Fusilatnews – Kekuasaan, selalu mencari wajah baru. Pernah ia bersemayam di istana, dalam sorak pasukan, dalam tanda tangan seorang presiden. Kini, ia menyelinap lewat layar kecil di genggaman tangan, hadir dalam sebuah unggahan Instagram, potongan TikTok, atau siaran YouTube.
Kita menyebutnya influencer. Kata asing yang kini terasa lebih nyata dibanding kata “penguasa”. Sebab, pengaruh mereka sering bergema lebih jauh dari pidato di podium.
Nama-nama itu kita kenal: Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, yang memonopoli ruang hiburan hingga setiap gerak rumah tangga mereka menjadi konsumsi publik; Najwa Shihab, yang mengubah jurnalisme menjadi percakapan akrab tapi tajam; Rocky Gerung, dengan sinisme yang menjadikan politik semacam arena gladiator opini; Refly Harun, yang menyulap hukum menjadi obrolan harian; Ustadz Abdul Somad, yang pengajiannya viral di kampung maupun kota; David dari GadgetIn, yang lebih didengar ketimbang iklan resmi sebuah merek; atau Nex Carlos dan Mgdalenaf, yang dari sepiring nasi bisa menggerakkan antrean panjang.
Tapi tak berhenti di situ. Para influencer juga dipanggil ke istana. Mereka diajak berfoto bersama presiden, dikukuhkan sebagai duta ini-itu, bahkan dipinjam wibawanya untuk menenangkan publik. Seolah kekuasaan menyadari: legitimasi kini tak hanya lahir dari partai politik atau lembaga negara, tapi juga dari jumlah pengikut di media sosial.
Paradoks pun lahir. Seorang presiden yang seharusnya mengandalkan birokrasi dan visi, justru menoleh pada influencer untuk mengukur denyut rakyat. Politik, yang dulu penuh debat serius, kini sering berubah jadi panggung konten. Seakan-akan negara bisa diatur dengan gimmick yang trending.
Namun, ada juga mereka yang menolak untuk sekadar menjadi alat. Najwa Shihab, misalnya, menampik undangan meriah dari kekuasaan, memilih jalannya sendiri. Rocky Gerung, dengan segala kontroversinya, tetap menyalakan perlawanan wacana. Di sini, influencer tampil bukan sebagai pelengkap legitimasi, melainkan sebagai pengganggu yang tak bisa diatur.
Di tangan para influencer, politik menjadi cair: kadang iklan, kadang sindiran, kadang kritik. Kita sebagai penonton merasa sedang memilih, padahal diam-diam diarahkan.
Dan mungkin di sinilah wajah baru kekuasaan itu: ia tak lagi hadir lewat barikade atau pasal-pasal, tapi lewat sebuah like, sebuah share, sebuah trending topic. Ringan kelihatannya, tapi bisa lebih menentukan daripada hasil rapat kabinet.

























