Oleh Nafisa Eltahir dan El Tayeb Siddig
CAIRO/OMDURMAN, Sudan, 14 November (Reuters) – Lebih dari 61.000 orang diperkirakan tewas di negara bagian Khartoum selama 14 bulan pertama konflik Sudan, dengan bukti yang menunjukkan bahwa angka tersebut jauh lebih tinggi daripada yang tercatat sebelumnya. Demikian menurut laporan baru dari para peneliti di Inggris dan Sudan.
Dalam studi pra-publikasi oleh Sudan Research Group dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, yang dirilis pada Rabu sebelum melalui proses tinjauan sejawat, para peneliti menyebutkan bahwa kelaparan dan penyakit menjadi penyebab kematian yang semakin dominan di seluruh Sudan. Estimasi kematian di Khartoum dilaporkan 50% lebih tinggi dari rata-rata nasional sebelum konflik antara tentara Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) pecah pada April 2023.
PBB menyebut konflik ini telah memaksa 11 juta orang mengungsi dan menciptakan krisis kelaparan terbesar di dunia, dengan hampir 25 juta orang – setengah dari populasi Sudan – memerlukan bantuan kemanusiaan. Namun, pencatatan kematian sulit dilakukan karena warga terputus dari akses layanan seperti rumah sakit, kamar mayat, dan pemakaman akibat intensitas pertempuran dan gangguan jaringan komunikasi.
Studi ini menggunakan teknik “capture-recapture,” yang biasanya digunakan dalam penelitian ekologi untuk memperkirakan jumlah populasi yang sulit dihitung secara langsung. Melalui tiga sumber data yang dikumpulkan dari survei publik, jaringan aktivis, dan obituari di media sosial, para peneliti menyimpulkan bahwa banyak kematian tidak terhitung.
Data dari tiga daftar kematian yang mereka susun menunjukkan hanya 5% dari perkiraan total kematian di Khartoum yang tercatat. Perkiraan kematian akibat kekerasan di negara bagian ini pun melebihi 20.178 kematian yang tercatat di seluruh Sudan dalam periode yang sama oleh Proyek Data Lokasi & Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED).
Seorang pejabat dari Asosiasi Dokter Sudan-Amerika mengatakan bahwa temuan studi ini kredibel, bahkan jumlah kematian mungkin lebih tinggi lagi karena malnutrisi yang memperparah kerentanan terhadap infeksi. Para peneliti mengakui keterbatasan metode ini, termasuk asumsi bahwa setiap kematian memiliki peluang yang sama untuk tercatat. Namun, para ahli menilai upaya ini sebagai langkah penting untuk meningkatkan perhatian terhadap konflik mengerikan yang sedang terjadi di Sudan.
Seiring terus berlanjutnya konflik yang bermula dari perebutan kekuasaan antara angkatan bersenjata Sudan dan RSF, korban jiwa akibat kelaparan, penyakit, dan hancurnya layanan kesehatan semakin meningkat. Rumah Sakit Al-Shuhada di Bahri, misalnya, mengalami lonjakan kasus malnutrisi dan penyakit seperti malaria, kolera, dan demam berdarah.
Reuters
























