By Gate 25 Medina
Selalu ada yang mengendap dalam kata “kekuasaan.” Di Barat, ia sering disamakan dengan naga. Atau setidaknya, dengan kontrak darah. Filsuf-filsufnya seperti Thomas Hobbes tak segan menggambarkan manusia sebagai serigala bagi sesamanya—homo homini lupus. Dan penguasa, ya penguasa itu harus lebih mengerikan dari serigala, agar bisa menjaga keteraturan dari gerombolan liar yang disebut masyarakat.
Mengapa mereka cenderung ke sana—ke kelam? Mungkin karena sejarah mereka menggoreskan ingatan kolektif tentang kekuasaan yang brutal: Julius Caesar yang ditikam kawan-kawannya sendiri, Napoleon yang memelihara perang demi kejayaan pribadi, Hitler yang menggiring umat manusia ke dalam horor. Filsafat mereka lahir dari puing-puing Eropa yang sering kali berkubang darah. Mungkin karena itulah, dalam tulisan para pemikirnya, kekuasaan selalu berdarah—selalu mengintimidasi lebih dulu sebelum menata.
Tak heran jika Machiavelli menulis Il Principe—sebuah manual bagi pemimpin untuk memanipulasi, mengelabui, dan jika perlu, menyingkirkan musuh. Bukan untuk kebajikan, tapi demi kelanggengan kekuasaan. John Locke, yang lebih lembut, tetap menyisipkan prinsip “revolusi” jika kekuasaan melanggar kontrak sosial. Artinya: jika perlu, kita boleh memberontak. Karena kekuasaan—di Barat—selalu berangkat dari curiga.
Namun, satu yang patut dicatat: ada perubahan. Entah sejak pasca-Holocaust, atau setelah bumi mulai demam karena industrialisasi mereka sendiri, Barat kini berbalik arah. Mereka bicara tentang hak asasi manusia. Tentang emisi karbon. Tentang minoritas. Tentang pengakuan terhadap identitas. Terlalu peduli, kadang sampai terlampau: overcare.
Ironisnya, mereka yang dulu berdiri dengan pedang kini menciptakan ruang-ruang sunyi untuk gender, kulit, dan flora. Dan kita—yang dari Timur—dulu memulai dengan Kitabullah. Dengan ajaran yang sejak mula menyapa bukan hanya manusia, tapi semesta. Bukankah Al-Ghazali menulis tentang harmoni? Bukankah Ibnu Sina menyelaraskan ilmu dan ruh? Bukankah Muhammad Abduh memimpikan sebuah masyarakat tercerahkan yang adil bagi semua?
Para filsuf Timur sejak awal menempatkan pemimpin bukan sebagai predator, tapi sebagai pemelihara. Yang adil bukan karena takut pemberontakan, tapi karena takut kepada Allah. Yang mendidik bukan karena ingin dicintai, tapi karena takut meninggalkan umat dalam kesesatan.
Namun kini, Timur seperti kehilangan cahaya kompasnya. Kita menoleh ke Barat. Membaca Machiavelli dengan kekaguman palsu. Menyambut sekularisme dengan gelak tawa elit yang merasa modern. Padahal, yang kita serap justru bagian yang paling dangkal: hedonisme, teori menang-kalah, dan euforia sesaat. Kita lupa: Barat sedang keluar dari lubang yang dulu menggoda mereka. Kita justru sedang melangkah ke dalamnya.
Lalu, kita buat dunia ini absurd. Pemimpin kita bicara musyawarah, tapi menutup mulut lawan bicara. Menyebut “faktor pemaaf” tanpa mengakui salah. Menyebut “hikmah” dalam pembunuhan karakter. Dan bangkai para korban tak pernah ditemukan—karena sejarah kita ditulis oleh para pemenang yang takut pada cermin.
Mungkin, yang kita butuhkan bukan kembali ke Timur atau meniru Barat. Tapi kembali ke awal: ke kesadaran bahwa kekuasaan bukan untuk menguasai, tapi untuk melayani. Bukan untuk membesarkan ego, tapi untuk merawat bumi dan isinya. Bukan untuk dikenang karena bangunan dan pesta, tapi karena keadilan dan kasih sayang—yang tidak pernah dikalahkan waktu.
Kita tak butuh penguasa. Kita butuh pemelihara.
Ingin saya akhiri dengan satu bisikan:
Yang benar selalu sunyi.
Tapi sunyi tak selalu berarti kalah.


























