Oleh: Malika Dwi Ana
Di panggung megah Sidang Umum PBB ke-80, 23 September 2025, Presiden Prabowo Subianto tampil bak aktor Broadway yang haus sorotan. Dengan gestur jenderal perang—mengetuk-ngetuk podium hingga delegasi melirik kagum—ia melantunkan pidato 45 menit, melampaui jatah 5 menit hingga mikrofon diputus, tapi tetap ngegas semenit lebih. Media Indonesia langsung histeris: “Presiden kita cas-cis-cus Inggris! Berani gebrak meja! Serukan Palestina merdeka!” Judul bombastis macam “Prabowo Hantam Podium, Dunia Terpana” membanjiri linimasa. Tapi, tunggu dulu, apa isinya? Kosong melompong, saudara-saudara! Retorika berbalut api, panas di bibir, tapi dingin di tindakan.
Media lokal klepek-klepek karena Prabowo, alumnus sekolah internasional, berpidato dalam bahasa Inggris. Padahal, ini bukan soal cas-cis-cus, melainkan apa yang disampaikan. Indonesia absen 10 tahun dari panggung PBB di era Jokowi, yang konon sibuk “wi wok de tok, not onle tok de tok” di dalam negeri (dan, tentu saja sowan ke Beijing). Prabowo, dengan ambisi besar, ingin tampil beda. Ia naik panggung, membuka pidato dengan kutipan idealis dari Deklarasi Kemerdekaan AS—ironisnya, mengingat Trump, yang berpidato sebelumnya, baru saja mencaci PBB sebagai “birokrasi tak berguna”. Prabowo menyinggung Gaza sebagai “situasi katastrofik”, menggambarkan penderitaan warga sipil dengan nada emosional: “Who will save the innocent? We must act now,” katanya, sambil mengetuk-ngetuk meja podium menghasilkan efek heroik dan dramatis. Tapi, alih-alih kecaman tajam terhadap agresi Israel, ia memilih jalan tengah yang aman: two-state solution yang “mengakui Palestina merdeka” sekaligus “menjamin keamanan Israel”. Diplomasi tanpa nyali, sekaligus tanpa prinsip!
Pembukaan UUD 1945 alinea kedua jelas berbunyi:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Kalimat ini menegaskan kemerdekaan sebagai hak asasi setiap bangsa dan menolak penjajahan sebagai ketidakadilan. Lalu, mengapa Prabowo malah mendesak two-state solution yang mengakui Palestina, tapi juga menjamin “keamanan” Israel? Ini naif atau sekadar main aman? Indonesia sudah mengakui Palestina sejak 1988 lho! Bandingkan dengan China, yang di sidang sama menuntut PBB menjadikan Palestina anggota resmi—bener-bener langkah konkret yang berani, bukan jargon semata. Lha Prabowo? Hanya mengulang posisi usang Soeharto, dibungkus drama ketok meja. Ia bilang Indonesia baru akan mengakui Israel jika Israel mengakui Palestina. Keren di atas kertas, tapi Israel sudah anggota PBB sejak 1949, dan tanah Palestina terus dicaplok setiap tahun. Bagaimana dengan genosida di Gaza? Pelanggaran di Tepi Barat? Prabowo diam seribu bahasa. Ketokan mejanya hanya menghasilkan derit berisik, tak menggoyahkan hegemoni pelaku.
Lucunya, duo “jagoan perang” dunia, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, malah jadi penonton paling antusias. Trump, yang baru saja menyebut PBB “tong sampah birokrasi”, memuji: “Pidato hebat! Gebrakan mejanya luar biasa!” Netanyahu juga melempar sanjungan, menyebut Prabowo mitra perdamaian. Kok bisa? Ya, karena Prabowo main aman! Tak sekalipun ia menyinggung Israel secara frontal, malah menjanjikan “keamanan” bagi mereka. Netizen di medsos langsung nyinyir: “Pantes Trump suka, ini kan cuma penutup genosida!”
Puncak komedinya, Prabowo menawarkan 20.000 pasukan perdamaian—“boots on the ground”—ke Gaza, Ukraina, hingga Sudan. Gagah di poster, tapi berbahaya di lapangan. Indonesia berisiko jadi pion dalam proxy war Barat, entah untuk stabilisasi Gaza sesuai agenda AS-Israel atau terjebak di Ukraina, ring tinju NATO-Rusia. Ini bukan misi perdamaian, tapi undangan masuk perangkap! Trump dan Netanyahu pasti tepuk tangan kegirangan karena Indonesia sukarela jadi pelayan panggung mereka.
Pidato Prabowo jelas bukan “wi wok de tok” ala Jokowi, tapi jadi sekadar “tok de tok” dengan balutan drama. Ia lempar janji muluk: soal swasembada pangan, aksi iklim, reformasi PBB. Tapi soal Palestina? Hanya mengulang posisi Indonesia di tahun 1988 tanpa tindakan nyata. Gebrakan mejanya viral, tapi tak mengguncang hegemoni Israel atau sekutunya. Palestina bagi Prabowo hanyalah komoditas politik—alat panen tepuk tangan di panggung global. Bagi rakyat sipil, Palestina adalah tragedi runtuhnya kemanusiaan di tangan fasisme.
Indonesia di bawah Prabowo ingin jadi macan Asia, tapi macan ini cuma mengaum, gak punya gigi, dan cakar. Gebrak mejanya boleh jadi trending, tapi tanpa keberanian menyentuh pelaku ketidakadilan di Gaza, ia hanyalah aktor drama. Jokowi, meski ijazahnya produk pasar Pramuka, pernah bilang: “We not only talk the talk, but we walk the talk.” Prabowo? Cuma talk, dan talk-nya pun kosong.(MDA)
Lereng Lawu, 28 September 2025
Oleh: Malika Dwi Ana
























