Oleh : Prihandoyo Kuswanto | Ketua Pusat Studi Rumah Pancasila
Politik aliran mulai menjadi perbincangan seakan aliran politik itu haram di negeri yang berdasarkan Pancasila. Arah stigma politik aliran diarahkan pada Islam ya bagian dari Islamopobhia bagi mereka yang tidak membaca sejarah bangsa ini menganggap politik aliran tidak boleh eksis di negeri ini . Seakan politik aliran itu hanya Islam tetapi aliran politik diluar Islam dianggap bukan politik aliran. Padahal negeri ini didirikan oleh politik aliran pergerakan kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari politik aliran .
Syarekat Islam yang membangkitkan kesadaran berbangsa dan bernegara dimulailah awal pergerakan Indonesia dari Syarekat Islam yang di pimpin Oleh HOS Tjokroaminoto Dari SI itulah ide pertamakali Indonesia merdeka ,pidato HOS Tjokroaminoto selftbesture .
Di atas podium Kongres Sarekat Islam di Bandung pada 17-24 Juni 1916, Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto berorasi dengan nada tinggi. Pemimpin Besar Sarekat Islam ini menyerukan tentang ide kemerdekaan bagi bangsa Hindia (Indonesia). Itu disebutnya dengan istilah zelfbestuur atau pemerintahan sendiri.
“Orang semakin lama merasakan, baik di Belanda maupun di Hindia, bahwa zelfbestuur sungguh diperlukan,” lantang Tjokroaminoto di hadapan ratusan peserta kongres yang datang dari seluruh penjuru negeri. Ide nasionalisme dan kemerdekaan pertama kali digaungkan oleh HOS Tjokroaminoto melalui salahsatu kongres Sarekat Islam, yang pada saat itu dapat disebut sebagai langkah yang cukup berani dan radikal.
Sebagaimana yang tercatat dalam peristiwa Congress National 1 CSI pada 17-24 Juni 1916 di Bandung, tepatnya di Gedung Concordia (Gedung Merdeka sekarang). Ide atau gagasan kemerdekaan itu lahir dan dikenal dengan istilah Zelfbestuur, dalam bahasa belanda yang artinya pemerintahan sendiri. Dalam kongres ini pula, Sarekat islam berhasil mempelopori sosialisasi istilah nasional ke dalam kancah perpolitikan yang pada saat itu masih berada dibawah pemerintahan belanda. (Suryanegara, 2015)
Mereka yang hari ini atau tidak perna membaca sejarah padahal yang memperjuangkan kemerdekaan ,yang membangkitkan kesadaran bangsa ini dari penjajahan adalah politik aliran Islam . Bukan berhenti pada ide kemerdekaan yang di pelopori Syarekat Islam tetapi peran tokoh Islam dan Ulama sangat besar dalam mendirikan Republik ini tokoh tokoh Islam Ki Bagus Hadi Kusumo ,Haji Agus Salim ,KH Wahid Hasyim ,Kyai Haji Kahar Muzakir.Abikusno Tjokrosujoso adik kandung HOS Tjokroaminoto .dan banyak lagi peran tokoh tokoh Islam .
Hari ini Islam diperkusi dengan segala atribut Islamophobia ,Islam Radikal ,Islam teroris ,Khilafah dijadikan musuh negara aneh baru kali ini ada ajaran Islam menjadi musuh negara padahal menurut Islam setiap mukmin itu Khalifah pemimpin minimal pemimpin keluarga skala terkecil .dan tentu dalam memimpin itu ada hukum Allah yang disebut Khilafah. Islam terlalu banyak saham nya untuk mendirikan negeri ini bukan hanya soal memerdekakan Indonesia tetapi juga mempertahankan kemerdekaan peran ulama dan politik aliran sangat besar ,tanpa Resolusi Jihad mungkin Indonesia tidak akan ada ,karena perlawanan 10 Nopember 1945 itulah dunia melihat eksistensi kemerdekaan Indonesia Meninggal nya Jendral Malaby di Surabaya mengejutkan sekutu sebab Jendral Malaby adalah komandan perang dunia ke 2 yang di menangkan sekutu meninggal di tangan Bonek di Surabaya .
Pancasila itu memang mewadahi politik aliran dan itu diuraikan oleh Bung Karno . Sejak Amandemen UUD1945 yang terjadi politik aliran disumbat keanggotaan MPR melalui utusan golongan dibubarkan akibat nya politik aliran menjadi extra parlementer rupanya membuat partai politik kebakaran jenggot mereka tidak sadar partai politik itu juga politik aliran .
Kata Soekarno untuk menyelamatkan kita punya Republik Indonesia ini, kami menggambarkan negara ini dengan cara yang populer, yaitu menggambarkan gambaran wadah, agar supaya bangsa Indonesia mengerti bahwa wadah inilah yang harus dijaga jangan sampai retak.
Dan wadah ini hanyalah bisa selamat tidak retak, jikalau wadah ini didasarkan di atas dasar yang kunamakan Pancasila. Dan jikalau ini wadah dibuatnya daripada elemen-elemen yang tersusun daripada Pancasila.
Misal Gelas terbuat dari gelas, cangkir terbuat dari porselen, keranjang terbuat dari anyaman bambu, periuk terbuat daripada tanah, belanga terbuat daripada tanah atau tembaga. Wadah kita yang bernama negara ini, terbuatlah hendaknya daripada elemen-elemen yang tersusun dari Pancasila.
Sebab hanya jikalau wadah ini terbuat daripada elemen-elemen itu saja, dan hanya kalau wadah ini ditaruhkan di atas dasar Pancasila itu maka wadah ini tidak retak, tidak pecah.Oleh karena itu aku masih yakin baiknya Pancasila sebagai dasar negara. Ini wadah bisa diisi, dan memang wadah ini telah terisi masyarakat.
Masyarakat ini yang harus diisi. Orang Islam isilah masyarakat ini dengan Islam. Orang Kristen, masukkanlah kekristenan di dalam masyarakat ini. PNI yang berdasar di atas marhaenisme, isilah masyarakat ini dengan marhaenisme, dengan satu masyarakat yang berdasar dengan marhaenisme. Masyarakatnya yang harus diisi.bukan nya isi dari wadah itu menampung politik aliran ?
………” PNI tetaplah kepada azas Marhaenisme. Dan PNI boleh berkata justru karena PNI berazas Marhaenisme, oleh karena itulah PNI mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Tetapi jangan berkata PNI berdasarkan Pancasila. Sebab jikalau dikatakan Pancasila adalah ideologi satu partai, lalu partai-partai lain tidak mau……”
.
……..”Oleh karena itu aku ulangi lagi. Pancasila adalah dasar negara dan harus kita pertahankan sebagai dasar negara jika kita tidak mau mengalami bahaya besar terpecahnya negara ini. (Soekarno)
Justru hari ini aneh semua elemen Di Pancasila kan ,yang tidak berideologi Pancasila di gebuk oleh mereka yang merasa paling Pancasila .Kalau semua ormas semua partai politik harus berideologi Pancasila tentu tidak butuh wadah yang punya dasar Pancasila .
Padahal Wadah yang berdasar Pancasila itu dimasukan segala macam ideologi Pancasila bisa menyelesaikan perbedaan tersebut .
Sekarang Pancasila menjadi alat gebuk yang tidak berideologi Pancasila di gebuk ,tafsir Pancasila menjadi monopoli BPIP
Jadi salah kapra kalau semua di ideologikan Pancasila ini sama saja mengkhianati pemikiran Soekarno tentang Pancasila sebagai wadah berbangsa dan bernegara.


























