Di Tokyo, seorang lelaki tua berusia 78 tahun menyambut pagi dengan mengenakan seragam biru langit. Ia bukan penjaga keamanan. Ia adalah penyambut tamu di sebuah hotel kecil di Ueno, dengan sapaan yang tak lekang oleh waktu. Ia bekerja bukan karena terpaksa. Ia bekerja karena masih ingin merasa berarti.
Di negeri itu—Jepang—usia tak selalu berarti pensiun. Senja bukanlah perpisahan dari dunia kerja, melainkan kelanjutan dari dialog manusia dengan kehidupannya. Negara, dengan segala kebijakan dan teknokrasi dinginnya, justru memberi ruang hangat bagi mereka yang tubuhnya mulai renta, tapi pikirannya tetap menyala. Ada expo untuk para lansia yang mencari pekerjaan. Ada lowongan terbuka bagi usia 70 tahun ke atas. Ada apresiasi terhadap pengalaman yang tak dibunuh oleh kalender usia.
Bandingkan dengan Indonesia.
Di sini, usia pensiun adalah kalimat akhir yang ditulis dengan paksa. Lansia dicetak sebagai beban, bukan sebagai potensi. Negara seperti tak punya imajinasi tentang bagaimana tubuh-tubuh renta itu masih ingin berjalan, bukan sekadar duduk. Tak ada expo pekerjaan untuk lansia. Yang ada justru stigma: bahwa jika kau tua, sebaiknya diam saja di rumah dan tunggu waktu.
Apa yang membedakan Jepang dan Indonesia bukanlah soal teknologi, bukan pula semata soal ekonomi. Barangkali ini tentang cara sebuah bangsa memahami waktu—bahwa umur bukan garis selesai, melainkan jeda untuk melanjutkan makna. Jepang, dalam sunyinya, seperti paham bahwa manusia tak hidup hanya untuk produktivitas, tapi juga untuk kehadiran.
Indonesia terlalu cepat menyerah pada angka. Seorang karyawan 60 tahun dianggap usang. Padahal, justru dari merekalah kita bisa belajar ketekunan, kedisiplinan, dan barangkali—kesabaran yang tak bisa dicetak oleh seminar motivasi manapun.
Goethe pernah berkata: age merely shows us what we are. Usia bukan penghalang, tapi cermin. Dan di cermin itu, Jepang melihat martabat. Indonesia, sayangnya, masih melihat ketakutan: takut tak efisien, takut tak kompetitif, takut dianggap tak muda.
Mungkin kita perlu belajar dari negeri matahari terbit itu: bahwa tak ada salahnya memberi ruang pada mereka yang senjanya belum selesai. Karena yang sesungguhnya tua adalah bangsa yang kehilangan rasa hormat pada pengalaman. Dan bangsa yang takut pada masa tuanya sendiri, adalah bangsa yang diam-diam tak siap menyambut masa depannya.
“Apa gunanya hidup lama, bila tak diberi kesempatan untuk tetap hidup?”
(Catatan Pinggir, yang tak pernah ditulis)
























