• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

INDONESIA BUTUH MOSI INTEGRAL NATSIR KE-III

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
April 4, 2025
in Feature, Politik
0
INDONESIA BUTUH MOSI INTEGRAL NATSIR KE-III
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prihandoyo Kuswanto – Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila

Pendahuluan

Indonesia kini berada di persimpangan sejarah. Dalam kondisi seperti ini, bangsa ini membutuhkan kembali semangat dan keberanian intelektual sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh Mohammad Natsir melalui Mosi Integral tahun 1950. Sebuah mosi yang menjadi penanda penting dalam proses reunifikasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah melewati masa perpecahan dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).

Mohammad Natsir, anggota Parlemen RIS, mengajukan Mosi Integral pada 3 April 1950, menyerukan pembubaran negara-negara bagian RIS dan kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan berdasarkan UUD 1945. Mosi ini diterima secara aklamasi, dan menjadi tonggak sejarah pembentukan kembali NKRI.

Namun, lebih dari sekadar teknis penyatuan bentuk negara, Mosi Integral Natsir adalah simbol perjuangan untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman kolonialisme baru, sekaligus memulihkan arah perjuangan kemerdekaan yang hakiki—yakni menjadikan UUD 1945 dan Pancasila sebagai fondasi utama bernegara.

Kini, Indonesia kembali menghadapi tantangan serupa. Maka, Indonesia membutuhkan Mosi Integral Natsir ke-III.


Mengapa Indonesia Membutuhkan Mosi Integral Natsir Ke-III

Pemikiran Natsir tentang pentingnya kembali ke Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila menjadi sangat relevan di era pasca-amandemen konstitusi. Amandemen terhadap UUD 1945 bukan hanya mengubah beberapa pasal, melainkan telah mendistorsi secara substansial prinsip-prinsip dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pokok-pokok pikiran Pembukaan UUD 1945 yang semula berlandaskan semangat kolektivisme, gotong royong, dan persatuan telah digantikan dengan sistem individualisme dan demokrasi liberal. Lembaga perwakilan rakyat pun mengalami perubahan fundamental—dari MPR sebagai representasi rakyat, daerah, dan golongan, menjadi dua kamar legislatif yang terpisah, yakni DPR dan DPD, dengan karakter lebih prosedural daripada substansial.

Konsep Bhineka Tunggal Ika yang dahulu menjadi konfigurasi nyata dalam susunan MPR kini hilang. Demokrasi telah direduksi menjadi “adu kuat”, “adu suara”, dan “adu tipu”, menjauh dari semangat permusyawaratan dan persatuan. Akibatnya, nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, toleransi, dan musyawarah digantikan oleh pragmatisme dan kepentingan sempit.

Kembali ke Akar: Pemikiran Integral Natsir dan Kemerdekaan Ketiga

Jika Mosi Integral 1950 adalah bentuk “kemerdekaan kedua” dari sistem kolonialisme bentukan Belanda melalui RIS, maka Mosi Integral ke-III adalah ajakan menuju “kemerdekaan ketiga”—kemerdekaan dari sistem liberalisme politik dan ekonomi yang telah menggerus semangat kebangsaan, memperlemah persatuan, dan mengancam kedaulatan rakyat.

Dalam konteks ini, pemikiran Natsir sangat penting untuk dijadikan fondasi perjuangan baru bangsa ini. Ia menekankan bahwa:

  • Negara harus melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darahnya.
  • Negara wajib mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
  • Kedaulatan rakyat harus dijalankan oleh lembaga yang mencerminkan representasi sejati rakyat, yakni MPR sebagai pelaksana kehendak rakyat secara kolektif.
  • Persatuan Indonesia adalah syarat utama keberlangsungan negara dengan ribuan pulau, suku, agama, dan budaya.
  • Negara harus berdiri di atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa yang adil dan beradab.

Mosi Integral ke-III bukan semata gagasan politis, melainkan sebuah agenda besar untuk mengembalikan semangat awal Proklamasi 17 Agustus 1945. Ia adalah koreksi terhadap penyimpangan konstitusional dan arah pembangunan nasional yang menjauh dari cita-cita pendiri bangsa.

Langkah-Langkah Strategis: Isi Mosi Integral Ke-III

  1. Mengembalikan Pokok-Pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945
    Menghidupkan kembali nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial dalam sistem hukum dan praktik kenegaraan.
  2. Mengembalikan Kedaulatan Rakyat yang Substantif
    Dengan mereformulasi kembali struktur MPR sebagai lembaga tertinggi negara yang benar-benar mencerminkan keragaman dan kehendak rakyat.
  3. Menghidupkan kembali GBHN
    Sebagai panduan arah pembangunan nasional yang tak tunduk pada visi lima tahunan rezim, melainkan pada visi jangka panjang bangsa berdasarkan Pancasila.
  4. Merevitalisasi Semangat Persatuan dalam Keanekaragaman
    Bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan dalam kebijakan politik, pendidikan, dan pembangunan yang merangkul seluruh anak bangsa.

Kesimpulan: Membangun Indonesia Emas dengan Fondasi Asli

Indonesia hanya akan mampu membangun Indonesia Emas jika berdiri di atas fondasi asli yang kokoh—yakni Pancasila dan UUD 1945 yang asli, bukan hasil amandemen liberal yang memisahkan rakyat dari negara. Mosi Integral Natsir ke-III bukan sekadar nostalgia historis, melainkan kebutuhan mendesak dalam menghadapi krisis identitas, moral, dan arah bangsa hari ini.

Sudah waktunya kita kembali kepada jati diri bangsa. Hanya dengan itu, kita dapat membangun wawasan kebangsaan yang kuat, mempererat persatuan, dan menghindarkan bangsa dari perpecahan yang terus mengintai.

Indonesia tak boleh kehilangan arah. Mari bersama-sama kita suarakan dan gerakkan Mosi Integral ke-III, demi menyelamatkan masa depan Indonesia.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Seberapa Besar,Tarif  Baru Trump Akan Rugikan Negara Lain dan Konsumen AS?

Next Post

Sakura: Bunga yang Menanamkan Filsafat Kehidupan di Jepang

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Feature

Mengoreksi Sentralisasi Pendidikan: Menuju Desentralisasi Terbimbing

May 21, 2026
Tunas yang Belum Selesai Tumbuh: Memaknai Hari Kebangkitan Nasional 2026 dari Perspektif Disabilitas
Feature

Tunas yang Belum Selesai Tumbuh: Memaknai Hari Kebangkitan Nasional 2026 dari Perspektif Disabilitas

May 21, 2026
Indonesia Tidak Kekurangan Rakyat, Indonesia Kekurangan Pekerjaan: Belajar dari India dan Filipina
Economy

Indonesia Tidak Kekurangan Rakyat, Indonesia Kekurangan Pekerjaan: Belajar dari India dan Filipina

May 21, 2026
Next Post
Sakura: Bunga yang Menanamkan Filsafat Kehidupan di Jepang

Sakura: Bunga yang Menanamkan Filsafat Kehidupan di Jepang

Propam akan Selidiki Kanit Pidum Polres Labusel Terkait Pesta Narkoba di Lebaran Kedua

Propam akan Selidiki Kanit Pidum Polres Labusel Terkait Pesta Narkoba di Lebaran Kedua

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati
Komunitas

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

by Karyudi Sutajah Putra
May 21, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Dua puluh delapan tahun pasca-Reformasi 1998, demokrasi Indonesia justru bergerak mundur. Rezim hari ini mempertontonkan wajah kekuasaan...

Read more
Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

May 21, 2026
Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Mengoreksi Sentralisasi Pendidikan: Menuju Desentralisasi Terbimbing

May 21, 2026
Tunas yang Belum Selesai Tumbuh: Memaknai Hari Kebangkitan Nasional 2026 dari Perspektif Disabilitas

Tunas yang Belum Selesai Tumbuh: Memaknai Hari Kebangkitan Nasional 2026 dari Perspektif Disabilitas

May 21, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Indonesia Tidak Kekurangan Rakyat, Indonesia Kekurangan Pekerjaan: Belajar dari India dan Filipina

Indonesia Tidak Kekurangan Rakyat, Indonesia Kekurangan Pekerjaan: Belajar dari India dan Filipina

May 21, 2026
Homestay Bersama Keluarga Jepang: Belajar melalui Perspektif Budaya Indonesia dan Jepang

Homestay Bersama Keluarga Jepang: Belajar melalui Perspektif Budaya Indonesia dan Jepang

May 21, 2026
Dua Perspektif dalam Membaca Sejarah Islam Era Sahabat

Dua Perspektif dalam Membaca Sejarah Islam Era Sahabat

May 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mengoreksi Sentralisasi Pendidikan: Menuju Desentralisasi Terbimbing

May 21, 2026
Tunas yang Belum Selesai Tumbuh: Memaknai Hari Kebangkitan Nasional 2026 dari Perspektif Disabilitas

Tunas yang Belum Selesai Tumbuh: Memaknai Hari Kebangkitan Nasional 2026 dari Perspektif Disabilitas

May 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...