Oleh @irahidis – Pengamat Kolang-Kaleng
Rizal Fadilah, sosok yang penulis kenal sebagai rekan seperjuangan dalam Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), kini tengah menjerit—bukan karena lemah, apalagi cengeng. Jeritannya adalah bentuk kegelisahan seorang anak bangsa yang mencoba bertahan di tengah badai kemunafikan dan permainan kuasa.
Tanpa surat keputusan resmi dari Ketua Umum TPUA, Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, SH, M.Si, Rizal tetap melangkah. Dengan mandat lisan sebagai Wakil Ketua Umum TPUA sekaligus Koordinator Pemberangkatan, ia bergerak pada medio April 2025 menuju Yogyakarta. Tujuannya: klarifikasi dan investigasi atas dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi dari Fakultas Kehutanan UGM. Tak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi ajang halal bihalal dan ziarah moral—”go straight to the place”, langsung ke titik sejarah yang kini mulai dikaburkan oleh para “bandit masa depan”.
Rizal bergerak bukan sekadar karena hak politik dan hukumnya sebagai WNI, melainkan karena panggilan nurani untuk menegakkan peran serta masyarakat dalam menjaga konstitusi dan moralitas bangsa. Namun tragis, perjuangan itu kini berbalik menyeretnya ke ambang status tersangka. Sebuah ironi: pejuang keadilan terancam kriminalisasi oleh mereka yang justru mestinya diadili.
Jeritan Rizal bukan jeritan biasa. Ia bukan seperti partainya dahulu—PPP—yang kini terseok dan kehilangan arah, mencoba bangkit tapi tetap keliru jalan. PPP menjerit demi mengenyangkan segelintir perut, sementara Rizal menjerit demi membangunkan kesadaran kolektif bangsa.
Ia menyeru kepada para penjaga akal sehat dan moral publik: para ulama, tokoh TNI, pengamat budaya, dan para penegak keadilan sejati. Ia berharap pada mereka yang masih tersisa integritasnya: Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja sekaligus pemimpin budaya; Jenderal (Purn) Try Sutrisno sebagai simbol ketegasan militer; Habib Rizieq sebagai ikon perlawanan umat; dan Jusuf Kalla sebagai negarawan senior yang pernah mencicipi pahit-manisnya kekuasaan.
Namun di balik semuanya, Rizal sejatinya sedang mengadu pada satu sosok: Presiden Republik Indonesia. Sosok dengan kekuatan satu jari—yang bisa menenangkan atau menghancurkan negeri. Jika jeritan ini tak didengar, maka Rizal, sang penggugat kebenaran, akan bernasib sebagai terhukum oleh sistem yang anti-kebenaran.
Kepada Rizal, sebagai sahabat lahir dan batin, penulis hanya bisa berkata: jika semua jeritanmu tak jua menggema, dan sistem ini terus menggilas nurani, silakan saja Kang, jika engkau ingin menyerah, ikut arus kerusakan moral mayoritas. Mungkin memang demikian jalan menuju “sukses besar revolusi kerusakan mental” itu. Jika kau nyebur, biar aku menyusul. Biar kita senasib, sepenanggungan, bersama anak cucu bangsa yang dikhianati oleh sejarahnya sendiri.
Sebelum engkau berenang menuju seberang harapan yang entah ada atau tidak, sudahi senandung idealisme Alfred Simanjuntak “Bangun Pemudi Pemuda”—karena mereka kini justru lelap dalam mimpi Orkes Melayu dan lagu-lagu lawas Oma Irama.
Sok atuh, Kang. Abdi oge siap nyemplung. Sabodo teuing. Pan sakabéh ge anu penting teh, niat… nya kitu?

























