Yang paling khawatir, mungkin justru ia sendiri. Jokowi. Bersama keluarganya.
Bukan karena massa yang amok itu terlalu liar, tak terkendali, melainkan karena ia tahu: setiap teriakan, setiap kepalan tangan, bisa menjadi gema dari sesuatu yang ia simpan lama—seperti debu yang akhirnya menuntut udara untuk menyingkapkannya.
Ia tahu betul. Ada kesalahan yang pernah dibuat. Ada kebohongan yang pernah, bahkan berulang kali, terucap—dan tak bisa lagi ditarik kembali. Kata, seperti peluru, selalu mencari sasarannya. Dan yang lebih mengganggu dari semua itu: ada niat jahat—mens rea—yang pernah ia letakkan di dalam strategi politiknya. Menghancurkan lawan, merendahkan yang berseberangan, menjadikan kekuasaan sebagai pagar tinggi yang harus terus dijaga.
Kini, pagar itu retak. Rakyat, yang dahulu bisa diyakinkan dengan citra sederhana seorang pemimpin yang merakyat, mulai meraba-raba kebenaran yang lain: bahwa kesederhanaan bisa menjadi topeng, bahwa merakyat bisa berarti manipulasi. Amok massa hanyalah permukaan—di baliknya ada ingatan yang sulit dipadamkan.
Mungkin inilah yang menakutkan: ingatan rakyat. Ia tidak hilang. Ia hanya menunggu saatnya. Seperti bara di bawah abu. Dan ketika ia menyala, ia bukan hanya menyoal satu kebijakan yang gagal, atau satu keputusan yang keliru. Ia menyoal sesuatu yang lebih dalam: rasa dikhianati.
Bagi seorang penguasa, itu adalah vonis yang paling berat. Lebih berat dari proses hukum, lebih sunyi dari ruang pengadilan. Karena ia hadir di jalan, di bisik-bisik warung kopi, di tatapan curiga.
Dan mungkin Jokowi tahu, semua itu tidak akan berhenti di masa jabatannya. Karena kesalahan, kebohongan, dan niat jahat tidak mengenal akhir masa bakti. Ia akan terus digugat, bahkan setelah kekuasaan formal dilepaskan. Yang abadi bukanlah istana, melainkan ingatan rakyat—dan itulah yang kini membuatnya risau.


























