Fusilatneqws – Ada satu waktu dalam hidup kita ketika kata-kata orang lain terasa seperti gema dari hati sendiri. Barangkali itulah yang saya rasakan ketika mendengar Prof. Connie berbicara. Bukan karena beliau dosen, bukan karena jabatannya, bukan pula karena analisis geopolitiknya yang biasa berkelindan antara Laut China Selatan dan reruntuhan Gaza. Tetapi karena ia bicara dari luka, bukan sekadar dari buku.
Ia tidak sedang membicarakan Amerika. Tidak juga Israel. Ia bicara tentang Indonesia. Tentang kita. Tentang bagaimana negeri ini kerap dijebak dalam kecanggungan berpikir dan ketidaksiapan bertindak. Ia bicara dalam irama yang tidak populer di ruang-ruang siaran: tentang ancaman, risiko, dan kekacauan sistem yang dibungkus dalam upacara harian kenegaraan yang tampak rapi—tapi kosong.

Saya baru mengerti maksudnya. Ketika ia berkata, “Di sinilagi kita tidak membahas Amerika dan Israel,” ia sebetulnya sedang mengingatkan: kita terlalu sering melarikan diri dari pertempuran kita sendiri. Kita lebih fasih mengutuk yang jauh, dibanding menggugat yang dekat. Karena menggugat yang dekat, seperti menegur cermin: menyakitkan.
Lalu datang suara lain, kali ini dari seorang Letnan Jenderal Purnawirawan, Suharto, dengan suara parau, tidak dibuat-buat, tanpa kehormatan seremonial, tapi justru karena itu—terasa tulus. Ia berbicara dalam forum, bukan sebagai politisi, bukan sebagai pemuja kekuasaan, tapi sebagai seseorang yang merasa dikhianati oleh sejarah yang pernah ia bela. Ia bicara tentang poin ke-8. Tentang pemakzulan. Tentang seorang wakil presiden bernama Gibran yang menurutnya “tidak untuk itu.” Ada nada amarah yang rapuh, ada rasa cinta yang kecewa.
Dan dalam tutur katanya yang melompat-lompat, kadang sulit diikuti, saya mendengar sesuatu yang jauh lebih jernih daripada pidato kenegaraan: bahwa ada prajurit tua yang tidak ingin bangsanya ditipu oleh kemasan. Ia ingin Prabowo bertahan, katanya. Tapi bukan dengan Gibran. Bukan dengan keanehan sistem yang memungkinkan seorang anak Presiden mendadak meloncat ke podium tertinggi, tanpa peluh dan jerih.
Dia berkata, “Saya ikut mendirikan Gerindra, saya bawa 26 Pati dan Kolonel.” Ia tidak sedang menyombongkan diri. Ia sedang membela cerita hidupnya yang hendak dirampas oleh generasi selfie yang terlalu cepat merasa pahlawan hanya karena disorot kamera.
Kita tidak sedang membahas politik, sesungguhnya. Kita sedang membahas nurani. Tentang betapa sepinya ruang publik dari orang-orang yang mau jujur. Tentang betapa mahalnya keberanian untuk berkata “tidak,” bahkan kepada penguasa yang dulu kita dukung.
Ada ironi yang mencolok: Seorang jenderal tua memegang resume tentang “kesalahan pengangkatan,” sementara gedung-gedung tinggi di Jakarta bicara tentang pembangunan, investasi, dan legacy. Tapi sejarah tidak dibangun dari legacy. Sejarah dibangun dari keberanian menyebut salah sebagai salah.
Di ujung pidatonya yang ganjil itu, saya tidak menangkap semua kata. Tapi saya menangkap maksudnya. Ia berbicara sebagai orang yang tahu, bahwa republik ini bisa dibawa entah ke mana, jika semua orang hanya diam. Dan dalam diam kita yang panjang, bisa jadi nanti kita menyadari: satu-satunya yang kita wariskan bukanlah kejayaan, tetapi kepalsuan yang diwariskan turun-temurun.
Dan saat itulah, sejarah akan bertanya: siapa yang bicara saat semua orang memilih untuk bungkam?


























