• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

Mengapa Filsuf Barat Sering Menuliskan Kekuasaan yang Biadab?

Damai Hari Lubis - Mujahid 212 by Damai Hari Lubis - Mujahid 212
June 29, 2025
in Cross Cultural, Feature
0
Mengapa Filsuf Barat Sering Menuliskan Kekuasaan yang Biadab?
Share on FacebookShare on Twitter

By Gate 25 Medina 

Selalu ada yang mengendap dalam kata “kekuasaan.” Di Barat, ia sering disamakan dengan naga. Atau setidaknya, dengan kontrak darah. Filsuf-filsufnya seperti Thomas Hobbes tak segan menggambarkan manusia sebagai serigala bagi sesamanya—homo homini lupus. Dan penguasa, ya penguasa itu harus lebih mengerikan dari serigala, agar bisa menjaga keteraturan dari gerombolan liar yang disebut masyarakat.

Mengapa mereka cenderung ke sana—ke kelam? Mungkin karena sejarah mereka menggoreskan ingatan kolektif tentang kekuasaan yang brutal: Julius Caesar yang ditikam kawan-kawannya sendiri, Napoleon yang memelihara perang demi kejayaan pribadi, Hitler yang menggiring umat manusia ke dalam horor. Filsafat mereka lahir dari puing-puing Eropa yang sering kali berkubang darah. Mungkin karena itulah, dalam tulisan para pemikirnya, kekuasaan selalu berdarah—selalu mengintimidasi lebih dulu sebelum menata.

Tak heran jika Machiavelli menulis Il Principe—sebuah manual bagi pemimpin untuk memanipulasi, mengelabui, dan jika perlu, menyingkirkan musuh. Bukan untuk kebajikan, tapi demi kelanggengan kekuasaan. John Locke, yang lebih lembut, tetap menyisipkan prinsip “revolusi” jika kekuasaan melanggar kontrak sosial. Artinya: jika perlu, kita boleh memberontak. Karena kekuasaan—di Barat—selalu berangkat dari curiga.

Namun, satu yang patut dicatat: ada perubahan. Entah sejak pasca-Holocaust, atau setelah bumi mulai demam karena industrialisasi mereka sendiri, Barat kini berbalik arah. Mereka bicara tentang hak asasi manusia. Tentang emisi karbon. Tentang minoritas. Tentang pengakuan terhadap identitas. Terlalu peduli, kadang sampai terlampau: overcare.

Ironisnya, mereka yang dulu berdiri dengan pedang kini menciptakan ruang-ruang sunyi untuk gender, kulit, dan flora. Dan kita—yang dari Timur—dulu memulai dengan Kitabullah. Dengan ajaran yang sejak mula menyapa bukan hanya manusia, tapi semesta. Bukankah Al-Ghazali menulis tentang harmoni? Bukankah Ibnu Sina menyelaraskan ilmu dan ruh? Bukankah Muhammad Abduh memimpikan sebuah masyarakat tercerahkan yang adil bagi semua?

Para filsuf Timur sejak awal menempatkan pemimpin bukan sebagai predator, tapi sebagai pemelihara. Yang adil bukan karena takut pemberontakan, tapi karena takut kepada Allah. Yang mendidik bukan karena ingin dicintai, tapi karena takut meninggalkan umat dalam kesesatan.

Namun kini, Timur seperti kehilangan cahaya kompasnya. Kita menoleh ke Barat. Membaca Machiavelli dengan kekaguman palsu. Menyambut sekularisme dengan gelak tawa elit yang merasa modern. Padahal, yang kita serap justru bagian yang paling dangkal: hedonisme, teori menang-kalah, dan euforia sesaat. Kita lupa: Barat sedang keluar dari lubang yang dulu menggoda mereka. Kita justru sedang melangkah ke dalamnya.

Lalu, kita buat dunia ini absurd. Pemimpin kita bicara musyawarah, tapi menutup mulut lawan bicara. Menyebut “faktor pemaaf” tanpa mengakui salah. Menyebut “hikmah” dalam pembunuhan karakter. Dan bangkai para korban tak pernah ditemukan—karena sejarah kita ditulis oleh para pemenang yang takut pada cermin.

Mungkin, yang kita butuhkan bukan kembali ke Timur atau meniru Barat. Tapi kembali ke awal: ke kesadaran bahwa kekuasaan bukan untuk menguasai, tapi untuk melayani. Bukan untuk membesarkan ego, tapi untuk merawat bumi dan isinya. Bukan untuk dikenang karena bangunan dan pesta, tapi karena keadilan dan kasih sayang—yang tidak pernah dikalahkan waktu.

Kita tak butuh penguasa. Kita butuh pemelihara.


Ingin saya akhiri dengan satu bisikan:
Yang benar selalu sunyi.
Tapi sunyi tak selalu berarti kalah.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

21 Tahun Kekuasaan Tanpa Jejak: Beathor Desak Jokowi Minta Maaf dan Gibran Mundur

Next Post

Ketika Sejarah Diceritakan oleh yang Terluka; “Makzulkan Gibran”

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Related Posts

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Deang Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru
News

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Deang Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?
Feature

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara
Feature

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Next Post
Ketika Sejarah Diceritakan oleh yang Terluka; “Makzulkan Gibran”

Ketika Sejarah Diceritakan oleh yang Terluka; "Makzulkan Gibran"

Wahai KPK – Kemana Firli Bahuri? “Mimpi Buruk Yang Kita Tabuh Sendiri”

Membangun Musuh Bersama "KORUPTOR" Penyebab Untuk Bertindak

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Deang Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Deang Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

June 3, 2026
Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

June 3, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

June 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Deang Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Deang Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist