Oleh : Fachrurozi | Direktur Eksekutif Nurcholish Madjid Society
BAGI kaum muslim, Nabi Muhammad laksana oase yang tak pernah kering. Setiap kali kelahirannya diperingati pada 12 Rabiul Awal, kisah keteladanan Nabi Muhammad senantiasa ditelusuri. Satu prinsip fundamental yang sering digelorakan semasa Nabi Muhamad hidup ialah spirit kesetaraan. Prinsip kesetaraan bersumber dari ajaran Islam bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan sehingga tidak boleh satu makhluk pun merasa lebih tinggi dari yang lain; tidak boleh merasa paling mulia di antara yang lain; dan tidak boleh satu golongan merasa lebih superior dari yang lain. Penegasan tentang kesetaraan itu diungkapkan dalam banyak firman-Nya dalam Al Quran dengan pesan utama bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan, hanya ketakwaan yang membedakan kualitas di antara manusia, sekaligus menegaskan keunggulan satu manusia atas manusia lainnya.
Firman Tuhan dalam surat Al Hujurat (49) ayat 13 dengan tegas menyampaikan pesan kebinekaan setiap individu di muka bumi, dan hanya individu yang mampu menjaga dirinya (bertakwa) yang dapat membedakan “kelas/peringkat” setiap makhluk-Nya. Tuhan berkata, “Kami telah menciptakan kalian semua dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kalian dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Awas.” Ayat di atas diturunkan ketika kabilah-kabilah di Arab menolak Bilal bin Rabah, seorang budak berkulit hitam, yang diminta Rasulullah mengumandangkan azan dalam peristiwa Fathu Makkah.
Para petinggi kabilah itu tidak mengetahui kemampuan Bilal dalam menyerukan azan. Sejumlah orang dari suku Quraisy, termasuk Salman Al-Farisi, Utab bin Asid bin Abi al-‘Aish, Harits bin Hisyam, Suhail bin Amru, dan Abu Sufyan bin Harb, menyindir Bilal dengan sebutan “gagak hitam” – sebuah sematan yang ditujukan untuk menghina Bilal – lantaran menganggap diri mereka lebih mulia darinya, dan merasa suku mereka lebih tinggi dari Bilal yang hanya seorang budak belaka. Peristiwa itu direkam Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H/767 M) dalam kitabnya Tafsir Muqatil bin Sulaiman (Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 2002 [Juz 4], 96-97) dan Abdulah bin Abbas dalam Tanwirul Miqbas (Beirut: 1992, 549-550).
Karena ledekan yang merendahkan yang dilakukan orang-orang dari suku Quraisy itu, Allah langsung mewahyukan sebuah ayat yang menegaskan bahwa “… semua manusia berasal dari moyang sayang sama yakni Adam dan Hawa” dan berasal dari bangsa dan suku yang berbeda-beda, yakni dari bangsa budak seperti Bilal dari Habasyah (Ethiopia), Quraisy, Bani Tamim, Mudhar, dan Azrad. Ibnu Jarir al-Thabari dalam karyanya Jami al-Bayan fi Ta’wil al-Quran (1994 [Juz 7], 85-86), menguraikan bahwa Allah menciptakan manusia dari “… berbagai keturunan di mana satu sama lain saling terhubung dalam garis keturunan yang jauh dan dekat”. Dari penciptaan yang beragam itu, Allah memerintahkan agar setiap manusia saling mengenal satu sama lain, sebab manusia berasal dari sumber yang sama, yakni dari Adam dan Hawa.
Penyebutan Adam dan Hawa sebagai moyang manusia menegaskan adanya kesamaan asal-usul bilogis yang merefleksikan kesetaraan martabat manusia seluruhnya. Penegasan penyebutan “seorang laki-laki” dan “seorang perempuan” dalam firman Allah di atas sangat penting bagi tekanan pada hakikat kesamaan derajat yang diajarkan Islam. Artinya, ayat ini mengandung penjelasan tentang pentingnya persaudaraan manusia (al-ukhuwwah al-insaniyyah) yang menjadi alasan utama mengapa setiap manusia harus saling menghargai satu sama lain.
Prinsip Kesetaraan
Dari ayat itu pula kita mendapat penegasan bahwa keunggulan setiap manusia ditentukan hanya lewat kedekatan dan ketaatannya pada perintah dan ajaran Tuhan, bukan karena status sosial, pangkat, atau kedudukannya. Sosok Bilal yang memasrahkan dirinya kepada Tuhan seraya menaati perintah-Nya oleh Muqatil dan Ibnu Abbas disebut sebagai representasi “manusia takwa di dunia.” Bilal juga disebut sebagai contoh dari manusia paling mulia di sisi Allah (di akhirat kelak). Pesan Tuhan di atas berlaku universal. Pesan itu menghapus “kasta” dalam masyarakat Arab yang telah menjadi budaya turun temurun sehingga sangat sulit untuk diubah. Selain itu, ayat di atas menegaskan kembali bahwa nasab, status sosial, harta, bentuk rupa, atau status pekerjaan, sama sekali bukan penentu kecintaan Tuhan kepada hamba-Nya. Keutamaan seorang hamba hanya ditentukan melalui ketakwaannya kepada Sang Khaliq.
Sayangnya, ketakwaan itu tidak bisa diraih dengan mengandalkan keutamaan nasab, suku, status sosial, dan kekayaan, tapi melalui ketulusan dan perbuatan baik lewat perhargaan yang tinggi terhadap martabat manusia. Nasab atau garis keturunan bagus merupakan karunia Allah yang harus disyukuri. Kita patut menjaga keistimewaan itu untuk berbuat baik kepada sesama manusia, menularkan nilai-nilai positif untuk memajukan peradaban, bukan justru menjadikannya sebagai sebagai alat untuk mengancam atau lebih buruk lagi menjadi privilese untuk berbuat jahat dan merendahkan orang lain. Bilal bin Rabbah, yang kisahnya diulas di atas, merupakan contoh penting bahwa seseorang dengan status sosial yang sangat rendah dan warna kulit yang hitam legam tidak menjadi penentu rendahnya derajat di hadapan Tuhan. Cara Nabi Muhammad menaikkan derajat Bilal, dengan memintanya mengumandangkan azan, menjadi teladan yang baik bagi kaum muslim agar memperlakukan setiap orang secara setara. Bahwa keberpihakan sama sekali tidak diperkenankan atas dasar warna kulit atau latar belakang suku.
Prinsip Kebinekaan
Selain kesetaraan, firman Tuhan yang termaktub dalam surat Al Hujurat ayat 13 di atas juga menegaskan prinsip kemajemukan. Inilah pesan Ilahi yang harus kita rawat bersama. Prinsip kemajemukan dalam Al Quran itu telah menginspirasi para pendiri bangsa untuk merumuskan dasar negara dan konstitusi yang menjunjung tinggi kebinekaan dan kesetaraan. Prinsip itu selaras dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berasal dari “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa” karya Empu Tantular dalam kitab Kakawin Sutasoma. Moto itu, merujuk pada Sukidi (Kompas, 28/10/2022), menegaskan bahwa bangsa Indonesia diikat oleh satu kesatuan, sekaligus menjadi rujukan historis tentang pentingnya warga bangsa ini menjaga persatuan di tengah kebinekaan.
Kesadaran akan kemajemukan menjadi kunci utama dalam membangun bangsa Indonesia di masa depan. Tanpa kesadaran kemajemukan itu, sangat mungkin bangsa yang sangat bineka ini berakhir dalam “kutukan keragaman” (the curse of diversity). Kondisi itu terjadi ketika keragaman bukan sebagai rahmat Tuhan yang harus dirawat dan disyukuri bersama, melainkan menjelma sebagai sumber ketegangan, praktik intoleransi, dan tindakan persekusi. Akhirnya, perlu disadari bersama, bahwa perintah untuk menegakkan spirit kesetaraan dan kebinekaan merupakan teladan Nabi Muhammad yang bersumber dari ajaran Tuhan sekaligus memiliki rujukan sejarahnya pada bangsa ini. Para pendiri republik adalah tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi signifikan atas terawatnya dua nilai utama bangsa Indonesia: kesetaraan dan kebinekaan.
Dikutip Kompas.com, Senin 10 Oktober 2022


























