—kesepakatan raksasa bernilai $200 miliar untuk membeli produk AS. Hasil akhirnya? China hanya memenuhi sekitar setengah target. Sebagian karena pandemi, tapi juga karena China cerdik memainkan data impor dan menunda realisasi. Respons AS? Minim.
Lalu bagaimana Indonesia harus bersikap?
Trump tak terlalu peduli pada reformasi struktural. Yang dia lihat hanyalah defisit dagang: AS membeli lebih banyak dari Indonesia daripada sebaliknya, dan itu dianggap kekalahan. Yang dia inginkan hanya satu: Indonesia membeli lebih banyak barang Amerika, agar ia bisa mengklaim “menang.”
Beberapa pejabat Indonesia memberi sinyal akan menurunkan tarif baja, elektronik, alat kesehatan, dan meningkatkan pembelian kedelai, LPG, serta komponen industri. Kedengarannya besar. Tapi haruskah Indonesia memberi sebanyak itu?
Jawabannya: tidak. Indonesia bisa dan harus cerdik.
Pertama, lakukan bertahap. Turunkan tarif hanya untuk produk-produk tertentu seperti baja spesialis yang tak diproduksi dalam negeri. Tetapkan kuota. Terdengar besar, tapi dampaknya kecil.
Kedua, repackage. Indonesia memang sudah mengimpor kedelai dan LPG dari AS. Tinggal ganti bungkus: jadikan pembelian yang sudah ada sebagai bagian dari “deal” baru.
Ketiga, tunda. Kaitkan komitmen pembelian dengan proyek jangka panjang: infrastruktur, energi, modernisasi industri. Proyeknya belum tentu jalan cepat, tapi janji bisa diumumkan sekarang.
Strategi ini realistis. Misalnya baja: Indonesia mengekspor baja kadar rendah, tapi tetap impor baja kualitas tinggi, termasuk dari AS. Tapi volume impor baja AS sangat kecil. Jika Indonesia menurunkan tarif baja AS, Trump senang, sementara dampaknya nyaris nihil.
Kalau bicara reformasi nyata—soal TKDN, kepastian hukum, dan iklim investasi—itu urusan lain. Perlu waktu, strategi, dan konsensus dari dalam negeri. Dan di sinilah pentingnya: apa yang dijanjikan tak kalah penting dari bagaimana dan kapan menjanjikannya.
Jadi, tekanan dagang dari Trump mungkin kembali hadir. Tapi Indonesia tak perlu merombak orientasi ekonominya demi memuaskan ego politik Amerika. Yang dibutuhkan adalah strategi fleksibel, kalkulatif, dan tajam. Tahu kapan berkata “ya”, tapi di saat dan cara yang menguntungkan.
Trump boleh saja menulis The Art of the Deal. Tapi Indonesia punya peluang untuk menulis ulang satu bab penting: seni bernegosiasi tanpa tunduk.
Oleh : 


















