Fusilatnews – Ada saatnya bangsa membutuhkan musuh. Bukan untuk membenci, bukan pula untuk membunuh. Tapi untuk menyadari bahwa mereka punya sesuatu yang sama: luka yang diwariskan, luka yang dipelihara, luka yang tak kunjung sembuh. Dan musuh itu barangkali bukan di luar, tapi di antara kita. Ia menyamar dalam dasi, duduk dalam sidang, berjargon tentang pembangunan, dan tetap mencuri dari piring orang miskin.
Koruptor. Tak salah bila kita menjadikannya musuh bersama. Kita butuh musuh untuk bersatu, kata sebagian filsuf. Tapi lebih dari itu, kita butuh sebab untuk bertindak. Dan korupsi memberi kita alasan yang sangat sahih: ia mencuri harapan, merampok waktu, menyabot masa depan.
Dalam sejarah bangsa, terlalu sering kita dikumpulkan oleh musuh yang salah. Komunisme. Separatisme. Asing. Aseng. Tapi tak pernah sungguh-sungguh oleh sebuah kejahatan yang diam-diam lebih dalam merusak: korupsi yang sistemik. Dan barangkali ini yang harus dikerjakan oleh Prabowo. Bukan sekadar membentuk satgas atau pidato lantang di podium, tapi menyalakan rasa jijik kolektif terhadap korupsi seperti Soekarno dulu membangkitkan kebencian terhadap kolonialisme.
Energi bangsa bisa terkumpul saat ada satu titik api yang disepakati. Bayangkan jika kita sepakat bahwa siapa pun yang mencuri uang rakyat adalah pengkhianat kemanusiaan. Bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi perusakan cita-cita republik. Maka di titik itu, kita bisa mulai menyusun langkah: memberantas dengan keberanian, bukan sekadar basa-basi penegakan hukum.
Tapi setelah itu, jangan berhenti pada kemarahan. Jangan hidup dalam dendam terus-menerus. Karena bangsa juga butuh cinta.
Cintailah rakyat dengan memberi mereka jaminan atas kesejahteraan. Mulailah dari yang paling sederhana: makan yang cukup, harga yang wajar, penghasilan yang memadai. Ketahanan pangan bukan sekadar soal gudang beras, tapi tentang keadilan dalam akses dan distribusi. Ia menyentuh inti dari martabat manusia: bahwa lapar itu bukan takdir, melainkan kelalaian negara.
Selanjutnya, letakkan dasar ekonomi yang bertumpu pada penciptaan nilai tambah. Bangunlah industri yang tak hanya memproduksi, tapi menciptakan. Bangsa yang besar bukan yang menjual bahan mentah, tapi yang mampu mengolah ide menjadi inovasi. Teknologi tinggi bukan mimpi bila pendidikan menjadi landasannya. Dan pendidikan tak akan tumbuh di tanah yang gersang oleh ketimpangan.
Maka pendidikan dan kesehatan bukan sekadar program kementerian. Ia adalah wujud dari kasih negara kepada warganya. Anak-anak harus tumbuh cerdas tanpa takut besok tak bisa makan. Ibu-ibu harus melahirkan tanpa cemas kehilangan nyawa karena rumah sakit penuh dan biaya mahal.
Semua ini bukan utopia. Tapi ia butuh keberanian. Bukan keberanian untuk berperang, tapi keberanian untuk memilih yang paling sulit: membela rakyat yang tak bersuara. Dan keberanian itu harus dimulai dari satu hal: memilih musuh yang tepat.
Jika Prabowo sungguh mau dikenang, bukan sebagai jenderal, bukan pula sebagai politisi tua yang terlambat naik ke puncak, maka ia harus memulai dengan satu keputusan paling penting: membangun konsensus nasional bahwa musuh kita adalah mereka yang mengkhianati rakyat dari dalam sistem. Dan dari situ, membangun peradaban yang tidak hanya kuat, tapi juga adil.
Karena sejarah hanya mengingat mereka yang bukan sekadar menang, tapi yang tahu apa yang harus diperangi.


























