Beirut, Fusilatnews 29 Juni 2025 – Ketegangan di perbatasan selatan Lebanon kembali memanas setelah Israel melancarkan serangkaian serangan udara besar-besaran pada Kamis (27/6). Serangan ini disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak kesepakatan gencatan senjata pada November 2024.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, sedikitnya satu orang tewas dan 11 lainnya luka-luka akibat hantaman rudal yang menghancurkan sebuah bangunan apartemen di kota Nabatieh. Korban tewas adalah seorang perempuan yang baru kembali dari Jerman.
Sementara itu, militer Israel (IDF) menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas bawah tanah milik kelompok Hizbullah, termasuk jaringan terowongan dan tempat penyimpanan senjata yang berada di wilayah pegunungan sekitar Nabatieh dan Beaufort Ridge. IDF menegaskan bahwa target yang dihantam merupakan “infrastruktur militer yang penting dan aktif.”
Namun, pemerintah Lebanon menolak klaim tersebut. Dalam pernyataan resminya, Perdana Menteri Nawaf Salam menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran kedaulatan dan agresi terang-terangan” terhadap warga sipil. Ia menyerukan campur tangan segera dari komunitas internasional guna menghentikan eskalasi yang berisiko menyeret kawasan ke dalam konflik berskala luas.
Menurut laporan dari berbagai media internasional, rentetan ledakan terjadi sejak dini hari hingga pagi, dengan jumlah serangan udara yang dilaporkan mencapai sedikitnya 15 titik sasaran. Guncangan akibat ledakan terasa hingga beberapa kilometer dari lokasi.
Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sebelumnya disepakati pada 27 November 2024 dengan syarat penarikan pasukan Israel dari lima wilayah selatan Lebanon paling lambat pada 18 Februari 2025. Namun hingga kini, pasukan Israel masih menempati beberapa area tersebut dengan dalih sebagai “zona buffer” untuk mencegah serangan lintas batas.
Sejak kesepakatan gencatan senjata, laporan dari pemerintah Lebanon mencatat sedikitnya 172 warga tewas dan lebih dari 400 luka-luka akibat serangan-serangan sporadis Israel. Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya merupakan warga sipil.
Kondisi ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Lebanon yang tengah dilanda krisis ekonomi berkepanjangan. Banyak warga yang terpaksa mengungsi dari wilayah selatan ke daerah yang lebih aman.
Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa, mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan mematuhi ketentuan gencatan senjata. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan akan mereda dalam waktu dekat.


























