Fusilatnews – Kebon Bawang, Jakarta Utara — Debu tipis berputar di udara setiap kali bucket ekskavator menghantam tumpukan puing. Suaranya berat, konstan, seperti napas panjang yang menandai akhir sebuah bangunan yang pernah menyimpan banyak cerita tentang pemiliknya: Ahmad Sahroni, anggota DPR nonaktif yang rumahnya sempat dijarah massa pada akhir Agustus 2025.
Pagi itu, Jumat (14/11/2025), dua ekskavator kuning berayun perlahan di atas bidang tanah yang sudah tak lagi menyerupai sebuah rumah. Yang tersisa hanyalah serpihan: kayu patah, pecahan besi memanjang, batu-batu fondasi, dan potongan pipa paralon yang dulu tersembunyi di balik dinding. Semuanya kini terbuka, basah oleh tetesan air dari selang para pekerja yang berusaha menekan debu agar tidak mengganggu warga sekitar.
Di ujung Jalan Swasembada Timur XXII, sekelompok pekerja datang bergiliran membawa tumpukan batu bata putih di bahu mereka. Beberapa di antara mereka mengenakan kaus biru dengan nama Ahmad Sahroni tercetak besar di punggung—seperti penanda bahwa pembongkaran ini bukan sekadar kerja kasar, melainkan sebuah penuntasan dari episode panjang yang bermula dari penjarahan brutal tiga bulan lalu.
“Awas mobil mau masuk. Parkir paralel saja,” teriak seorang pekerja, tangannya memberi isyarat kepada empat truk yang merayap masuk. Truk-truk itu menunggu giliran, sabar seperti antrean panjang di sebuah ritus pembersihan yang tak terburu-buru.
Di depan lahan, potongan besi, kayu, dan tabung-tabung oksigen disusun rapi. Ada ketenangan mekanis dalam cara para pekerja memilah, menata, dan mengangkut. Tidak ada tergesa. Tidak ada keributan. Seolah mereka tahu bahwa yang sedang mereka kerjakan bukan sekadar membongkar rumah, tapi menutup sebuah bab yang telah terlanjur terbuka terlalu lebar.
“Mulai tanggal 10,” ujar Abdullah, salah seorang pekerja, ketika ditanya sejak kapan pembongkaran dilakukan. Ia menyebutnya tanpa ekspresi berlebih—seakan tanggal itu hanya salah satu angka di kalender, bukan awal dari penghilangan wujud fisik sebuah tempat yang pernah mencuri perhatian publik.
Rumah itu sebelumnya menyita energi banyak orang setelah penjarahan massal di akhir Agustus. Dinding-dindingnya jebol, barang-barang hilang, dan halaman depannya dipenuhi jejak amarah yang tak sempat diredam. Kini, tak ada lagi sisa struktur yang mengingatkan pada peristiwa itu. Yang ada hanya tanah yang pelan-pelan diratakan, lapang dan sunyi.
Belum jelas untuk apa lahan itu kelak. Tidak ada papan proyek, tidak ada keterangan resmi dari Sahroni ataupun pihak mana pun. Hanya ritme ekskavator yang tak kenal lelah dan para pekerja yang bergerak seperti mengikuti komando yang tak terdengar.
Di antara debu yang meredup dan suara besi yang saling bergesek, satu hal tampak pasti: rumah itu, dengan segala kisah yang menempelnya, telah benar-benar berhenti menjadi rumah. Yang tersisa hanyalah tanah—dan ingatan tentang sebuah peristiwa yang terlalu keras untuk dilupakan begitu saja.


























