• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

ISLAMOFOBIA DI INDONESIA, RAKSASA YANG TERSEMBUNYI

fusilat by fusilat
August 9, 2022
in Feature
1
Bagaimana Islamofobia Merusak Kebijakan Luar Negeri India

dok. istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

ISLAMOFOBIA DI INDONESIA, RAKSASA YANG TERSEMBUNYI

By Ari Dharma – Independent writer, Lecturer, Business, Coach, and Consultant.

Perilaku Islamophobia harus dilakukan secara rasional, terlindungi dari subjektifitas dan opini. Seorang peneliti dari University of Leeds, S. Sayyid, menulis sebuah artikel berjudul “A Measure of Islamophobia” yang diterbitkan oleh Islamophobia Research and Documentation Project, Center for Race and Gender, University of California, 2014.

Beberapa bulan terakhir, jagad sosial media diramaikkan oleh perang opini antara buzzer pendukung pemerintah dan oposisi, terkait Islamofobia. Pertempuran yang mengasikkan untuk ditonton, namun mengakibatkan perhatian tersedot oleh silih serang yang terjadi. Identifikasi kemunculan perilaku Islamofobia pun terkesampingkan.

Untuk dapat melakukan identifikasi kemunculan perilaku Islamofobia, perlu disamakan terlebih dahulu pendefinisian Islamofobia. PBB membuat dalil baru Islamophobia sebagai perilaku permusuhan dan ketakutan yang tidak rasional terhadap Muslim. Perilaku yang dipicu oleh fikiran tidak rasional, mengakibatkan subjektif dan sulit diajak berdiskusi untuk mengidentifikasi perilaku Islamofobia.  

Karena itu, identifikasi perilaku Islamophobia harus dilakukan secara rasional, terlindungi dari subjektifitas dan opini. Seorang peneliti dari University of Leeds, S. Sayyid, menulis sebuah artikel berjudul “A Measure of Islamophobia” yang diterbitkan oleh Islamophobia Research and Documentation Project, Center for Race and Gender, University of California, 2014.

Dalam artikel nya, S. Sayyid melakukan pengukuran berdasarkan hasil pengamatan terhadap rangkaian tindakan dan perilaku Islamofobia yang paling umum terjadi, lalu mengelompokkan perilaku tersebut dalam enam kelompok.

Kelompok pertama berupa perundungan atau serangan fisik di area public yang terkadang mematikan, dilakukan oleh individual maupun oleh kelompok yang terorganisir. 

Kelompok kedua berupa perusakan fisik terhadap bangunan yang berkaitan dengan Islam seperti Mesjid, Mushalla, kuburan atau properti yang terkait dengan Muslim.

Kelompok ketiga berupa tindakan intimidasi terhadap individu atau kelompok Muslim dalam bentuk persekusi yang umum nya dilakukan oleh massa dengan jumlah yang besar.

Kelompok keempat berupa perlakuan diskriminatif, label radikal, tudingan prasangka gender, kebijakan pakaian kerja yang menyulitkan Muslim dan lain lain yang terjadi dalam organisasi.

Kelompok kelima berupa upaya sistimatis untuk merendahkan Islam atau Muslim dalam bentuk asumsi yang belum teruji atau opini yang dipublikasikan di internet, media konvensional maupun online serta sosial media.

Kelompok keenam terjadi ditatanan negara dilakukan pejabat atau aparat negara, dapat terjadi secara pasif, secara terselubung melalui pembiaran terhadap perilaku islamofobia yang muncul di masarakat.

Secara aktif adalah pejabat atau aparat negara secara transparan dalam bentuk tindakan represif, memata matai populasi muslim, perlakuan hukum yang berbeda terhadap warga muslim, pembatasan penerapan ajaran Islam seperti busana, tempat ataupun ritual keagamaan.

Walaupun pengamatan dan pengelompokan Sayyid dilakukan di negara Eropa dimana umat Islam merupakan minoritas, karena dalam definisi PBB variabel komposisi populasi tidak tercantum sebagai pemicu Islamofobia, pengelompokan ini tetap relevan untuk diterapkan di Indonesia.

Dengan menerapkan pengelompokan Sayyid, rangkaian serangan terhadap para ustad serta rangkaian perusakan terhadap masjid merupakan perilaku Islamofobia kelompok pertama dan kedua. Intimidasi dan persekusi sekelompok warga terhadap Ustad Tengku Zulkarnain serta Ustad Abdul Somad merupakan perilaku Islamofobia kelompok ketiga.

Penggiringan opini yang dilakukan buzzer di media sosial dengan mengaitkan Islam pada terorisme, kriminalisasi terhadap simbol agama Islam atau ujaran kebencian terhadap agama Islam merupakan perilaku Islamofobia kelompok kelima.

Lambat nya tindak lanjut aparat negara terhadap laporan persekusi yang dialami UAS, laporan warga Tasikmalaya atas ujaran kebencian Denny Siregar, dua laporan penistaan agama yang dilakukan Abu Janda merupakan indikasi perilaku Islamofobia pasif dalam bentuk pembiaran aparat negara terhadap perilaku Islamofobia yang dilakukan para buzzer tersebut.

Pada sisi lain, bila dibandingkan dengan kecepatan dan ketegasan aparat negara saat menangani laporan ujaran kebencian yang dituduhkan pada Ustad Maher, Ustad Baequni, Gus Nur, Ustad Alfian Tanjung dan Habib Bahar bin Smith, perbedaan perlakuan hukum terhadap tokoh Islam menjadi indikasi perilaku Islamofobia aktif dilakukan oleh aparat negara.

Kebijakan pimpinan TNI, Departemen Dalam Negeri dan Departemen Agama yang melarang anggota TNI dan ASN untuk mengenakan Jilbab, cadar, celana cingkrang dan menumbuhkan jenggot menjadi indikasi perilaku Islamofobia aktif pejabat negara dalam membatasi kebebasan berekspresi/aktualisasi warga muslim.

Pernyataan Direktur Pencegahan Densus 88 mengenai kebangkitan Taliban dapat menginspirasi kelompok teroris di Indonesia, Pernyataan Mentri Agama radikalisme masuk melalui anak good looking sampai penghafal Alquran, menjadi pemicu timbulnya opini yang mengaitkan Islam dengan terorisme.

Terlepas dari unsur ketidak sengajaan, secara kontekstual fenomena ini menjadi indikasi perilaku Islamofobia aktif yang dilakukan pejabat negara yang mengakibatkan terfasilitasinya penggiringan opini oleh fihak tertentu yang mengaitkan Islam dengan terorisme.

Dari pengelompokan diatas, ada kemunculan perilaku Islamofobia yang ditampilkan oleh individu warga negara, perilaku yang dapat dilakukan oleh penganut agama yang satu terhadap penganut agama lain nya. Selaras dengan pernyataan Menkopolhukam, tak hanya Islamofobia, perilaku Kristenfobia atau Hindufobia dapat pula terjadi.

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, indikasi perilaku Islamofobia dilakukan oleh negara, melalui pejabat atau aparat negara merupakan fakta yang menakutkan. Yang lebih menakutkan lagi, pejabat negara setingkat Menkopolhukam gagal menenggarai kemunculan perilaku ini.

Sebagai negara dengan bermacam agama, dengan komposi penduduk Islam yang lebih dari 80%, perilaku Islamofobia yang terindikasi dilakukan oleh negara akan semakin memicu intensitas konflik horizontal yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Islamofobia laksana raksasa yang saat ini tersembunyi dalam selimut pertempuran kubu pendukung pemerintah dan oposisi. Cebong dan Kadrun. Rasa permusuhan antara kedua kubu akan menjadi asupan nutrisi yang dibutuhkan, yang tersembunyi ini untuk tumbuh dan berkembang.

Semakin intensnya permusuhan kubu Cebong dan Kadrun menjelang pilpres 2024 akan semakin membakar api permusuhan kedua kubu, maka semakin banyak pula asupan gizi yang didapat oleh raksasa Islamofobia. Cepat atau lambat, raksasa yang tersembunyi tumbuh sedemikian besar sehingga kita tak lagi mampu mencegah nya mengoyak ngoyak persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Presiden sebagai pimpinan tertinggi negeri, kepala negara, menjadi satu satu nya harapan. Otoritas yang beliau miliki dapat mencegah keberulangan indikasi perilaku Islamofobia yang dilakukan oleh pejabat dan aparat negara. Pilihan ada ditangan beliau, bila ingin tercatat dalam sejarah, sebagai pemimpin bangsa yang berhasil mengkerdilkan raksasa Islamofobia, atau tercatat sebagai pemimimpin bangsa yang membiarkan raksasa itu membesar tak terkendali.

Independent writer, Lecturer, Business, Coach & Consultant, 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengapa AS Sering Mencampuri Urusan Domestik Negara Lain?

Next Post

Membantu Sel menjadi Pabrik Protein Dapat Meningkatkan Terapi Gen dan Perawatan Kesehatan

fusilat

fusilat

Related Posts

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Feature

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
Next Post
Tes darah mungkin menunjukkan tanda-tanda awal penyakit Alzheimer

Membantu Sel menjadi Pabrik Protein Dapat Meningkatkan Terapi Gen dan Perawatan Kesehatan

Polri Menetapkan Brigadir Ricky Tersangka Baru Kasus Pembunuhan Brigadir J, Siapa Dia?

Polri Menetapkan Brigadir Ricky Tersangka Baru Kasus Pembunuhan Brigadir J, Siapa Dia?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda
Feature

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

by Karyudi Sutajah Putra
April 22, 2026
0

Jakarta - Jika sebelumnya ada Fadli Zon dan Fahri Hamzah, atau duo F, kini ada Ade Armando dan Abu Janda,...

Read more
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026

Pemikiran Hibrid RA Kartini: Lokal dalam Pengalaman, Universal dalam Gagasan

April 22, 2026
Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi UTBK Inklusif, Siapkan Layanan Ramah Peserta Disabilitas

April 22, 2026
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...