• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mencont(r)eng Wajah Demokrasi

Redaktur Senior 01 by Redaktur Senior 01
October 11, 2022
in Feature, Politik
0
Wacana Penundaan Pemilu, Klaim soal “Big Data” yang Dinilai Manipulatif dan Sumir

Ilustrasi Pilkada 2024 (Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Prof. DR. M ALWI DAHLAN

Pemilihan umum adalah wajah demokrasi. Ia mencerminkan tingkat dan kadar demokrasi di suatu negara, seberapa demokratis sistem pemerintahannya dan seberapa mendalam kesadaran suatu bangsa atas hak-hak demokrasi yang esensial.

Tanpa proses pemilu yang sebenarnya, negara akan dicap tidak demokratis atau otoriter meski menyandang atribut ”demokrasi” dalam namanya (seperti Republik Demokrasi Rakyat Korea).

Presiden Soekarno dipandang sebagai diktator oleh dunia luar sejak ia membubarkan Dewan Konstituante hasil pemilu pertama (1955). Wajah demokrasi Indonesia kian menurun ketika tahun 1959 presiden yang tidak pernah dipilih melalui pemilihan umum itu diangkat sebagai presiden seumur hidup oleh MPR yang juga diangkatnya.

Wajah ini tidak dapat dirias-rias agar tampil lebih cantik dan kelihatan lebih demokratis. Kosmetik ”demokrasi terpimpin” yang menjadi slogan rezim Bung Karno tidak mampu menutupi sifat pemerintahannya yang otoriter dalam pandangan luar.

Kesan tidak demokratis itu lalu melekat juga pada pemerintahan Presiden Soeharto meski Orde Baru teratur melaksanakan pemilu dengan selalu diikuti partisipasi pemilih yang amat tinggi. Keteraturan pemilu saja tidak sepenuhnya dapat menolong jika sistem pemilihan dinilai berat sebelah, dirancang untuk kemenangan partai yang memerintah.

Paras demokrasi nasional berubah 180 derajat dengan Pemilu 2004. Indonesia dijuluki sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia berkat pemilu yang jujur, relatif tanpa cacat, diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum yang independen, berbeda dari lembaga pemilihan sebelumnya, yang terdiri dari pemerintah dan politisi.

Wajah negeri ini menjadi kian cerah setelah pilpres putaran kedua dimenangi calon bukan incumbent. Presiden Megawati yang sedang memerintah dikalahkan meski dia ketua umum partai politik kedua terbesar yang memenangi pemilihan legislatif.

Wajah demokrasi

Pemilu bukan semata-mata alat untuk merebut kekuasaan, tetapi sarana demokrasi guna mencapai kesepakatan tentang siapa yang berhak menduduki tampuk kekuasaan. Itu berarti keikhlasan untuk memberi dukungan bersama kepada presiden terpilih selama jangka waktu lima tahun ke depan, tidak hanya dari pendukung yang memilih si pemenang, tetapi juga dari seluruh unsur bangsa (termasuk mereka yang tidak memilihnya).

Sikap ini tentu harus timbal balik. Kewajiban presiden adalah bagi ”segenap bangsa Indonesia”, bukan untuk partai, pendukung, atau pemilihnya. Pemilu adalah tindakan komunikasi yang harus berlangsung tulus, murni, dan jernih agar semua orang memilih dari lubuk hatinya sendiri, dan karena itu akan menerima hasil akhir dengan ikhlas.

Bagaimana wajah demokrasi RI dengan Pilkada/Pilpres kita ini?

Proses komunikasi tulus itu kini bergalau diacak-acak komunikasi politik yang amat intensif. Komunikasi politik tidak salah sebagai upaya kontestan mencari dukungan untuk menang.

Berbagai kiat dan taktik komunikasi politik yang terjadi (manipulasi data, miskomunikasi, distorsi, penyesatan makna, inkonsistensi, kampanye hitam, dan lainnya) biasanya ditolerir selama tidak terlalu jauh melanggar etika.

Misalnya, iklan mewah yang memplagiat iklan makanan yang amat populer tidak banyak ditanggapi meski sekaligus melanggar etika periklanan, HAKI, dan isi media. Mungkin dianggap tidak persuasif, bahkan kontraproduktif, justru menimbulkan wasangka ihwal hubungan sang tokoh dengan produsen.

Namun, komunikasi politik perlu hati-hati dijalankan agar dinamika kampanye jangan sampai berbalik, mengancam keberlanjutan demokrasi dan pemilu Indonesia masa depan. Bahaya itu nyaris bergulir mendekati titik kritis menjelang pilpres saat ini karena sikap penyelenggara yang kurang profesional mengurangi kemurnian pemilu.

Masalah DPT

Besarnya jumlah warga negara yang tidak mendapat kesempatan memilih pada pemilu caleg karena tidak dimasukkan dalam DPT, ditambah adanya daftar ganda, merupakan kesalahan yang amat merusak wajah demokrasi kita. Lebih tragis lagi adalah bahwa soal itu dikesampingkan sebagai ”kesalahan teknis” , tidak segera diselesaikan, bahkan dapat terulang pada pilpres. Ini mengabaikan sendi paling pokok pemilu (hak asasi) dan melecehkan prinsip demokrasi.

Hal lain yang mulai patut diperhatikan adalah maraknya penggunaan penelitian, kajian dan survei kuantitatif, dalam komunikasi/kampanye politik. Sepintas, hal ini mengesankan, pemilu di Indonesia sudah kian maju, makin ilmiah. Namun, jika ditelaah lebih mendalam, studi seperti itu juga perlu dipertanyakan lebih kritis.

Hitung cepat

Hitung cepat (quick count) pemilihan caleg, misalnya, disajikan seolah merupakan hasil suara untuk kemenangan partai dan calon presiden tertentu (saat itu belum mungkin menjadi calon). Angka diolah ke dalam konteks nasional, dengan mengabaikan perbedaan bobot suara antara berbagai daerah pemilihan (dapil); lalu disajikan TV secara licin dengan mengabaikan perbedaan sistem pemilu dan siapa yang sebenarnya dipilih waktu itu. Ini adalah teknik persuasi yang menyesatkan untuk membangkitkan groupthink atau pengaruh bandwagon guna mendukung pencalonan pilpres jauh hari.

Aneka survei pemilih yang tidak jelas keilmiahannya dipakai untuk kampanye. Juga polling SMS yang rentan dimanipulasi, yang melupakan bahwa pilpres bukan memilih American Idol. Terlebih lagi penggunaan focus discussion group (FGD) yang dijadikan bukti seolah rakyat menghendaki pemilihan satu putaran (Kompas, 27/6).

Berbagai hal itu mengusik pikiran tentang kualitas Pemilu 2009. Apakah semua yang mencontreng kali ini benar-benar yang berhak? Apakah semua yang berhak ikut mencontreng, dan adakah mereka benar-benar memilih secara cerdas?

Pikiran ini muncul karena kata ”contreng” dalam Kamus Bahasa merujuk entry ”conteng”. Ini berarti ”memberi tanda” atau ”mencoreng-coreng dengan arang, jelaga, dan sebagainya”, dengan contoh ”menconteng arang di muka” yang berarti ”memberi malu”.

Semoga pemilu ini tidak mencontreng wajah demokrasi Indonesia.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jokowi Digugat soal Ijazah Palsu, Respon Gibran Tak Disangka Seperti Ini

Next Post

Islam dan Spirit Kesetaraan

Redaktur Senior 01

Redaktur Senior 01

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?
News

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Next Post
Islam dan Spirit Kesetaraan

Islam dan Spirit Kesetaraan

Bintang Lesti Tak Seterang Kejora

Kejora dalam Dilema, antara Gugat dan Damai

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist